Israel Tolak Tarik Pasukan dari Gaza, Hamas Jadi Syarat
Israel menyampaikan keberatannya kepada Gedung Putih terkait rencana kesepakatan pelucutan senjata Hamas. Pemerintah Israel menegaskan pasukannya belum akan meninggalkan Jalur Gaza sebelum kelompok tersebut benar-benar menyerahkan persenjataannya.
Juru bicara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Doron Spielman, mengatakan penarikan pasukan sebelum Hamas dilucuti sepenuhnya justru dapat membuka peluang bagi kelompok tersebut untuk kembali memperluas pengaruhnya di Gaza.
“Penilaian kami adalah jika kita melakukan pengerahan ulang sebelum Hamas benar-benar dilucuti senjatanya, mereka akan dengan cepat memperluas kehadirannya di seluruh Gaza dan berupaya melakukan serangan serupa dengan peristiwa 7 Oktober,” katanya, dikutip dari Al Jazeera.
Baca Juga : Bank Dunia Ungkap 48% UMKM Batas QRIS untuk Hindari Pajak
Spielman menegaskan bahwa pelucutan senjata harus dilakukan secara nyata, bukan sekadar kesepakatan tertulis atau komitmen politik.
“Melucuti senjata berarti menyerahkan senjata secara fisik. Tidak kurang dari itu,” tambah Spielman.
Serangan Israel Tewaskan 17 Warga Gaza
Di tengah perdebatan mengenai kesepakatan tersebut, serangan terbaru Israel di Jalur Gaza kembali menelan korban. Sedikitnya 17 warga Palestina dilaporkan meninggal akibat serangkaian serangan pada Minggu (2/8/2026).
Serangan tersebut berlangsung setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan apa yang disebutnya sebagai “langkah monumental” menuju terciptanya perdamaian dan keamanan di Gaza.
Tiga korban dilaporkan tewas dalam serangan udara yang menghantam sebuah apartemen di Menara Al-Sousi, wilayah barat Kota Gaza. Serangan lainnya menyasar sebuah apartemen di Al-Qarara, barat laut Khan Younis, dan menewaskan tiga anggota keluarga serta melukai tiga orang lainnya.
Di sekitar Deir Al-Balah, Gaza tengah, petugas medis melaporkan pasangan Kamu Abu Muailiq (68) dan Huda (59) meninggal setelah rumah mereka menjadi sasaran serangan.
Dua saudara laki-laki juga dilaporkan tewas ketika sedang mengendarai sepeda motor di wilayah yang sama. Sementara di Gaza utara, seorang warga Palestina meninggal setelah menjadi sasaran langsung di kamp pengungsi Jabalia.
Serangan pesawat tanpa awak Israel juga menewaskan dua warga Palestina, termasuk seorang anak, ketika sebuah tenda pengungsi di kawasan Remal, sebelah barat Kota Gaza, diserang. Empat korban lainnya meninggal akibat serangan terhadap sebuah kendaraan di Kota Gaza.
Rangkaian serangan sejak pagi tersebut menjadi salah satu serangan paling mematikan dalam beberapa pekan terakhir.
Warga Gaza Sebut Gencatan Senjata sebagai “Ilusi”
Warga Palestina menilai serangan yang terus berlangsung, ditambah pembatasan terhadap masuknya bantuan kemanusiaan, membuat gencatan senjata semakin kehilangan makna.
Mereka menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai “ilusi” karena kondisi di lapangan dinilai tidak menunjukkan adanya penghentian kekerasan secara nyata.
Pola serupa juga disebut terjadi pada sejumlah kesepakatan sebelumnya, termasuk gencatan senjata di Lebanon sejak 2024 dan kesepakatan Gaza pada Oktober lalu. Israel pun secara luas mendapat tuduhan telah mengabaikan atau sengaja menghambat pelaksanaan sejumlah kesepakatan tersebut.
Sejak gencatan senjata Oktober 2025, otoritas kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 1.222 warga Palestina meninggal dan 4.053 lainnya mengalami luka-luka.
Israel Dinilai Tidak Berkomitmen pada Kesepakatan
Mohanad Mustafa, akademisi sekaligus pengamat urusan Israel, menilai pendekatan Israel terhadap berbagai kesepakatan cenderung menunjukkan minimnya komitmen.
Baca Juga : MBS Minta Trump Pertimbangkan Lagi Rencana Serang Iran, Kenapa?
“Semua perjanjian ini dipaksakan kepada Israel. Israel tidak ingin membuat pemukiman atau perjanjian. Perjanjian-perjanjian itu dipaksakan kepada Israel oleh pihak lain, khususnya Amerika Serikat,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat Israel berpotensi memiliki tafsir berbeda terhadap kesepakatan yang telah dibuat dengan pihak lain.
“Oleh karena itu, Israel cenderung melanggar perjanjian tersebut, dengan mengeklaim bahwa interpretasi dan pendekatannya berbeda dari cara pihak lain menafsirkannya,” sambungnya.

[…] Israel Tolak Tarik Pasukan dari Gaza, Hamas Jadi Syarat […]
[…] Israel Tolak Tarik Pasukan dari Gaza, Hamas Jadi Syarat […]