Iran Tawarkan Pembukaan Selat Hormuz dalam Dua Hari kepada AS
Iran menawarkan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dua hari setelah Qatar dan Pakistan memediasi pembicaraan antara Teheran dan Washington.
Namun, proposal tersebut masih bergantung pada sejumlah tindakan yang harus dilakukan Amerika Serikat (AS) dan belum disepakati oleh kedua pihak.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, rencana tersebut merupakan versi singkat dari proposal sebelumnya yang dikenal sebagai “rencana tujuh hari”.
Proposal itu mengatur sejumlah syarat yang harus dipenuhi AS sebelum Iran membuka kembali Selat Hormuz.
“Sekarang kami telah mencapai rencana dua hari. Artinya, pada hari pertama, Amerika akan melaksanakan serangkaian tindakan, dan pada hari kedua, Selat Hormuz akan dibuka kembali dan pergerakan akan kembali seperti sebelumnya,” kata Araghchi kepada Al Jazeera, Minggu (1/11/2026).
Baca Juga: Iran Klaim Sikap AS Berubah, Teheran Sambut Upaya Negosiasi
Iran Persingkat Proposal Pembukaan Selat Hormuz
Menurut Araghchi, rencana awal tujuh hari telah dibahas dalam sejumlah perundingan yang dimediasi Qatar dan Pakistan.
Kedua negara kemudian mengusulkan sejumlah perubahan agar rencana tersebut lebih memungkinkan untuk diterapkan dan dapat diterima oleh lebih banyak pihak.
Araghchi mengatakan, pembicaraan telah mengarah pada tahap implementasi. Meski demikian, Gulf News menegaskan bahwa rencana dua hari tersebut masih berupa proposal, bukan kesepakatan yang telah disetujui.
Amerika Serikat juga belum secara terbuka menerima kerangka yang diajukan Iran.
Teheran menyatakan bahwa pembukaan Selat Hormuz bergantung pada tindakan AS untuk memenuhi tuntutan Iran. Salah satu tuntutan yang disebut dalam laporan berkaitan dengan pembebasan aset Iran yang dibekukan.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang terletak di antara Iran dan Oman. Jalur tersebut menjadi salah satu titik penting perdagangan energi dunia.
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan sebagian besar ekspor gas alam cair global melewati Selat Hormuz.
Karena itu, gangguan pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi perdagangan energi dan distribusi barang secara global.
Iran dan AS Lanjutkan Upaya Diplomasi
Proposal Iran muncul ketika upaya diplomatik untuk mencegah kembali pecahnya pertempuran antara Teheran dan Washington terus berlangsung.
Mediator Qatar tiba di Teheran pada Jumat. Pada saat yang sama, Wakil Presiden AS JD Vance mengirim surat kepada pejabat keamanan Iran Mohsen Rezaei.
Rezaei, yang memimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan telah membaca surat tersebut, tetapi belum memberikan tanggapan.
“Saya belum merespons. Nada mereka telah sepenuhnya berubah,” kata Rezaei dalam video yang disiarkan televisi Iran.
Ia menyebut perubahan nada tersebut sebagai pertanda baik, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut isi surat yang dikirim Vance.
Meski demikian, Rezaei menegaskan bahwa Iran akan tetap memblokade Selat Hormuz sampai tuntutan Teheran dipenuhi.
Qatar dan Pakistan selama ini menjadi mediator dalam perundingan antara Iran dan Amerika Serikat. Namun, upaya tersebut belum menghasilkan kesepakatan yang dapat bertahan lama.
Baca Juga: Daftar 14 Pemimpin Tertua di Dunia, dari Paul Biya hingga Donald Trump
Di tengah proses diplomasi, Presiden AS Donald Trump pada Sabtu mengatakan bahwa militer AS telah menghancurkan sebagian besar kekuatan militer Iran.
Trump menyebut masih ada satu atau dua target yang harus ditangani.
Ia juga mengatakan negosiasi dengan Iran untuk mengakhiri perang berjalan baik, meskipun menyebut Teheran tidak dapat sepenuhnya diandalkan.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei memperingatkan AS dan Israel agar tidak melancarkan serangan baru terhadap Iran.
Mojtaba mengatakan setiap ancaman harus dibalas dengan respons segera dan berdampak.
Ia juga memerintahkan para komandan militer untuk memperbarui daftar target Iran agar mencakup seluruh aset fisik maupun nonfisik milik AS dan Israel.
