Bahlil Ingin Indonesia Kendalikan Harga Nikel Dunia
Indonesia dinilai memiliki peluang untuk menjadi salah satu negara yang menentukan pergerakan harga nikel dunia. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mengatur volume produksi dan pasokan nikel ke pasar internasional.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebut konsumsi nikel dunia saat ini mencapai sekitar 3,5 juta ton. Sementara itu, produksi nikel Indonesia berada di kisaran 700.000 hingga 800.000 ton.
Baca Juga : Wanita di Florida Ditangkap usai Ancam Tembak Trump
“Kalau ini terus kita pertahankan harganya bisa jatuh lagi,” terang Bahlil usai menghadiri Minerba Convex 2026 di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Mengutip data Trading Economics, harga nikel saat ini masih berada di level rendah, yakni sekitar Rp15.482 per ton. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk mengatur produksi nikel agar pasokan di pasar tidak berlebihan.
Untuk menjaga harga nikel tetap stabil, Bahlil berencana mengatur volume produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2027.
Baca Juga : Mojtaba Siapkan Target Balasan Jika AS-Israel Serang Kembali
Menurutnya, jumlah produksi dapat disesuaikan dengan kondisi harga di pasar. Pemerintah membuka kemungkinan meningkatkan produksi ketika harga nikel berada pada level yang baik. Sebaliknya, produksi dapat ditekan ketika harga mengalami penurunan.
“Bisa lebih rendah (produksinya), bisa lebih tinggi. Selama kalau harganya bagus, kalau harga bagus boleh dong lebih tinggi. Tapi kalau harga rendah, masa kita mau produksi banyak,” tegas Bahlil.
