Harga Minyak Tembus US$113/Barel, Trump Bilang Begini
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, merespons kekhawatiran publik terkait lonjakan harga minyak dunia yang menembus US$100 per barel pada Minggu. Meski harga energi melonjak tajam, Trump menilai situasi tersebut tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
Berdasarkan data hingga pukul 09.20 WIB, harga minyak Brent crude oil tercatat berada di level US$113,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$113,25 per barel.
Baca Juga : Krisis Energi Memanas, Filipina Terapkan Sistem 4 Hari Kerja
“Harga minyak jangka pendek, yang akan turun dengan cepat ketika penghancuran ancaman nuklir Iran berakhir, adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar demi AS, dan Dunia, Keamanan dan Perdamaian,” ujar Trump di laman media sosialnya.
“HANYA ORANG BODOH YANG AKAN BERPIKIR BERBEDA!” Trump menulis di Truth Social.
Lonjakan harga minyak pada Minggu ini menjadi yang pertama kali menembus US$100 per barel sejak Invasi Rusia ke Ukraina 2022. Para investor khawatir konflik yang melibatkan Iran dapat memicu pembatasan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah dalam waktu lama.
Trump selama ini sering menyoroti penurunan harga bensin dalam berbagai pidatonya, baik di Gedung Putih maupun dalam berbagai kunjungan ke sejumlah daerah di Amerika Serikat.
Namun sejak pertempuran di Iran pecah sekitar sepekan lalu, harga bensin di AS dilaporkan naik 47 sen atau sekitar 16 persen menjadi US$3,45 per galon untuk bensin reguler, berdasarkan data dari American Automobile Association (AAA) pada Minggu.
Meski demikian, Trump dan sejumlah pejabat pemerintah berupaya menenangkan publik dengan menyebut kenaikan harga tersebut hanya bersifat sementara.
“Harga bensin hari ini masih US$1,50 per galon lebih murah daripada di pertengahan pemerintahan Biden, tetapi Anda benar, kami ingin harganya kembali di bawah US$3 per galon, dan itu akan terjadi lagi dalam waktu singkat,” kata Menteri Energi Chris Wright kepada Jake Tapper dari CNN International.
Sementara itu, sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyebut kenaikan harga di stasiun pengisian bahan bakar hanya sebagai gangguan jangka pendek.
“Kenaikan biaya di SPBU sebagai gangguan jangka pendek,” kata sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt.
Lonjakan harga minyak saat ini dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang meningkat. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global.
Baca Juga : Isu Pengkhianat di Ring 1 Iran Mencuat, Singgung Mossad?
Perhatian utama tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia.
Selain itu, sejumlah produsen minyak di Timur Tengah mulai menekan produksi akibat serangan balasan Iran yang meningkatkan risiko keamanan di kawasan tersebut.
Gangguan pasokan juga terjadi di Irak. Tiga pejabat industri menyatakan kepada Reuters bahwa produksi dari tiga ladang minyak utama di wilayah selatan Irak turun sekitar 70 persen menjadi sekitar 1,3 juta barel per hari, dari sebelumnya sekitar 4,3 juta barel per hari.

[…] Harga Minyak Tembus US$113/Barel, Trump Bilang Begini […]
[…] Harga Minyak Tembus US$113/Barel, Trump Bilang Begini […]