Iran Ngaku Hampir Sepakat, AS Disebut Ubah Jalannya Negosiasi
Amerika Serikat dan Iran dilaporkan hampir mencapai kesepakatan damai dalam perundingan di Islamabad, Pakistan, namun negosiasi tersebut akhirnya gagal setelah kedua pihak berselisih terkait sejumlah isu krusial, terutama program nuklir Teheran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa kesepakatan sebenarnya sudah di ambang tercapai sebelum pembicaraan menemui jalan buntu.
“Iran terlibat dengan AS dengan itikad baik untuk mengakhiri perang,” katanya.
“Namun, ketika hanya beberapa inci lagi dari kesepakatan di Islamabad, kami menghadapi maksimalisme, perubahan aturan main, dan blokade,” tambahnya.
Baca Juga: 6 Penyebab Gagalnya Negosiasi AS-Iran, soal Gencatan
Penolakan Iran atas Syarat AS
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bahwa kegagalan perundingan disebabkan oleh tidak adanya komitmen jelas dari Iran terkait penghentian program senjata nuklir.
“Faktanya, kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tak akan berupaya mendapatkan senjata nuklir, dan mereka tidak akan berupaya mendapatkan alat-alat yang memungkinkan mereka dengan cepat memperoleh senjata nuklir,” ujarnya.
“Apakah kita melihat komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, bukan hanya sekarang, bukan hanya dua tahun dari sekarang, tetapi untuk jangka panjang? Kami belum melihat hal itu. Kami berharap akan melihatnya,” sambungnya.
Vance juga menyebut bahwa pemerintah AS, di bawah kepemimpinan Donald Trump, telah bersikap fleksibel selama negosiasi berlangsung.
“Saya rasa kami cukup fleksibel. Kami cukup akomodatif. Presiden memberi tahu kami, ‘Kalian harus datang ke sini dengan itikad baik dan melakukan upaya terbaik untuk mencapai kesepakatan’,” tuturnya.
“Kami sudah melakukan itu dan sayangnya kami tidak berhasil mencapai kemajuan,” lanjutnya.
Baca Juga: Ancaman Iran ke Pelabuhan Arab, Dipicu Blokade Selat Hormuz oleh Trump
Pilihan Sulit Pasca Kegagalan Negosiasi
Kegagalan perundingan ini menempatkan Washington pada posisi sulit, dengan dua opsi utama yang sama-sama berisiko, yakni melanjutkan negosiasi panjang atau kembali ke konflik terbuka.
Opsi pertama berarti pembicaraan berlarut mengenai masa depan program nuklir Iran, sementara opsi kedua berpotensi memicu kembali perang yang dapat mengganggu stabilitas energi global, khususnya di kawasan strategis seperti Selat Hormuz.
Pemerintah AS disebut akan menyerahkan keputusan lanjutan kepada Presiden Trump, dengan mempertimbangkan dampak strategis dan politik dari setiap langkah yang diambil.
“Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa batasan kami, hal-hal apa saja yang bersedia kami akomodasi dari mereka. Mereka memilih tidak menerima persyaratan kami,” ujar Vance.

[…] Iran Ngaku Hampir Sepakat, AS Disebut Ubah Jalannya Negosiasi […]