AS Siapkan Serangan Gabungan di Kolombia untuk Lawan Kelompok Bersenjata
Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth mengungkap kemungkinan dilakukannya operasi militer bersama dengan Kolombia untuk menargetkan kelompok-kelompok bersenjata di negara tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Hegseth saat menyambut bergabungnya Kolombia ke dalam koalisi antinarkotika yang dipimpin militer AS di Panama, Rabu (12/8/2026).
Kolombia diketahui baru saja memiliki pemerintahan konservatif baru setelah Presiden Abelardo De La Espriella resmi menjabat pekan lalu.
Dalam pertemuan Koalisi Antikartel Amerika, Hegseth mengatakan Kolombia telah memberikan izin untuk pelaksanaan operasi militer bersama guna menghancurkan kelompok yang disebut teroris dan jaringan teror.
Baca Juga: Prabowo Ungkap Ekonomi RI Tumbuh 5,45 Persen Semester 1 2026
Ketika ditanya apakah dirinya telah membahas kemungkinan serangan bersama dengan mitra Kolombia untuk menargetkan kelompok seperti Tentara Pembebasan Nasional (ELN) dan sisa-sisa Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC), Hegseth menjawab singkat.
“Ya,” jawab Hegseth, dikutip dari Reuters.
Ia mengatakan, tindakan tersebut berpotensi dilakukan di wilayah Kolombia. Menurut Hegseth, organisasi yang telah ditetapkan sebagai kelompok teroris dapat menjadi sasaran operasi AS bersama pemerintah mitra.
“Organisasi teroris yang telah ditetapkan, bersama pemerintah mitra, akan menjadi target sah Pemerintah Amerika Serikat,” tegasnya.
Perubahan Kebijakan Keamanan Kolombia
Rencana tersebut muncul setelah Presiden Kolombia Abelardo De La Espriella menjanjikan langkah lebih keras untuk menangani kelompok bersenjata dan perdagangan narkoba.
Kebijakan tersebut mendapat dukungan dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Pada Jumat (7/8/2026), Washington mengumumkan rencana bantuan keamanan senilai 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 17,86 triliun kepada pemerintah Kolombia.
Dalam pidato pelantikannya, De La Espriella berjanji memberantas tanaman terlarang serta menyatakan komitmennya bergabung dengan program Shield of the Americas yang digagas Trump.
Ia juga menyalahkan pemerintahan sebelumnya yang dipimpin Gustavo Petro atas semakin meluasnya keberadaan kelompok bersenjata di Kolombia.
Menteri Pertahanan Kolombia Jorge Eduardo Mora yang turut mendampingi Hegseth di Panama mengatakan negaranya siap memainkan peran penting dalam pemberantasan perdagangan narkoba di kawasan Pasifik dan Karibia.
“Menurut saya, sudah saatnya kartel narkoteroris menghadapi kekuatan dan kemampuan seluruh belahan bumi ini, yang dipimpin oleh Amerika Serikat,” ujar Mora.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari perubahan pendekatan keamanan AS di kawasan Amerika Latin. Pemerintahan Trump disebut semakin memperluas fokus operasinya, yang sebelumnya banyak diarahkan pada keamanan Terusan Panama.
Baca Juga: 290 BUMN Ditutup Prabowo, Negara Hemat Rp50 Triliun
Sejak September 2025, lebih dari 200 orang dilaporkan tewas dalam operasi militer AS terhadap kapal-kapal yang diduga membawa narkoba. Pada Januari 2026, operasi komando yang dipimpin AS juga menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Hegseth kemudian menyebut pendekatan baru pemerintahan Trump sebagai versi modern dari Doktrin Monroe, kebijakan abad ke-19 yang menegaskan pengaruh AS di kawasan Amerika.
Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai “Doktrin Donroe”, yang merupakan gabungan nama Donald Trump dan Monroe.
“Kami akan mempertahankan belahan bumi kami dari ancaman eksternal,” kata Hegseth.
Ia juga menyamakan kelompok penyelundup narkoba dengan kelompok teroris seperti Al Qaeda dan ISIS.
