Jepang Bantah Ganggu Latihan Kapal Induk China di Pasifik
Pemerintah Jepang membantah tuduhan China yang menyebut militer Negeri Sakura melakukan gangguan terhadap kelompok tempur kapal induk Liaoning selama latihan militer di kawasan Pasifik.
Sebelumnya, Angkatan Laut China menuduh kapal dan pesawat Jepang berulang kali melakukan pelacakan jarak dekat, pengawasan, hingga tindakan yang dianggap sebagai provokasi selama latihan tempur yang berlangsung selama 40 hari.
China menyatakan formasi yang dipimpin kapal induk Liaoning beroperasi di sejumlah wilayah, termasuk Laut China Selatan dan Pasifik Barat, dalam serangkaian latihan ofensif dan defensif yang dilakukan siang dan malam.
Menurut Angkatan Laut China, latihan tersebut melibatkan berbagai kapal perang dan pesawat tempur untuk menguji kemampuan operasional di perairan jauh.
“Formasi Liaoning mempertahankan keadaan siaga tinggi sepanjang waktu, meluncurkan pesawat berbasis kapal induk untuk serangan tempur dan terus menanggapi tindakan berbahaya dari pihak Jepang,” tulis Angkatan Laut China melalui akun WeChat resminya.
Baca Juga: Peluang Damai Ukraina Dibuka Putin, Ada Syarat Khusus
Jepang Tegaskan Hanya Jalankan Pengawasan
Menanggapi tuduhan tersebut, Staf Gabungan Jepang menyatakan klaim yang disampaikan Beijing tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Kementerian Pertahanan Jepang menegaskan bahwa aktivitas militer yang dilakukan semata-mata bertujuan menjaga kedaulatan dan keamanan negara.
“Kementerian Pertahanan dan Pasukan Bela Diri akan terus mempertahankan sikap tenang dan tegas, memprioritaskan keselamatan di atas segalanya, sambil secara profesional dan tekun melakukan pengawasan dan pemantauan di perairan dan wilayah udara di sekitar Jepang,” kata kementerian tersebut.
“Kami tidak akan menyia-nyiakan upaya apa pun untuk memastikan kedaulatan dan keamanan Jepang,” lanjut pernyataan itu.
Sebelumnya, pada 1 Juni lalu, Staf Gabungan Jepang juga melaporkan bahwa armada China melakukan latihan militer di wilayah timur Filipina pada akhir Mei. Saat itu, militer Jepang disebut melakukan pemantauan dan pengumpulan informasi terhadap aktivitas tersebut.
Ketegangan antara Beijing dan Tokyo dalam beberapa waktu terakhir memang terus meningkat.
Hubungan kedua negara memburuk setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan pada November lalu bahwa Jepang dapat mempertimbangkan intervensi militer apabila China berupaya merebut Taiwan.
Baca Juga: Usai Gempa Besar Venezuela, Maduro Serukan Persatuan
China yang menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya merespons dengan memperingatkan warganya untuk menghindari perjalanan ke Jepang serta memberlakukan sejumlah pembatasan perdagangan.
Di bawah kepemimpinan Takaichi, Jepang juga mempercepat transformasi kebijakan pertahanannya menjadi lebih aktif, seiring meningkatnya kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat dan perubahan dinamika geopolitik di kawasan Asia-Pasifik.
