Perang Saudara Yaman Membara, Trump Tahan Diri?
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah fasilitas energi milik Saudi Aramco di pesisir Laut Merah. Serangan tersebut terjadi ketika Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya dalam dua pekan menghentikan rangkaian serangan udaranya ke Iran.
Dilansir dari CNBC Indonesia yang mengutip Reuters, serangan Houthi dilaporkan menyasar fasilitas Aramco di Jizan dan Yanbu. Di Jizan, asap hitam terlihat mengepul dari kawasan kilang minyak berkapasitas sekitar 400.000 barel per hari. Sementara itu, di Yanbu, dua rudal balistik yang mengarah ke pusat ekspor minyak berhasil dicegat sistem pertahanan udara Patriot.
Baca Juga : Diplomasi Iran Dinilai Mulai Ditinggalkan Trump, Kenapa?
Serangan ini dinilai berpotensi memperluas konflik di kawasan karena Jizan dan Yanbu merupakan jalur penting ekspor minyak Arab Saudi yang digunakan sebagai alternatif untuk menghindari Selat Hormuz, yang saat ini berada dalam situasi tidak stabil akibat ketegangan dengan Iran.
Harga Minyak Mentah Lewati US$100/Barel!
Situasi keamanan yang memburuk langsung memicu gejolak di pasar energi global. Pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, sebelumnya mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi dan mengancam akan menyerang seluruh infrastruktur minyak milik kerajaan tersebut.
Ancaman tersebut membuat pelaku pasar khawatir terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia. Akibatnya, harga minyak mentah Brent melonjak hingga menembus level US$100 per barel, sekaligus memicu kekhawatiran baru terhadap tekanan inflasi global.
“Kami menerima informasi mengenai potensi kerusakan pada fasilitas penyimpanan bahan bakar di Jizan,” ungkap salah satu sumber pedagang energi di Asia.
Hingga kini, Saudi Aramco belum memberikan pernyataan resmi mengenai dampak serangan tersebut.
AS Disebut Tahan Diri, Trump Buka Opsi Diplomasi?
Di tengah meningkatnya ketegangan, Washington justru menghentikan operasi udara terhadap Iran setelah sebelumnya melancarkan serangan selama 13 malam berturut-turut. Keputusan tersebut memunculkan spekulasi bahwa AS mulai membuka ruang bagi jalur diplomasi.
Akibat jeda operasi militer itu, Iran mengalami malam yang relatif tenang tanpa serangan dari pesawat tempur AS.
“Tampaknya Iran yang kita cintai telah melalui malam yang tenang tadi,” tulis juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, melalui akun X miliknya.
Presiden Donald Trump mengakui komunikasi dengan Teheran masih berlangsung, meski belum ada kepastian mengenai tercapainya kesepakatan.
“Kami sedang berbicara dengan mereka. Menurut saya, mereka bersikap serius, namun bukan berarti kesepakatan pasti akan tercapai,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan menyerang fasilitas minyak di Pulau Kharg dan instalasi nuklir Iran apabila konflik terus meningkat.
Perang Saudara Yaman Kembali Meletus
Meski AS mengurangi tekanan militernya terhadap Iran, situasi di Yaman justru kembali memanas.
Baca Juga : Serangan Lebih Besar ke Iran Tengah Dipertimbangkan!
Pasukan pemerintah Yaman yang didukung koalisi pimpinan Arab Saudi dilaporkan melancarkan serangan balasan ke sejumlah posisi Houthi. Operasi tersebut menyasar basis militer, gudang persenjataan, hingga lokasi peluncuran drone di Marib, Al-Jawf, dan kawasan pelabuhan Hodeidah.
Perkembangan ini menandai kembali meningkatnya intensitas perang saudara di Yaman, setelah gencatan senjata yang berlangsung sejak 2022 mulai runtuh. Kedua pihak kini dilaporkan mengerahkan kekuatan militer dalam jumlah besar di berbagai garis depan, meningkatkan risiko konflik berkepanjangan yang dapat mengganggu stabilitas pasokan energi global.
