Iran Raup Rp322 Triliun dari Penjualan Minyak saat Perang
Iran tetap mampu mencatat penjualan minyak mentah dalam jumlah besar selama konflik dengan Amerika Serikat (AS).
Nilai penjualan minyak tersebut bahkan mencapai sekitar 18 miliar dollar AS atau setara Rp322,59 triliun.
Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengatakan negaranya menjual minyak mentah senilai 11,5 miliar dollar AS selama periode perang dengan AS.
Jumlah itu belum termasuk tambahan penjualan sebesar$ 6,5 miliar dollar AS yang diperoleh selama masa gencatan senjata, sebagaimana dilaporkan Reuters.
Baca Juga: Serangan Militer Lebih Besar Dipertimbangkan AS ke Iran
Dengan demikian, total penjualan minyak Iran selama konflik dan gencatan senjata mencapai sedikitnya 18 miliar dollar AS.
“Menurut Paknejad, penjualan tersebut menghasilkan lebih dari 60% dari pendapatan minyak yang diproyeksikan dalam anggaran tahunan Iran,” sebagaimana tertulis dalam laporan Reuters, dikutip Minggu (26/7/2026).
Reuters melaporkan, penjualan tersebut didukung oleh berkurangnya risiko terhadap lalu lintas kapal tanker.
Kondisi itu mendorong peningkatan ekspor dan memungkinkan Iran menjual sebagian dari sekitar 100 juta barel minyak mentah serta kondensat gas yang sebelumnya disimpan.
Iran Perkuat Kerja Sama Energi dengan Rusia
Di tengah meningkatnya ekspor minyak, Iran juga memperluas kerja sama energi dengan Rusia.
Pada Jumat (24/7/2026), Iran menandatangani perjanjian energi senilai 4 miliar dollar AS dengan sejumlah perusahaan Rusia, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera.
Paknejad mengatakan kesepakatan tersebut bertujuan mengembangkan tujuh ladang minyak di Iran bersama perusahaan-perusahaan Rusia.
Sebelumnya, pada Kamis, Paknejad bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak yang juga menjadi tokoh utama Moskow dalam hubungan dengan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Pertemuan itu berlangsung ketika beberapa anggota OPEC+ mengusulkan peningkatan produksi minyak untuk bulan kedua secara berturut-turut.
Usulan tersebut muncul di tengah perbedaan pandangan antaranggota mengenai kepatuhan terhadap kuota produksi.
Baca Juga: Trump Disebut Mulai Tinggalkan Diplomasi dengan Iran
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump juga kembali mendorong OPEC menurunkan harga minyak melalui peningkatan produksi.
Washington juga tetap menjalankan kebijakan “tekanan maksimum” terhadap Iran dengan target menekan ekspor minyak negara tersebut hingga nol.
Meski demikian, Iran dan Rusia turut mengumumkan rencana kerja sama pasokan gas alam. Moskow berpotensi memasok sekitar 1,8 miliar meter kubik gas alam ke Teheran pada tahun ini.
Paknejad mengatakan kesepakatan tersebut masih dalam tahap finalisasi.
Kedua negara, bersama perusahaan energi Rusia Gazprom, masih membahas penyelesaian kerja sama itu agar dapat segera direalisasikan.
