IRGC Klaim AS Kalah Perang dan Gagal Buka Selat Hormuz
Juru bicara Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Hossein Mohebbi, mengklaim Amerika Serikat (AS) telah kalah dalam perang dan tidak berani mengakui kekalahan tersebut.
“Amerika Serikat telah kalah dalam perang ini, dan kekalahannya merupakan kekalahan yang bersejarah sekaligus memalukan, namun mereka tidak memiliki keberanian untuk mengakui dan menerima kekalahan tersebut,” ujar Mohebbi dalam komentar yang dilansir media setempat, dikutip dari RT.
Menurut Mohebbi, salah satu indikator kekalahan AS adalah kegagalan Washington membuka kembali Selat Hormuz.
Baca Juga: Daftar 7 Negara dengan Rasio Utang Terendah di Dunia, Apa Saja?
Iran menutup jalur perairan tersebut sebagai respons terhadap perang gabungan AS dan Israel.
Mohebbi mengatakan AS telah mengerahkan seluruh kemampuannya, tetapi “tidak mampu” membuka kembali jalur pelayaran tersebut.
Ia juga menyebut pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan tersebut justru menjadi beban karena investasi untuk menjaga keamanan pangkalan “berbalik menjadi ancaman keamanan” setelah diserang Iran.
Iran Klaim Siapkan Senjata Baru
Mohebbi juga mengklaim rudal Iran telah menghantam pusat-pusat intelijen AS di sekitar kawasan Teluk dan Irak utara.
Menurutnya, serangan tersebut menunjukkan fasilitas-fasilitas AS masih berada dalam jangkauan Iran dan menjadi “kekalahan intelijen yang besar” bagi Washington.
Mohebbi mengatakan Iran akan melakukan “perubahan signifikan” dalam operasi pertahanan dan serangan balasan jika AS kembali melancarkan serangan.
“Perubahan tersebut mencakup pergeseran peta wilayah perang, serta perubahan jenis senjata dan peralatan militer,” ungkapnya kepada media setempat.
“Kami akan mengerahkan senjata baru dengan kemampuan baru ke medan perang, dan dunia akan dibuat takjub,” lanjutnya.
Baca Juga: Iran Ajukan 3 Syarat Akhiri Perang, sedang Tunggu Jawaban Trump
Ia menambahkan bahwa Iran juga akan mengubah sasaran yang menjadi target serangan.
“Target-target kami pun tidak lagi sama persis dengan target-target sebelumnya. Kami memiliki target-target baru yang belum pernah diserang,” ujarnya.
Dalam perkembangan lain, IRGC menyatakan telah mencegat dan menghancurkan pesawat nirawak atau drone MQ-1 milik AS di atas Selat Hormuz.
Dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita Iran, IRGC menyebut AS sebenarnya telah memensiunkan drone MQ-1, tetapi kembali mengoperasikannya setelah kehilangan banyak drone MQ-9 yang lebih canggih.
“Kedua jenis tersebut sedang diburu secara intensif oleh sistem pertahanan udara baru IRGC,” demikian pernyataan tersebut.
Angkatan Udara AS diketahui telah memensiunkan varian MQ-1 Predator pada 2018.
