Houthi Bantah Serang Mekkah, Sebut Klaim Saudi Bohong
Kelompok Houthi membantah tudingan Arab Saudi yang menyebut mereka melancarkan serangan drone ke arah Mekkah, Arab Saudi.
Pejabat biro politik Houthi Hazem Al Assad menyebut klaim tersebut sebagai tuduhan lama yang kembali digunakan oleh Riyadh.
“Klaim mengenai penargetan Mekkah adalah kebohongan usang yang pernah digunakan sebelumnya, dan tidak lagi dapat memperdaya siapa pun,” tulis Al Assad di platform X, dikutip dari AFP.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah koalisi pimpinan Arab Saudi mengklaim telah menembak jatuh sebuah drone Houthi yang disebut terbang menuju Mekkah pada Rabu (16/9/2026).
Baca Juga: Xi Bawa Gagasan GCI, Dorong Kerja Sama Indonesia-China
Juru bicara koalisi, Turki Al Maliki, mengatakan drone tersebut berhasil dicegat sebelum memasuki wilayah udara terlarang di sekitar kota suci tersebut.
“Pasukan Pertahanan Udara Kerajaan Arab Saudi mencegat dan menghancurkan sebuah drone musuh yang diluncurkan oleh Milisi Teroris Houthi, sebelum drone tersebut memasuki Wilayah Udara Terlarang Kota Suci ‘Mekkah Al Mukarramah’,” demikian bunyi pernyataan Al Maliki yang diunggah di platform X, dikutip dari AFP.
Peringatan Serangan di Mekkah
Sehari sebelumnya, Riyadh mengeluarkan peringatan keamanan singkat terkait kemungkinan serangan di Mekkah, Jeddah, dan Taif.
Peringatan tersebut muncul setelah Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir menjadi sasaran serangkaian serangan yang dikaitkan dengan Houthi yang didukung Iran.
Alarm serangan yang terdengar di Mekkah menjadi salah satu peringatan pertama di kota tersebut sejak perang di Timur Tengah meningkat.
Namun, peringatan tersebut kemudian dicabut dalam waktu singkat oleh otoritas pertahanan sipil Arab Saudi.
Peringatan itu dikeluarkan sehari setelah serangkaian serangan rudal balistik dan drone dari Yaman dilaporkan melukai 13 orang di wilayah selatan Arab Saudi.
Baca Juga: Drone Houthi Incar Mekkah, Arab Saudi Cegat Serangan
Arab Saudi Hadapi Ancaman dari Berbagai Arah
Arab Saudi juga menghadapi tekanan yang lebih luas sejak perang terbuka antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah di kawasan Timur Tengah.
Riyadh disebut memiliki pilihan yang semakin terbatas setelah Presiden AS Donald Trump menolak permintaan bantuan militer untuk menghadapi Houthi.
Situasi tersebut juga diperburuk oleh pembatalan mendadak agenda pertemuan diplomatik antara negara-negara Teluk dan Iran pada Minggu (13/9/2026) malam akibat perbedaan posisi yang tajam.
Sebagai salah satu negara eksportir minyak terbesar dunia, Arab Saudi kini menghadapi sejumlah ancaman terhadap keamanan dan jalur energinya.
Ancaman tersebut mencakup serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, gangguan pada pipa minyak menuju Laut Merah, serta penguasaan sejumlah rute maritim strategis oleh Houthi.
“Saat ini Arab Saudi benar-benar frustrasi. Dalam beberapa hal, ini adalah skenario terburuk mereka,” kata mantan Duta Besar AS untuk Arab Saudi, Michael Ratney, dikutip dari New York Times, Senin (14/9/2026).
