Kuba Krisis BBM, Dampak Blokade Minyak AS
Pekan terakhir Februari semestinya menjadi momen penyelenggaraan Festival Habanos edisi ke-26, agenda tahunan yang mempertemukan kolektor, distributor, dan pebisnis tembakau dari berbagai negara.
Namun pada Sabtu (14/2), Habanos S.A. selaku pemegang monopoli global cerutu Kuba mengumumkan penundaan acara tersebut. Dengan alasan menjaga “standar kualitas tertinggi”, dan jadwal penggantinya belum diumumkan.
Pulau dengan populasi sekitar 11 juta jiwa itu tengah menghadapi pemadaman listrik berkepanjangan, serta krisis bahan bakar terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah menerapkan langkah penghematan ketat, dengan menutup sejumlah hotel sementara, wisatawan dipindahkan untuk mengurangi konsumsi energi, dan layanan terhadap transportasi publik dibatasi.
Baca Juga : Ini Fakta Mengejutkan tentang Board of Peace!
Pasokan avtur juga dikabarkan menipis, sehingga tiga maskapai Kanada membatalkan penerbangan karena tidak dapat mengisi bahan bakar di bandara Kuba. Sedangkan, maskapai lain tetap beroperasi, tetapi harus singgah di Republik Dominika untuk mengisi tangki.
Krisis energi ini terjadi karena adanya tekanan eksternal. Di mana pada akhir Januari, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan mengenakan tarif ke pada negara mana pun yang memasok minyak ke Kuba.
Washington menyebut kebijakan tersebut sebagai bagian dari upaya mendorong reformasi politik dan ekonomi di Havana.
Kuba mengimpor sekitar 60 persen kebutuhan energinya. Selama bertahun-tahun, negara itu bergantung pada pasokan dari Venezuela dan Meksiko. Namun pengiriman dari Caracas terhenti setelah operasi militer Amerika Serikat yang menggulingkan Nicolas Maduro, serta peningkatan pengawasan terhadap industri minyak Venezuela. Meksiko kemudian menghentikan suplai menyusul ancaman tarif dari Washington.
Di tengah situasi tersebut, perusahaan negara Tabacuba menyebut penundaan festival dipicu oleh “situasi ekonomi kompleks” akibat “blokade ekonomi, komersial, dan finansial” yang diperketat Amerika Serikat.
Kota Bau Sampah
Dampak krisis tidak hanya terasa pada agenda internasional, tetapi juga di jalan-jalan Havana.
Kardus, plastik, botol bekas, dan kain lap menumpuk di trotoar ibu kota tersebut. Lalat beterbangan dan bau menyengat tercium dari tumpukan sampah. Media pemerintah melaporkan hanya 44 dari 106 truk pengangkut sampah yang masih beroperasi akibat kekurangan solar, sehingga pengelolaan limbah terganggu.
“Sudah lebih dari 10 hari tak ada truk sampah datang,” kata Jose Ramon Cruz, warga setempat.
Warga di sejumlah kota lain juga menyuarakan kekhawatiran terkait risiko kesehatan melalui media sosial. Pemerintah menerapkan sistem penjatahan, untuk menjaga layanan dasar tetap berjalan di tengah kelangkaan pangan, bahan bakar, dan obat-obatan.
Embargo Amerika Serikat terhadap Kuba telah berlangsung lebih dari 50 tahun. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahan Trump memperketat sanksi dengan menargetkan kapal pengangkut minyak ke Kuba, serta mengancam tarif bagi negara pemasok.
Washington menyebut langkah itu sebagai tekanan politik. Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berulang kali menyerukan penghentian embargo, dan Meksiko serta Venezuela memperingatkan potensi dampak kemanusiaan jika pasokan bahan bakar terus diblokade.
PBB: Hentikan Blokade
Di Jenewa, kantor hak asasi manusia PBB menyoroti dampak krisis yang kian memburuk. Pernyataan dari Volker Turk, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, yang disampaikan melalui juru bicaranya, menegaskan bahwa pembatasan pasokan minyak ke Kuba tidak hanya memperdalam krisis sosial-ekonomi, tetapi juga berisiko memicu tragedi kemanusiaan.
Rumah sakit yang bergantung pada pasokan energi menghadapi kekurangan bahan bakar, sehingga operasional unit perawatan intensif, instalasi gawat darurat, hingga penyimpanan vaksin dan obat-obatan sensitif suhu terganggu.
“Tujuan kebijakan tidak bisa dibenarkan, jika tindakan itu sendiri melanggar hak asasi manusia,” demikian pernyataannya, dan PBB kembali menyerukan penghentian sanksi sepihak tersebut.
Di tengah situasi ini, pemerintah Spanyol menyatakan akan menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Kuba melalui mekanisme PBB berupa bahan pangan dan produk kesehatan esensial. Keputusan itu diumumkan setelah pertemuan menteri luar negeri kedua negara pada Senin (16/2). Sebelumnya, Meksiko telah mengirimkan 800 ton bantuan melalui dua kapal angkatan lautnya.
Trump ‘tawarkan’ Jalan Keluar
Presiden Donald Trump pada Senin (16/2) menyebut Kuba sebagai “negara gagal” dan menyerukan agar pemerintah Havana mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.
Ia juga membantah anggapan bahwa Washington tengah menjalankan operasi pergantian rezim.
Baca Juga : Prabowo Siap Bahas Tarif dengan Trump Setibanya di AS
“Kuba saat ini adalah negara yang gagal,” ujar pemimpin AS itu kepada para wartawan di atas pesawat Air Force One.
Namun ketika ditanya apakah Amerika Serikat akan menggulingkan pemerintahan Kuba seperti saat menyerbu Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro, Trump menjawab, bahwa hal itu tidak diperlukan.

[…] Kuba Krisis BBM, Dampak Blokade Minyak AS […]
[…] Kuba Krisis BBM, Dampak Blokade Minyak AS […]
[…] Kuba Krisis BBM, Dampak Blokade Minyak AS […]