Investor Ritel Tembus 20 Juta, Asosiasi Emiten Buka-bukaan soal Arah IHSG 2026
Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) menyampaikan pandangannya terkait proyeksi arah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2026. Ketua AEI Armand Wahyudi Hartono menilai pertumbuhan partisipasi investor ritel di pasar modal Indonesia telah melampaui ekspektasi.
Menurut Armand, jumlah investor ritel saat ini telah menembus lebih dari 20 juta, jauh di atas target yang sebelumnya diproyeksikan baru tercapai pada 2027. Dari sisi pengembangan ke depan, ia melihat masih terbuka peluang besar, khususnya dari peningkatan peran investor institusi.
Dengan masuknya lebih banyak investor institusi, Armand menilai pasar modal Indonesia berpotensi tumbuh lebih dalam dan berkembang lebih baik.
“Sebenarnya banyaklah opportunity ke depan. Semoga kalau ke depan masih ada ruang, kita harapkan dari institusi ya. Investor institusi juga ada opportunity untuk kalau itu bisa masuknya banyak, pasar modal juga akan lebih berkembang,” kata Armand dikutip pada Rabu (31/12/2025).
Baca Juga: Investor Full Senyum! Ini Daftar 8 Emiten yang Guyur Dividen di Januari 2026 – Economix
Secara umum, Armand menilai capaian pasar modal Indonesia hingga akhir tahun ini menunjukkan ketahanan yang cukup kuat, meskipun sempat menghadapi berbagai tantangan besar. Terkait proyeksi 2026, ia menegaskan fokus AEI adalah terus bekerja secara konsisten.
Dengan kinerja yang berkelanjutan, ia optimistis pasar modal nasional akan semakin besar, mampu menarik investor yang lebih berkualitas, dan pada akhirnya turut mendorong kemajuan negara. Namun, Armand menekankan bahwa masa depan tidak dapat diprediksi dan hanya dapat dihadapi dengan kerja keras.
Ia juga mengakui kondisi pasar sempat cukup menantang pada tiga bulan pertama 2025. Meski demikian, situasi mulai membaik pada semester kedua. IHSG bahkan kembali menguat dan ditutup di kisaran 8.600, yang mencerminkan resiliensi pasar domestik.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa memasuki 2026 terdapat sejumlah peluang yang dapat dimanfaatkan sekaligus tantangan yang perlu diantisipasi oleh industri pasar modal Indonesia.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi mengatakan volatilitas pasar global masih akan dipengaruhi oleh perkembangan suku bunga global, dinamika harga komoditas, serta kondisi geopolitik.
Baca Juga: Suku Bunga Jepang Tertinggi dalam 30 Tahun, Ini Respons Investor Global – Economix
Meski demikian, Inarno menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan terjaga, sehingga memberikan ruang yang memadai untuk melanjutkan penguatan kinerja pasar modal secara berkelanjutan.
“Namun demikian, fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat dan terjaga, Indonesia memiliki ruang yang memadai untuk melanjutkan penguatan kinerja pasar modal secara berkelanjutan,” ujarnya.
Inarno menambahkan, OJK bersama self-regulatory organization (SRO) telah menetapkan sejumlah prioritas pengembangan pasar modal pada tahun depan. Langkah tersebut mencakup penguatan kolaborasi dengan berbagai institusi terkait, seperti Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia.
Selain itu, OJK juga akan meningkatkan keamanan siber, memperkuat integritas pasar, memperkokoh kelembagaan pelaku usaha jasa keuangan, serta mendorong pengembangan keuangan berkelanjutan.
Baca Juga: Apa Itu January Effect? Ini Penjelasan Sederhananya – Economix

[…] Investor Ritel Tembus 20 Juta, Asosiasi Emiten Buka-bukaan soal Arah IHSG 2026 […]