Kesepakatan Trump-Rusia Tak Cukup Turunkan Harga Diesel Dunia
Harga diesel di pasar dunia diperkirakan tetap tinggi meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mencapai kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mendatangkan bahan bakar dari Rusia.
Sejumlah pakar yang diwawancarai Deutsche Welle (DW) menilai, kesepakatan tersebut tidak akan banyak membantu menurunkan harga diesel selama gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah dan Ukraina masih berlangsung.
Pakar perdagangan internasional dari Institut der deutschen Wirtschaft (IW), Samina Sultan, mengatakan perang di Iran serta blokade Selat Hormuz dan Bab al-Mandab menjadi penyebab utama tingginya harga bahan bakar.
“Penyebab harga tinggi adalah perang di Iran serta blokade selat Hormuz dan Bab al-Mandab,” kata Sultan.
Menurut dia, konflik tersebut mengurangi produksi sekaligus membuat pengangkutan bahan bakar menjadi lebih mahal, kurang aman, dan lebih sulit.
Sultan juga menilai kesepakatan Trump dengan Rusia memiliki dimensi geopolitik yang menghubungkan konflik Ukraina dan Iran.
“Akibatnya, perang di Ukraina dan di Iran jadi saling berkaitan.”
Baca Juga: Zelensky Ancam Kembali Serang Kilang Minyak Rusia, Desak AS Pasok Patriot
Pasokan Diesel Terganggu, Harga Sulit Turun
Data perusahaan analisis pengiriman dan pengangkutan barang Kpler menunjukkan, sekitar 13,5 juta barel minyak mentah dapat melewati Selat Hormuz setiap hari.
Namun, volume produk hasil penyulingan seperti diesel yang melintasi jalur tersebut hanya sekitar 677.000 barel per hari, jauh di bawah tingkat sebelum perang yang mencapai 3,6 juta barel per hari.
Analis bahan mentah Commerzbank, Carsten Fritsch, juga menilai perang menjadi faktor utama kenaikan harga diesel. Menurut dia, peluang penurunan harga masih terbatas jika situasi di Ukraina dan Timur Tengah tidak berubah.
Pada 9 Oktober 2026, Trump mengumumkan rencana penghentian sementara sanksi terhadap Rusia untuk memungkinkan impor diesel dari negara tersebut.
Trump mengklaim langkah itu akan menurunkan harga bahan bakar secara drastis.
Rusia mengonfirmasi pernyataan tersebut. Juru bicara Kremlin Dmitri Peskow mengatakan pada 13 Oktober 2026, “Pengiriman diesel sesuai dengan kepentingan Rusia, AS dan pasar energi global”.
Meski demikian, para pakar menilai tambahan pasokan dari Rusia tidak akan cukup untuk mengimbangi gangguan produksi dan distribusi di pasar dunia.
Harga diesel di AS dan sejumlah negara Uni Eropa (UE) memang melonjak dalam 12 bulan terakhir. Menurut Badan Informasi Energi AS (Energy Information Administration/EIA), harga diesel di AS naik 60 persen menjadi 6,30 dollar AS per galon atau sekitar Rp 113.000.
Di sisi lain, posisi Rusia sebagai pemasok diesel dunia juga telah berubah. AS kini menjadi eksportir diesel terbesar, dengan rata-rata ekspor 1,26 juta barel per hari pada 2025 atau sekitar 15,4 persen dari total ekspor dunia.
Rusia berada di posisi kedua dengan pangsa sekitar 9,5 persen.
Para pakar menilai, sekalipun Rusia mampu memasok diesel dalam jumlah besar dengan harga lebih murah, penurunan harga tidak akan sebanding dengan kenaikan yang terjadi sebelumnya.
Pasalnya, sejumlah kilang minyak di kawasan Teluk mengalami kekurangan pasokan. Selain itu, pengangkutan bahan bakar melalui armada bayangan dan biaya asuransi yang tinggi membuat distribusi semakin rumit dan mahal.
Baca Juga: Houthi Buka Peluang Mediasi untuk Akhiri Perang dengan Arab Saudi
Pembatasan Ekspor Diesel AS Bisa Picu Kenaikan Harga
Di tengah tekanan pasokan, muncul pula wacana pembatasan ekspor diesel oleh pemerintah AS. Kebijakan tersebut berisiko menimbulkan masalah baru bagi pasar energi global.
Negara-negara pembeli seperti di Amerika Latin dan Uni Eropa dapat terdampak karena selama ini mengandalkan pasokan diesel dari AS.
Sejak sanksi dijatuhkan kepada Rusia setelah invasinya ke Ukraina, negara-negara UE semakin meningkatkan impor diesel dari AS.
Kepala ekonom ING, Carsten Brzeski, memperingatkan bahwa pembatasan ekspor tidak akan menyelesaikan persoalan kekurangan pasokan.
“Larangan ekspor hanya mengalihkan kekurangan, bukan menyelesaikannya”, kata Brzeski.
Menurut dia, kebijakan tersebut justru dapat mendorong kenaikan harga di pasar dunia.
Kilang minyak juga berpotensi mengurangi produksi ketika margin keuntungan menyusut.
Sultan menyampaikan kekhawatiran serupa terhadap usulan pembatasan ekspor diesel AS.
Menurut dia, kebijakan tersebut berpotensi kembali mendorong kenaikan harga di dalam negeri karena kapasitas penyimpanan diesel AS terbatas.
“Karena di AS tempat penyimpanan diesel tidak sebanyak itu, produksinya akan dikurangi,” kata Sultan.
Sementara itu, tambahan pasokan dari Rusia dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan diesel AS.
Berdasarkan perhitungan platform Our World in Data, pasokan awal sebesar 2,2 juta barel diesel dari Rusia tidak akan mencukupi kebutuhan harian AS yang mencapai sekitar 4 juta barel.
Bahkan, jika seluruh volume yang diumumkan Trump, yakni 35,8 juta barel, terealisasi, jumlah tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan AS selama sekitar sembilan hari.
Analis pasar minyak asal Kanada, Rory Johnston, juga berulang kali mengkritik manfaat kesepakatan tersebut melalui unggahannya di platform X.
Menurut laporan DW, Rusia biasanya mengekspor diesel dalam volume hampir sepuluh kali lipat dari pasokan yang diumumkan Trump apabila kilang-kilangnya tidak mengalami serangan drone Ukraina.
AS juga mengimpor diesel dari Kanada, yang menyumbang sekitar 80 persen dari total impor diesel negara tersebut.
Namun, Kanada belum tentu bersedia meningkatkan ekspor ke AS di tengah ketegangan perdagangan dan pernyataan Trump yang kerap mengkritik negara tetangganya itu.
Dengan gangguan pasokan yang masih berlangsung, keterbatasan tambahan ekspor Rusia, serta risiko pembatasan ekspor AS, kesepakatan Trump dengan Putin dinilai belum cukup untuk membawa harga diesel dunia kembali turun secara signifikan.
