Houthi Kuasai Bab El Mandeb, Kekuatan Iran Makin Besar
Kelompok Houthi di Yaman semakin menunjukkan pengaruhnya sebagai salah satu kekuatan bersenjata utama yang memiliki hubungan dekat dengan Iran di Timur Tengah. Dalam beberapa hari terakhir, kelompok tersebut bergerak ke selatan dan berhasil memperluas kendalinya hingga kawasan strategis Selat Bab El Mandeb.
Perkembangan ini menandai perubahan besar bagi Houthi. Jika sebelumnya mereka dikenal sebagai gerakan keagamaan dan militer yang relatif terisolasi di Yaman, kini kelompok tersebut telah menguasai sebagian besar pesisir Laut Merah Yaman dan wilayah luas di bagian utara, termasuk ibu kota Sana’a.
Dari Gerakan Zaidi Menjadi Kekuatan Militer
Houthi berakar dari komunitas Zaidiyah, kelompok minoritas di Yaman yang berada di tengah populasi mayoritas Sunni. Gerakan tersebut mulai berkembang pada 1990-an sebagai respons terhadap apa yang mereka anggap sebagai diskriminasi sektarian terhadap masyarakat Zaidi, yang banyak tinggal di wilayah utara Yaman.
Baca Juga : Obama Beberkan Rencana AI Jika Maju Capres 2028
Kelompok ini juga dikenal dengan nama Ansar Allah. Sebutan Houthi berasal dari nama pemimpin spiritualnya, Badreddin Al Houthi, serta putranya, Hussein, yang tewas dalam pertempuran melawan pasukan pemerintah Yaman pada 2004.
Setelah itu, kepemimpinan kelompok beralih kepada Abdul Malik, putra Badreddin lainnya. Di bawah kepemimpinannya, Houthi berkembang dari faksi yang beroperasi di wilayah barat laut menjadi kekuatan yang mampu menguasai ibu kota dan memainkan peran penting dalam konflik regional.
Abdul Malik kini memimpin puluhan ribu kombatan yang memiliki pengalaman tempur dan terbiasa menghadapi medan pegunungan Yaman yang sulit. Houthi mengendalikan wilayah yang menjadi tempat tinggal sebagian besar penduduk Yaman, meski pemerintah yang diakui secara internasional masih menguasai wilayah yang lebih luas secara geografis.
Kekuatan militer Houthi juga semakin berkembang. Rudal dan drone yang dimiliki kelompok tersebut menjadi ancaman bagi negara-negara Teluk yang kaya minyak maupun Israel, yang telah beberapa kali menjadi sasaran serangan sejak perang Gaza pecah.
Perjalanan Panjang Houthi Merebut Kekuasaan
Perjalanan Houthi menuju posisi saat ini berlangsung melalui konflik selama bertahun-tahun. Pada periode 2004-2010, mereka terlibat dalam enam perang melawan pemerintah Yaman. Konflik dengan Arab Saudi juga terjadi pada 2009-2010 setelah Houthi melancarkan serangan lintas batas.
Houthi kemudian ikut dalam aksi protes yang berujung pada lengsernya Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh pada 2012, setelah gelombang Arab Spring melanda kawasan Timur Tengah.
Menariknya, kelompok tersebut sempat membangun aliansi dengan Saleh. Hubungan itu kemudian kembali memburuk hingga Houthi membunuh mantan penguasa tersebut pada 2017.
Titik balik terbesar terjadi pada 2014 ketika Houthi berhasil merebut ibu kota Sana’a. Perebutan tersebut kemudian mendorong Arab Saudi memimpin intervensi militer terhadap Houthi pada Maret 2015.
Intervensi itu berkembang menjadi perang saudara berkepanjangan yang menewaskan ratusan ribu orang dan menimbulkan salah satu krisis kemanusiaan terparah di dunia.
Pada 2022, Houthi dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi mencapai kesepakatan gencatan senjata. Namun, kelompok tersebut tetap mempertahankan kendali atas sebagian besar wilayah utara Yaman.
Pertempuran kembali meningkat pada Juli setelah Houthi mengizinkan pesawat Iran mendarat di wilayah Yaman sebagai bentuk penolakan terhadap kendali Arab Saudi atas wilayah udara negara tersebut. Pemerintah Yaman kemudian merespons dengan menyerang bandara yang menjadi lokasi pendaratan.
Hubungan Houthi dengan Iran
Houthi merupakan bagian dari jaringan yang dikenal sebagai “Poros Perlawanan” atau Axis of Resistance yang dipimpin Iran. Jaringan tersebut juga mencakup Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, serta sejumlah kelompok bersenjata di Irak.
Arab Saudi dan Amerika Serikat selama bertahun-tahun menilai Houthi sebagai salah satu instrumen pengaruh Iran. Keduanya juga menuduh Teheran memasok persenjataan kepada kelompok tersebut, meski Iran sebelumnya membantah tuduhan tersebut.
Hubungan Houthi dengan Iran memang semakin erat, tetapi kelompok tersebut tidak sepenuhnya mengikuti struktur ideologi maupun komando Teheran. Berbeda dari Hizbullah, Houthi tidak meyakini Pemimpin Tertinggi Iran memiliki otoritas tertinggi atas kelompok mereka.
Houthi juga masih memiliki tingkat otonomi dalam menentukan kebijakannya sendiri. Dukungan Iran terutama terlihat dalam aspek militer.
Pada 2024, Houthi mulai menyerang kapal-kapal di Laut Merah yang mereka klaim memiliki hubungan dengan Israel. Kelompok tersebut menyebut serangan itu sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina di tengah perang Gaza.
Serangkaian serangan tersebut mengganggu jalur perdagangan internasional. Banyak perusahaan pelayaran kemudian memilih menghindari Laut Merah dan mengambil rute lebih jauh mengitari ujung selatan Afrika.
Pada Maret 2026, Houthi kembali terlibat dalam konflik Timur Tengah dengan menyatakan dukungan terhadap Iran. Mereka mengklaim melancarkan serangan drone dan rudal baru ke Israel, meski dampak kerusakannya disebut terbatas.
Houthi Perebutkan Bab El Mandeb
Laut Merah dan Selat Bab El Mandeb telah lama menjadi salah satu titik penting dalam strategi militer Houthi. Kawasan tersebut merupakan jalur pelayaran yang menghubungkan Eropa dan Asia melalui Terusan Suez.
Baca Juga : Di Tengah Perang Dagang Trump, Kanada Boikot Produk AS
Bagi Arab Saudi, jalur ini menjadi semakin penting setelah Iran memblokir sebagian besar pengiriman dari kawasan Teluk melalui Selat Hormuz. Kondisi tersebut membuat Saudi mengandalkan jalur Bab El Mandeb untuk mempertahankan ekspor minyaknya.
Pada Juli, Houthi menyatakan memberlakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Sejak saat itu, kelompok tersebut berulang kali menargetkan kapal-kapal Saudi yang melintas di Laut Merah.
Ketika pertempuran dengan pasukan pemerintah Yaman kembali pecah, Houthi melancarkan serangan besar pada 3 September. Operasi tersebut diarahkan untuk merebut kendali atas kawasan Bab El Mandeb.
Sekitar sepekan kemudian, Houthi disebut telah menguasai seluruh pesisir Laut Merah Yaman serta sejumlah pulau strategis di dalam dan sekitar selat tersebut.
Penguasaan wilayah ini memperkuat posisi Houthi untuk mengawasi lalu lintas pelayaran di salah satu jalur perdagangan paling strategis di dunia. Pada saat yang sama, kemampuan mereka untuk mengancam kapal tanker milik Arab Saudi juga semakin besar.
