China Kritik Keras Blokade AS atas Iran, Dinilai Berbahaya
Pemerintah Tiongkok mengecam langkah Amerika Serikat yang menerapkan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, dengan menyebut kebijakan tersebut sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab dan berpotensi memicu ketegangan baru.
Melalui pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyebutkan bahwa kebijakan tersebut dapat mengganggu keberlangsungan kesepakatan gencatan senjata yang masih rapuh, sekaligus meningkatkan risiko keselamatan bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Blokade laut tersebut mulai diberlakukan pada Senin, sehari setelah perundingan damai antara AS dan Iran di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan.
Baca Juga : KPK Soroti Pengadaan Motor Listrik untuk MBG!
Sebelumnya, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kebijakan blokade dilakukan untuk menekan Iran agar menghentikan program nuklirnya. Sejumlah pengamat menilai langkah tersebut juga memiliki tujuan strategis lain, yakni memberikan tekanan kepada Tiongkok sebagai pembeli utama minyak Iran agar mendorong Teheran membuka kembali jalur pelayaran di selat tersebut.
Sementara itu, Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa menilai kebijakan blokade tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negaranya.
Hingga saat ini, kapal-kapal milik Tiongkok masih tercatat dapat melintasi Selat Hormuz, meskipun belum ada kejelasan apakah terdapat biaya tertentu yang harus dibayarkan kepada Iran untuk akses tersebut.
Sikap Tiongkok
Kebijakan blokade yang diterapkan AS dinilai berpotensi mengganggu ketahanan energi Tiongkok, serta memicu dampak ekonomi yang lebih luas.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, menegaskan bahwa stabilitas kawasan hanya dapat tercapai apabila konflik dihentikan sepenuhnya.
“Tiongkok meyakini bahwa hanya dengan mencapai gencatan senjata komprehensif dan mengakhiri perang, kondisi untuk meredakan situasi di selat dapat tercipta secara mendasar,” ujarnya, dikutip dari BBC, Rabu, 15 April 2026.
“Tiongkok mendesak semua pihak untuk mematuhi kesepakatan gencatan senjata, fokus pada arah umum dialog dan perundingan damai, mengambil tindakan nyata demi mendorong peredaan situasi di kawasan, serta memulihkan lalu lintas normal di selat tersebut sesegera mungkin,” lanjutnya.
Selain itu, Guo membantah kabar yang menyebutkan bahwa Tiongkok sedang mempersiapkan pengiriman sistem pertahanan udara ke Iran. Ia menegaskan bahwa laporan tersebut tidak memiliki dasar yang jelas.
“Jika AS bersikeras menggunakan hal ini sebagai alasan untuk mengenakan tarif tambahan terhadap Tiongkok, maka Tiongkok pasti akan mengambil langkah balasan yang tegas,” tegas Guo.
Respons AS
Di sisi lain, Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menuduh Iran melakukan praktik yang disebutnya sebagai “terorisme ekonomi” melalui pembatasan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
“Jika Iran mencoba melakukan terorisme ekonomi, maka kami akan memastikan kapal Iran juga tidak dapat keluar,” ujarnya.
Pemerintah AS menyatakan bahwa kebijakan blokade tidak akan mengganggu kapal yang menuju pelabuhan selain milik Iran. Operasi angkatan laut disebut difokuskan di wilayah Teluk Oman dan Samudra Hindia.
Meski demikian, data pelayaran menunjukkan setidaknya empat kapal yang berkaitan dengan Iran masih melintas di Selat Hormuz pada Selasa (14/4/2026).
Di tengah situasi tersebut, harga minyak dunia tercatat kembali turun hingga berada di bawah angka 100 dolar AS per barel pada hari yang sama.
Baca Juga : Ini Hasil Negosiasi Israel dengan Lebanon di Washington
Kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran yang mulai berlaku pada 8 April 2026 masih berlangsung hingga kini, meskipun dinilai dalam kondisi rapuh. Sejumlah isu penting, termasuk status Selat Hormuz serta keterlibatan Lebanon, masih menjadi bahan perdebatan antara kedua pihak.
Sementara itu, Israel, yang menyatakan gencatan senjata hanya berlaku bagi Iran, tetap melanjutkan serangan terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon. Di waktu yang sama, perundingan langsung antara pejabat Lebanon dan Israel dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat dalam waktu dekat.
