AS Pertimbangkan Bom MOAB untuk Serang Fasilitas Nuklir Iran
Militer Amerika Serikat (AS) mempertimbangkan penggunaan bom non-nuklir terbesarnya, GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB), untuk menyerang Iran.
Bom yang dijuluki “induk segala bom” itu masuk dalam opsi serangan baru yang disiapkan Washington jika Presiden Donald Trump memerintahkan operasi militer kembali.
Menurut laporan eksklusif CNN yang mengutip sejumlah pejabat AS, rencana serangan tersebut mencakup infrastruktur energi dan fasilitas nuklir Iran, termasuk lokasi bawah tanah di Pickaxe Mountain.
Baca Juga: Arab Saudi Cegat Rudal di Madinah, Houthi Membantah
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan, “Presiden Trump tetap membuka semua opsi untuk memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.”
Meski demikian, belum ada keputusan bahwa MOAB akan benar-benar digunakan dalam serangan terhadap Iran.
Efektivitas MOAB untuk Hancurkan Fasilitas Nuklir Iran Diragukan
Pertimbangan penggunaan MOAB muncul ketika Trump menghadapi tekanan untuk mengakhiri perang yang tidak populer di dalam negeri, sementara penyelesaian melalui jalur diplomatik belum menunjukkan kepastian.
Di tengah situasi tersebut, militer AS terus menyiapkan berbagai opsi serangan. Namun, sejumlah pejabat mempertanyakan apakah serangan tambahan dapat menghasilkan kemenangan strategis atau justru memperpanjang konflik.
Efektivitas MOAB untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran juga diragukan. Bom seberat sekitar 9.800 kilogram itu dirancang menghasilkan ledakan dahsyat di area luas, tetapi tidak secara khusus dibuat untuk menembus fasilitas jauh di bawah tanah yang terlindungi lapisan batu keras.
“MOAB adalah senjata yang lebih berfungsi sebagai sarana operasi informasi berskala masif,” ujar seorang sumber yang memahami pembahasan perencanaan militer, dikutip Kamis (15/10/2026).
Meski kemampuan penghancurannya terhadap fasilitas bawah tanah dipertanyakan, MOAB dinilai dapat memberikan dampak psikologis sekaligus menjadi sinyal bahwa Washington masih memiliki opsi militer berskala besar.
Menurut sumber yang dikutip CNN, penggunaan senjata tersebut juga dapat menjadi langkah dramatis tanpa harus langsung melancarkan operasi darat berskala besar.
Trump menghadapi dilema dalam menentukan langkah selanjutnya. Ia ingin mengakhiri konflik, tetapi juga khawatir penarikan pasukan AS akan dipandang sebagai kekalahan.
Baca Juga: Zelensky Ancam Kembali Serang Kilang Minyak Rusia, Desak AS Pasok Patriot
Para pejabat Gedung Putih dan perencana militer dilaporkan membahas opsi serangan yang dapat memberikan kemenangan simbolis bagi Trump, sekaligus mempertahankan peluang tercapainya kesepakatan diplomatik, termasuk terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
MOAB dikembangkan pada 2003 dan dirancang meledak di udara untuk menghasilkan gelombang ledakan yang sangat luas.
Militer AS pertama kali menggunakan bom tersebut pada April 2017 untuk menyerang jaringan terowongan yang digunakan kelompok ISIS di Afghanistan.
Menurut pejabat Afghanistan saat itu, serangan tersebut menewaskan 36 petempur ISIS dan menghancurkan sejumlah terowongan.
Seorang pejabat Pentagon mengatakan bahwa Departemen Pertahanan AS menyusun berbagai rencana operasional untuk menjalankan arahan presiden dan menteri pertahanan.
Namun, hingga laporan tersebut diterbitkan, belum ada konfirmasi bahwa Trump telah memutuskan untuk mengerahkan MOAB dalam serangan terhadap Iran.
