Dampingi Prabowo ke AS, Bahlil Incar Investasi & Teknologi Energi
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia turut mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja ke Washington, D.C., Amerika Serikat.
Dalam agenda tersebut, Presiden Prabowo dijadwalkan menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump guna mempererat hubungan kedua negara sekaligus membuka peluang kerjasama strategis di berbagai sektor.
Kehadiran Bahlil dalam lawatan itu menandai penguatan diplomasi energi Indonesia di tengah dinamika global.
Baca Juga: Vatikan Tegas Tak Gabung Board of Peace Bentukan Trump
Pemerintah menegaskan, sektor energi menjadi salah satu fokus utama untuk memperkuat ketahanan nasional, mempercepat hilirisasi, serta mendorong peningkatan investasi demi menopang pertumbuhan industri dalam negeri.
“Diplomasi yang dilakukan Presiden merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika global. Di sektor energi, kami memastikan setiap peluang kerja sama mendukung ketahanan energi dan memberi manfaat nyata bagi perekonomian nasional,” ungkap Bahlil, Kamis (19/2/2026).
Fokus Investasi, Teknologi, dan SDM
Dalam rangkaian agenda di Washington, pemerintah juga melakukan komunikasi strategis terkait penguatan kolaborasi di bidang energi dan sumber daya mineral.
Penjajakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas nasional sekaligus memperkokoh ketahanan energi dalam jangka panjang.
Bahlil menuturkan, kemitraan yang dibangun akan difokuskan pada peningkatan investasi, pengembangan teknologi, serta penguatan kualitas sumber daya manusia. Pemerintah ingin memastikan kerja sama yang terjalin mampu memberikan nilai tambah bagi industri nasional.
“Kami mendorong kolaborasi yang berorientasi pada peningkatan investasi, transfer teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia. Prinsipnya, kemitraan harus saling menguntungkan dan tetap berpijak pada kepentingan nasional,” ujar Bahlil.
Baca Juga: AS Ultimatum Iran usai Negosiasi: Perang Makin Sulit Dihindari
Langkah diplomasi energi tersebut, lanjut Bahlil, juga sejalan dengan komitmen Indonesia mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2060 melalui penguatan bauran energi yang lebih beragam, efisien, dan berkelanjutan.
“Ketahanan dan kemandirian energi merupakan fondasi utama pembangunan. Karena itu, setiap langkah diplomasi energi harus memperkuat industri dalam negeri dan meningkatkan produktivitas nasional,” tegas dia.
Pemerintah berharap, upaya diplomasi ini dapat memperluas akses terhadap investasi strategis sekaligus mempercepat transformasi sektor energi nasional. Kerja sama internasional dipandang sebagai instrumen penting untuk memperkuat daya saing industri dan menjaga stabilitas ekonomi di tengah tantangan global.
