Konflik Timur Tengah Bikin Dunia Cemas, Bank Sentral Tertekan
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mempengaruhi arah kebijakan ekonomi global. Konflik yang melibatkan Iran memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi, sehingga memaksa sejumlah bank sentral di berbagai negara meninjau ulang strategi kebijakan moneternya.
Lonjakan harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang memicu kekhawatiran tersebut. Harga minyak bahkan sempat menembus level 113 dollar AS per barel, memunculkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global serta tekanan inflasi yang lebih besar di berbagai negara.
Baca Juga: Iran Ancam Targetkan Kilang Minyak Negara Teluk, Konflik Memanas
Bank Sentral Hadapi Risiko Stagflasi
Kepala Ekonom Pasar Negara Berkembang di Dai-ichi Life Research Institute, Toru Nishihama, mengatakan situasi ini membuat banyak bank sentral berada dalam posisi yang sulit.
Menurut dia, otoritas moneter harus menghadapi tekanan dari pasar sekaligus pemerintah yang sama-sama menginginkan stabilitas ekonomi.
“Banyak bank sentral akan menghadapi keputusan sulit karena mereka berada di bawah tekanan dari pasar dan pemerintah,” ungkap Nishihama, dilansir dari Reuters, Senin (9/3/2026).
Ia juga memperingatkan bahwa konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda meningkatkan risiko terjadinya stagflasi, yaitu kondisi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat.
“Dengan tidak adanya akhir yang jelas dari konflik tersebut, risiko stagflasi meningkat dari hari ke hari,” lanjut dia.
Dampak ketegangan tersebut langsung terasa di pasar keuangan Asia. Sejumlah pasar saham dilaporkan melemah, sementara dolar Amerika Serikat menguat karena investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman.
Situasi ini menambah tekanan bagi bank sentral, terutama di negara berkembang yang harus menghadapi kenaikan biaya energi sekaligus risiko arus keluar modal.
Baca Juga: Iran Siap Perang Panjang dengan AS-Israel, Siap “Pamer” Rudal Baru
Dampak Terasa di Asia hingga Negara Maju
Di Asia, beberapa bank sentral diperkirakan akan menyesuaikan arah kebijakan moneternya.
Sumber yang mengetahui rencana kebijakan menyebut Bank Sentral India kemungkinan masih akan fokus menjaga pertumbuhan ekonomi dengan mempertahankan suku bunga tetap rendah.
Namun meningkatnya permintaan terhadap dolar AS di tengah ketidakpastian geopolitik berpotensi memaksa otoritas moneter India melakukan intervensi yang lebih besar untuk menopang nilai tukar rupee.
Tekanan serupa juga dirasakan negara dengan basis ekonomi manufaktur seperti Korea Selatan dan Jepang yang sangat bergantung pada stabilitas perdagangan global serta harga bahan baku yang relatif murah.
Ekonom Citigroup Kim Jin-wook menilai Bank Sentral Korea untuk sementara belum akan menaikkan suku bunga hanya karena lonjakan harga minyak.
“Untuk saat ini, kami tetap percaya Bank Sentral Korea kemungkinan tidak akan menaikkan suku bunga kebijakan sebagai respons terhadap harga minyak yang lebih tinggi dari perkiraan,” terang Kim.
Ia menilai kebijakan pemerintah yang menahan harga bahan bakar turut membantu membatasi dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi domestik.
Sementara itu, di negara maju seperti Jepang, tekanan kebijakan juga semakin terasa karena inflasi telah melampaui target 2 persen selama hampir empat tahun terakhir.
Riset Nomura memperkirakan jika harga minyak bertahan di sekitar 110 dollar AS per barel selama satu tahun, pertumbuhan ekonomi Jepang dapat berkurang sekitar 0,39 poin persentase.
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, juga memperingatkan bahwa lonjakan harga energi berpotensi memperluas tekanan inflasi global.
Menurutnya, kenaikan harga minyak sebesar 10 persen yang berlangsung sepanjang tahun dapat meningkatkan inflasi global sekitar 40 basis poin.
“Kita melihat ketahanan ekonomi kembali diuji oleh konflik baru di Timur Tengah,” ujar Georgieva dalam sebuah simposium di Tokyo.
“Saran saya kepada para pembuat kebijakan dalam lingkungan global baru ini adalah pikirkan hal yang tak terbayangkan dan bersiap menghadapinya,” pungkas dia.
Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$113/Barel, Trump Bilang Begini
