China Dekati Iran dan Oman di Tengah Perang Timur Tengah
Perang Iran yang mengganggu pasokan energi global mendorong China meningkatkan aktivitas diplomatiknya di Timur Tengah. Beijing kini memperkuat pendekatan terhadap Teheran dan Muscat, sekaligus mendorong kedua pihak yang berkonflik untuk kembali membuka perundingan guna meredakan ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, bertemu dengan Ali Bagheri Kani, Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, di Beijing pada Senin. Dalam pertemuan tersebut, Wang menekankan bahwa dialog dan negosiasi masih menjadi “satu-satunya jalan ke depan” untuk mengatasi konflik yang terus berlarut-larut dan berpotensi meluas.
Wang juga menegaskan dukungan China terhadap kedaulatan dan keamanan Iran. Selama ini, Beijing menyalahkan AS dan Israel atas pecahnya perang di kawasan tersebut.
Baca Juga : Wapres AS Klaim Capaian New York Hasil dari Trump, Mamdani Sindir
China diketahui memiliki hubungan erat dengan Teheran. Selain menjadi mitra dagang terbesar Iran, Beijing juga merupakan pembeli utama minyak negara tersebut. Meski demikian, langkah diplomatik China dalam beberapa waktu terakhir dinilai belum menghasilkan perkembangan yang signifikan.
Menurut laporan Al Jazeera, pertemuan Wang dengan perwakilan Iran mencerminkan meningkatnya ketidaksabaran Beijing terhadap situasi konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Sebagai bagian dari upaya diplomatiknya, China mengumumkan bahwa utusan khusus untuk Timur Tengah, Zhai Jun, dijadwalkan mengunjungi Iran, Oman, dan Arab Saudi pada bulan ini.
Pada waktu yang bersamaan, Presiden China Xi Jinping menerima kunjungan kenegaraan Sultan Oman Haitham bin Tariq. Kunjungan tersebut menjadi lawatan pertama kepala negara Oman ke China sejak kedua negara menjalin hubungan diplomatik pada 1978.
Dalam pertemuan itu, Xi menegaskan bahwa Timur Tengah dan kawasan Teluk “tidak boleh menjadi arena persaingan kekuatan besar dan konflik geopolitik”.
Kunjungan Sultan Haitham juga menghasilkan kesepakatan kerja sama antara China dan Oman. Kedua negara menandatangani 14 dokumen yang mencakup berbagai sektor, mulai dari kecerdasan buatan, energi ramah lingkungan, rantai pasokan, hingga pertukaran mata uang.
Melalui pernyataan bersama, Beijing dan Muscat turut menyerukan agar aktivitas pelayaran yang aman di Selat Hormuz kembali dipulihkan. Keduanya juga mendesak AS dan Iran untuk melanjutkan dialog demi meredakan konflik.
Oman memiliki posisi geografis yang strategis karena wilayahnya berhadapan langsung dengan Iran di kawasan Selat Hormuz. Negara tersebut juga mengoperasikan sejumlah pelabuhan yang berada di luar jalur perairan selat itu.
Baca Juga : Perang Baru Membayangi, Iran dan AS Saling Ancam
Sebelum perang mengganggu aktivitas pelayaran, sekitar seperlima ekspor energi dunia melewati Selat Hormuz. Jalur tersebut memiliki arti penting bagi China yang merupakan salah satu negara pengimpor energi terbesar di dunia.
Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan itu membuat stabilitas Selat Hormuz menjadi kepentingan ekonomi utama Beijing. Kondisi tersebut sekaligus meningkatkan nilai strategis hubungan China dengan Oman.
Bagi kedua negara, konflik yang berlangsung di Timur Tengah membuat kerja sama Beijing dan Muscat semakin penting, terutama karena terganggunya jalur impor energi China. Keberadaan pelabuhan Oman di luar kawasan Selat Hormuz juga menjadi salah satu faktor yang memperkuat posisi negara tersebut dalam menjaga kelancaran aktivitas perdagangan dan energi.

[…] China Dekati Iran dan Oman di Tengah Perang Timur Tengah […]