Kelompok “Super Revolusioner” Iran Bikin Damai AS-Iran Terancam
Kelompok garis keras Iran yang dikenal sebagai “Jebhe-ye Paydari” atau Front Ketahanan disebut semakin aktif menggagalkan peluang tercapainya kesepakatan damai antara Teheran dan Washington.
Gerakan ini muncul ketika negosiasi Iran dan Amerika Serikat (AS) memasuki fase krusial, sekaligus memperkuat pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait adanya perpecahan internal di tubuh Republik Islam Iran.
Mengutip CNN, kelompok yang dijuluki “Super Revolusioner” itu memiliki pandangan serupa dengan Trump soal kesepakatan nuklir 2015 yang dianggap sebagai kesalahan, meskipun alasan keduanya berbeda. Kelompok tersebut dikenal sangat anti-Barat, bahkan dinilai lebih keras dibanding kubu konservatif Iran pada umumnya. Upaya pemerintah Iran untuk meredam pengaruh mereka sejauh ini belum membuahkan hasil.
“Mereka memandang perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel sebagai perjuangan abadi. Mereka percaya pada negara Syiah yang harus berlanjut hingga akhir zaman dan sangat fanatik dalam hal ideologi agama tersebut,” kata Hamidreza Azizi, seorang peneliti tamu di Institut Jerman untuk Urusan Internasional dan Keamanan.
Baca Juga : B50 Dikabarkan Mulai Diberlakukan 1 Juli, Solar RI Berubah Total
Kemunculan Front Paydari sebagai kelompok paling vokal menentang rekonsiliasi dengan AS terjadi di tengah perebutan pengaruh pasca wafatnya Ali Khamenei pada akhir Februari 2026. Meski Pemimpin Agung baru, Mojtaba Khamenei, telah menyampaikan pesan persatuan, kelompok ini tetap memicu ketegangan dengan menuding para negosiator melanggar garis merah terkait program nuklir Iran.
Suara Radikal dari Pusat Kekuasaan
Meski dianggap terlalu ekstrem bahkan oleh sebagian kalangan konservatif Iran, anggota Jebhe-ye Paydari justru memiliki posisi penting di pusat-pusat kekuasaan. Kelompok ini didukung tokoh media senior, politisi berpengaruh seperti Saeed Jalili, hingga ulama yang memiliki basis massa besar.
Dalam artikel yang dimuat Raja News, media yang dekat dengan Front Paydari, mereka mengecam langkah Teheran yang membuka ruang dialog dengan pejabat AS. Kelompok itu menilai negosiasi sebagai bentuk menyerah kepada pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kematian para pemimpin Iran.
“Mereka (AS) menyadari bahwa membunuh pemimpin, komandan, dan orang-orang terkasih kita tidak memakan biaya apa pun bagi mereka. Mereka memahami bahwa meskipun mereka mensyahidkan Imam kita (Ali Khamenei), masih ada kelompok di sini yang bersedia bernegosiasi, berjabat tangan dengan Witkoff, Vance, dan Kushner, serta tersenyum pada pembunuh Imam kita yang syahid,” tulis artikel tersebut.
Ketegangan juga terlihat di parlemen Iran. Tujuh legislator yang terafiliasi dengan kelompok tersebut menolak menandatangani dukungan untuk tim negosiasi pemerintah. Salah satu tokohnya, Mahmoud Nabavian, bahkan menyebut negosiasi nuklir sebagai langkah strategis yang keliru.
“Mengingat sejarah itikad buruk Amerika dan kehadiran para pendukung JCPOA (perjanjian nuklir 2015) yang memalukan bersama Bapak Ghalibaf dalam negosiasi, tidak ada harapan untuk negosiasi dan kesepakatan yang menguntungkan bagi Iran,” tulis Nabavian melalui akun X miliknya.
Bangun Pengaruh Baru di Tengah Konflik
Pasca serangan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari, kelompok Paydari dinilai berhasil membangun kekuatan baru melalui demonstrasi besar di Teheran. Ribuan pendukung garis keras turun ke jalan untuk mendesak pemerintah baru Iran agar tidak tunduk pada tekanan Barat.
Tokoh spiritual mereka, Ayatollah Mahdi Mirbaqiri, dikenal memiliki pandangan apokaliptik yang meyakini konflik besar dengan Barat akan mempercepat akhir zaman. Kelompok ini juga mulai mendapat dukungan dari generasi muda Iran yang semakin radikal akibat situasi perang berkepanjangan.
“Kelompok Paydari cepat memanfaatkan kaum muda yang berorientasi ideologis yang sekarang berada di jalanan. Mereka mencoba merepresentasikan diri mereka sebagai manifestasi dari gagasan yang diperkenalkan oleh Ali Khamenei untuk menciptakan generasi revolusioner muda yang saleh yang mampu meneruskan warisan Republik Islam,” jelas Azizi.
Mulai Terisolasi di Dalam Negeri
Meski semakin lantang, langkah kelompok garis keras itu justru mulai menuai penolakan dari berbagai kelompok politik Iran. Banyak pihak menilai aksi mereka justru memperkuat narasi Israel dan AS bahwa Iran sedang mengalami konflik internal serius.
Baca Juga : Pria Tersangka Jadi Mata-mata CIA Dihukum Mati Iran
“Tampaknya ini benar-benar menjadi bumerang bagi mereka. Mereka membuat banyak kegaduhan dan dianggap telah membantu Israel serta AS dalam menggambarkan Iran terjebak dalam perpecahan internal yang besar, namun kelompok radikal pinggiran ini mendapatkan perlawanan dari segala arah dan menjadi semakin terisolasi,” ungkap Mohammad Ali Shabani, editor Amwaj.media.
Menurut Shabani, kelompok garis keras sebenarnya tidak sepenuhnya menolak kesepakatan dengan AS. Mereka hanya ingin menjadi pihak yang memegang kendali dalam proses negosiasi tersebut demi memperkuat posisi politik di dalam negeri.
“Mereka mengatakan jika kita terus berjuang, kita bisa memaksa AS untuk menyerah dan kemudian mendikte syarat-syaratnya. Tidak ada seorang pun di Iran yang menentang kesepakatan. Ini adalah tentang taktik bagaimana mencapai kesepakatan, dan siapa yang berhak membuatnya,” pungkas Shabani.

[…] Kelompok “Super Revolusioner” Iran Bikin Damai AS-Iran Terancam […]