Konflik AS-Venezuela Memberikan Dampak ke Ekonomi Indonesia? Ini Penjelasan Ekonom
Konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela kembali menjadi sorotan dunia internasional menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Meski ketegangan di kawasan Karibia masih membayangi, prospek Washington mengambil alih kendali langsung atas negara Amerika Selatan tersebut dinilai mulai mereda pada Minggu (4/1/2026).
Bagi Indonesia, konflik AS-Venezuela dinilai tidak memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional melalui jalur perdagangan langsung. Hubungan dagang Indonesia dengan Venezuela relatif kecil, begitu pula keterkaitan dalam rantai pasok global.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menjelaskan bahwa dampak konflik lebih terasa melalui kanal keuangan, bukan perdagangan. Ketegangan geopolitik global mendorong pelaku pasar bersikap lebih hati-hati, meningkatkan permintaan terhadap dolar AS dan aset aman, serta memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Baca Juga: Proyek Hilirisasi Rp 100 Triliun Dilaporkan Rosan ke Prabowo
“Peristiwa Venezuela lebih diperlakukan pasar sebagai guncangan geopolitik dan ketidakpastian sistem, bukan guncangan/shock pasokan minyak dunia yang besar, sehingga respons yang menonjol justru terlihat pada naiknya minat ke aset aman, sementara harga minyak tidak melonjak tajam,” ujar Josua, Senin (5/1/2026).
Sentimen tersebut tercermin pada pergerakan nilai tukar rupiah di awal tahun. Pada perdagangan pembuka 2026, rupiah tercatat melemah sekitar 0,17% ke level Rp 16.753 per dollar AS. Untuk jangka pendek, Josua memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp 16.675 hingga Rp 16.775 per dollar AS.
“Artinya, konflik Venezuela memang menambah faktor ketidakpastian, tetapi dampaknya pada rupiah cenderung muncul sebagai tekanan tambahan yang menjaga rupiah tetap di area lemah, bukan sebagai pemicu pelemahan ekstrem dalam waktu singkat,” jelas dia.
Baca Juga: Dituding Tak Kooperatif, Wapres Venezuela Diancam Trump
Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman mengungkapkan konflik AS-Venezuela tak punya daya transmisi besar terhadap ekonomi Indonesia dari sisi perdagangan.
Berdasarkan data Trade Map, nilai perdagangan bilateral Indonesia-Venezuela hanya berada di kisaran 20–50 juta dollar AS per tahun. Angka tersebut tergolong sangat kecil dibandingkan total ekspor Indonesia yang telah melampaui 260 miliar dollar AS.
“Artinya, tidak ada tekanan fundamental dan besar terhadap rupiah yang bersumber dari hubungan dagang Indonesia-Venezuela,” tutur Rizal.
Ia menambahkan, tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipicu oleh sentimen global bertipe risk-off akibat eskalasi geopolitik. Secara historis, situasi seperti ini biasanya hanya memicu volatilitas jangka pendek.
“Namun karena tidak ada shock perdagangan dari Venezuela, tekanan tersebut bersifat temporer dan psikologis sangat sementara, bukan struktural,” ujar dia.
Dengan demikian, konflik AS-Venezuela dinilai tidak mengancam stabilitas ekonomi Indonesia secara fundamental, meski tetap perlu diwaspadai dari sisi sentimen pasar global.
Baca Juga: Warga Venezuela Diberi Internet Gratis oleh Elon Musk pasca Serangan AS

[…] Konflik AS-Venezuela Memberikan Dampak ke Ekonomi Indonesia? Ini Penjelasan Ekonom […]