Iran Tolak Usulan Gencatan Senjata yang Dibawa PM Irak
Iran dilaporkan menolak proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat (AS) melalui Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi.
Penolakan itu terjadi ketika konflik bersenjata antara Washington dan Teheran telah berlangsung hampir dua pekan.
Laporan tersebut pertama kali diungkap The New York Times dengan mengutip sejumlah pejabat Iran dan Irak.
Menurut laporan itu, Ali al-Zaidi membawa proposal tersebut saat melakukan kunjungan resmi ke Teheran, Kamis (23/7/2026).
Kunjungan itu dilakukan tidak lama setelah ia bertemu Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih.
Meski isi proposal tidak diungkap secara rinci, pejabat Iran menyebut tawaran tersebut merupakan satu-satunya usulan yang saat ini diajukan oleh Washington.
Namun, Teheran menolak proposal tersebut karena dinilai belum menyelesaikan persoalan mengenai kendali atas Selat Hormuz.
Baca Juga: Bos Baru Hamas Sebut 6 Prioritas, Israel Jadi Sorotan
Pertemuan Bahas Hubungan Bilateral dan Situasi Kawasan
Kunjungan ke Iran merupakan lawatan resmi pertama Ali al-Zaidi sejak menjabat sebagai Perdana Menteri Irak pada Mei 2026.
Dalam kunjungan itu, ia didampingi delegasi tingkat menteri dan bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Kedua pemimpin membahas hubungan bilateral, perkembangan keamanan kawasan, serta upaya memperkuat stabilitas regional.
Pejabat Iran mengatakan pertemuan juga membahas implementasi berbagai kesepakatan yang sebelumnya telah disepakati kedua negara.
Selain itu, Iran dan Irak disebut mendorong peningkatan kerja sama di bidang perdagangan, energi, transportasi, dan isu-isu kawasan.
Media Iran juga melaporkan Ali al-Zaidi bertemu Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf yang juga menjadi salah satu tokoh utama dalam perundingan negara tersebut.
Ia juga menggelar pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Baca Juga: Jika Diblokade AS, Iran Ancam Setop Ekspor Minyak
Iran Bersiap Hadapi Konflik yang Lebih Luas
Di tengah kunjungan tersebut, Iran disebut mulai mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konflik yang lebih besar apabila Presiden Trump merealisasikan ancamannya untuk menyerang Teheran dan sejumlah infrastruktur strategis.
The New York Times mengutip dua pejabat Iran yang menyatakan serangan semacam itu dapat mendorong Teheran memperluas konflik ke tingkat regional.
Iran sebelumnya telah melancarkan serangan ke Tel Aviv dan meminta kelompok Houthi di Yaman menutup Selat Bab el-Mandeb.
Ketegangan meningkat sejak Trump pada 8 Juli mengumumkan bahwa gencatan senjata yang tercantum dalam nota kesepahaman AS-Iran tidak lagi berlaku.
Sejak saat itu, AS dan Iran terus saling melancarkan serangan. Washington menargetkan sejumlah lokasi di wilayah Iran, sementara Teheran mengklaim telah menyerang fasilitas dan peralatan militer AS di beberapa negara di kawasan.
Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan pasukannya kembali menyerang sejumlah target di Iran pada Jumat (24/7/2026) dini hari.
Operasi tersebut menjadi malam ke-13 berturut-turut AS melancarkan serangan terhadap Iran.
Sementara itu, otoritas Iran melaporkan hingga Rabu jumlah korban tewas akibat serangan AS mencapai 53 orang. Sebanyak 592 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Konflik yang terus berlanjut juga disebut mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz, mengancam pasokan energi global, serta memicu penutupan wilayah udara secara berkala.
