Iran Klaim Hancurkan Fasilitas Militer AS di Oman
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah menghancurkan sejumlah fasilitas strategis milik Amerika Serikat (AS), termasuk stasiun pengisian bahan bakar di Pelabuhan Duqm, Oman. Teheran menyebut fasilitas tersebut digunakan untuk menunjang operasional kelompok kapal induk AS yang terlibat dalam serangan ke wilayah Iran.
Selain fasilitas di Oman, Iran juga mengaku melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS yang berada di Qatar dan Yordania.
Menurut Iran, operasi ini menjadi salah satu serangan terbesar yang menyasar sejumlah negara Arab sejak tercapainya kesepakatan damai sementara pada bulan lalu.
Pemerintah Iran menilai gelombang serangan terbaru AS telah menggagalkan berbagai upaya diplomasi yang selama beberapa bulan terakhir dilakukan untuk meredakan konflik.
Baca Juga : AS Gempur 300 Target Militer Usai Selat Hormuz Ditutup
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Iran menuding Washington kembali memperkeruh situasi di Selat Hormuz dengan mencampuri kebijakan Teheran dalam mengatur lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut.
Negara-Negara Teluk Bereaksi
Dilansir The Telegraph, Senin (13/7/2026), sedikitnya lima negara di kawasan terdampak meningkatnya konflik tersebut, termasuk Qatar yang sebelumnya berperan sebagai mediator dalam proses perundingan damai.
Qatar menilai serangan Iran sebagai bentuk eskalasi yang berbahaya. Sementara itu, Oman mengecam serangan yang terjadi di wilayahnya hanya beberapa jam setelah menggelar pembicaraan dengan Iran terkait upaya meredakan ketegangan di sekitar Selat Hormuz.
Di Kuwait, militer setempat melaporkan sebuah drone menghantam anjungan pengeboran minyak lepas pantai hingga menyebabkan seorang pekerja terluka. IRGC mengklaim drone tersebut juga menargetkan peluncur roket milik AS.
Iran kemudian mengumumkan penutupan sementara Selat Hormuz hingga batas waktu yang belum ditentukan. Selain itu, Teheran disebut menyerang dua kapal komersial yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.
Meski demikian, saat ditanya mengenai kondisi Selat Hormuz, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada NBC bahwa jalur pelayaran itu masih terbuka untuk aktivitas komersial. Namun, ia tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai kondisi di lapangan.
AS Kembali Melancarkan Serangan ke Iran
Tidak lama setelah itu, militer AS mengumumkan dimulainya gelombang serangan terbaru ke Iran pada Minggu (12/7/2026).
Washington menyatakan operasi tersebut bertujuan memperlemah kemampuan Iran dalam melancarkan serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan Presiden Donald Trump telah memerintahkan operasi tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban Iran atas berbagai aksi yang dilakukan sebelumnya.
Media pemerintah Iran melaporkan sekitar 10 rudal AS menghantam Pulau Qeshm yang berada di pintu masuk Selat Hormuz.
Pemerintah Iran mengklaim tidak ada korban jiwa akibat serangan itu. Namun, kantor berita IRNA melaporkan satu orang meninggal dunia dan empat lainnya mengalami luka-luka setelah sebuah stasiun pompa air terkena serangan.
Sementara itu, kantor berita Mehr menyebut dua lokasi di sekitar Ahvaz yang dikenal sebagai pusat industri minyak Iran juga menjadi sasaran serangan.
Harga Minyak Dunia Melonjak
Meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap keamanan salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia.
Harga minyak mentah Brent naik 3,92 persen menjadi 78,99 dollar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,44 persen menjadi 73,87 dollar AS per barel.
Ketegangan yang terus meningkat diperkirakan akan mempersulit proses negosiasi antara Washington dan Teheran yang kini memasuki pertengahan masa perjanjian damai sementara selama 60 hari.
Salah satu isu yang masih menjadi perdebatan adalah mekanisme pengaturan dan pengendalian pelayaran di Selat Hormuz.
Salah satu kapal yang diserang Iran merupakan kapal kargo berbendera Siprus yang terbakar sehingga seluruh awaknya terpaksa meninggalkan kapal.
IRGC menyatakan kapal tersebut mengabaikan peringatan serta instruksi mengenai jalur pelayaran yang telah ditetapkan Iran.
Data pelayaran menunjukkan kapal itu memilih rute yang menghindari perairan teritorial Iran saat melintasi Selat Hormuz.
Sebanyak 11 awak kapal diketahui merupakan warga negara India. Kementerian Luar Negeri India menyatakan operasi pencarian dan penyelamatan masih dilakukan terhadap seorang pelaut yang hingga kini masih dinyatakan hilang.
Iran Tolak Kesepakatan Sepihak
Serangan Iran terjadi sehari setelah AS mengeluarkan ultimatum agar Teheran menghentikan serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Washington juga melancarkan salah satu operasi udara terbesar sejak gencatan senjata diumumkan.
Baca Juga : 2 Patung Budha Abad ke-8 Dipulangkan ke Indonesia
CENTCOM menyatakan sekitar 140 target di Iran, termasuk fasilitas rudal, drone, dan instalasi militer lainnya, telah dihantam dalam operasi tersebut. Sementara media Iran melaporkan ledakan terjadi di sejumlah wilayah.
Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator dalam pembicaraan damai, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan negaranya tidak akan menerima kesepakatan yang dinilai merugikan.
“Era kesepakatan sepihak telah berakhir. Kami sudah mengatakan kepada kalian: tepati janji atau bayar harganya. Kenyataan sedang mengetuk pintu,” tulis Ghalibaf melalui X.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Menteri Luar Negeri Pakistan menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan deeskalasi dalam percakapan telepon dengan mitranya dari Iran.
Sementara itu, militer Yordania melaporkan tiga rudal Iran jatuh di wilayahnya pada Minggu dini hari. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, insiden tersebut menyebabkan kerusakan material ringan.
