AS dan Iran Sepakat Menahan Diri Usai Ketegangan di Hormuz
Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan sepakat untuk menahan diri dan menghentikan serangan setelah ketegangan militer kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Kesepakatan tersebut muncul setelah serangkaian insiden di Selat Hormuz yang memicu saling tuding pelanggaran gencatan senjata antara kedua negara.
Seorang pejabat yang dikutip CBS News menyebut kapal-kapal kini dapat kembali melintas melalui jalur pelayaran strategis tersebut tanpa hambatan.
Pejabat itu juga mengatakan pembicaraan yang bertujuan mengakhiri konflik akan terus dilanjutkan.
Sementara itu, hingga kini Iran belum memberikan komentar resmi terkait laporan yang menyebut Teheran telah menyetujui penghentian serangan di kawasan Selat Hormuz.
Baca Juga: Rusia Ditegaskan Putin Tak Akan Mundur di Ukraina, Ini Langkah yang Disiapkan
Ketegangan Meningkat Meski Sudah Ada Kesepakatan
Sebelumnya, pada 17 Juni 2026, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman berisi 14 poin yang mencakup penghentian segera dan permanen operasi militer di seluruh lini.
Dalam kesepakatan tersebut, Iran juga menyatakan akan menggunakan “upaya terbaiknya untuk memastikan jalur aman bagi kapal-kapal komersial tanpa biaya selama 60 hari”.
Namun, gencatan senjata yang belum genap dua pekan itu kembali diuji setelah terjadi sejumlah insiden baru di kawasan Teluk.
Pada Kamis lalu, sebuah proyektil yang disebut berasal dari Iran dilaporkan menghantam kapal kargo di Selat Hormuz.
Serangan itu kemudian dibalas AS melalui serangkaian operasi militer terhadap sejumlah target di Iran.
Komando Pusat AS (Centcom) menyebut langkah tersebut sebagai respons langsung terhadap “agresi berkelanjutan” terhadap pelayaran komersial.
Baca Juga: Jepang Langsung Siaga Tempur, China-Rusia Patroli Udara
Jalur Pelayaran dan Konflik Regional Jadi Sorotan
Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain pada Sabtu.
Meski demikian, AS menyatakan seluruh serangan tersebut tidak mengenai sasaran dan tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia karena menjadi lintasan utama pengiriman minyak dan gas global.
Kawasan itu sempat mengalami gangguan serius setelah meningkatnya konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel dalam beberapa bulan terakhir.
Di tengah upaya meredakan ketegangan dengan Iran, AS juga memediasi penandatanganan kerangka perjanjian antara Israel dan Lebanon yang ditujukan untuk membuka jalan menuju perdamaian jangka panjang.
Namun, kesepakatan tersebut juga menghadapi tantangan setelah kelompok Hizbullah menolak perjanjian itu dan menuduh pemerintah Lebanon mengabaikan kedaulatan negara.
Dua hari setelah penandatanganan, militer Israel mengumumkan telah menyerang sebuah terowongan sepanjang 200 meter di Lebanon selatan yang disebut digunakan Hizbullah untuk menyimpan ratusan senjata.
Menurut pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan Menteri Pertahanan Israel Katz, AS telah diberi informasi sebelum operasi tersebut dilakukan.
