Minyak Rusia Direbut China, India Mulai Terdesak
Impor minyak mentah Rusia oleh India diperkirakan merosot tajam pada Agustus 2026. Penurunan tersebut terjadi ketika China kembali meningkatkan pembelian minyak Rusia untuk menutup berkurangnya pasokan dari Iran.
Kondisi ini membuat India dan China harus bersaing lebih ketat dalam mendapatkan minyak mentah Rusia yang selama ini menjadi salah satu sumber pasokan dengan harga relatif murah.
“Jika China, yang mengimpor sebagian besar minyak mentah Iran, terpaksa mencari pasokan dari tempat lain, hal ini akan meningkatkan persaingan untuk mendapatkan kargo alternatif yang diandalkan oleh India,” kata Analis Riset Utama Kpler Sumit Ritolia dikutip dari Indiashippingnews, Jumat (28/8/2026).
Baca Juga : Saudi Tegaskan Palestina Merdeka Jadi Syarat Normalisasi Israel
Berdasarkan data Kpler yang dikutip Reuters, volume minyak Rusia yang masuk ke India diperkirakan hanya sekitar 1,87 juta barel per hari (bpd) pada Agustus. Angka tersebut turun jauh dibandingkan rekor 2,79 juta bpd pada Juli dan 2,73 juta bpd pada Juni.
Penurunan paling besar terjadi pada pengiriman dari pelabuhan-pelabuhan Rusia di kawasan Eropa. Volume pasokan dari wilayah tersebut menyusut sekitar 770.000 bpd atau hampir 30% sepanjang Agustus.
Padahal, pada Juli lalu Rusia menyumbang sekitar 50,83% dari keseluruhan impor minyak mentah India. Secara total, impor minyak India pada Agustus diperkirakan berada di angka 4,17 juta bpd. Angka tersebut menjadi yang terendah sejak perang Iran dimulai, sekaligus turun dari 5,06 juta bpd pada Juli.
China Tingkatkan Pembelian Minyak Rusia
Di tengah penurunan pasokan ke India, China justru meningkatkan pembelian minyak Rusia melalui jalur laut. Impor minyak mentah Rusia oleh China diperkirakan mencapai 1,25 juta bpd pada Agustus, salah satu level tertinggi sejak April.
Lonjakan pembelian tersebut tidak terlepas dari kebutuhan Beijing untuk menggantikan pasokan minyak Iran yang semakin terbatas.
China diperkirakan hanya memperoleh sekitar 340.000 bpd minyak mentah dari Iran sepanjang Agustus. Jumlah tersebut hanya sekitar sepertiga dari 1,14 juta bpd yang diimpor China pada Maret, sebelum serangan AS dan Israel menyebabkan Selat Hormuz praktis tertutup bagi lalu lintas perdagangan.
Perusahaan minyak milik negara China, Sinopec, bahkan dilaporkan telah membeli sekitar 30 hingga 40 kargo minyak mentah ESPO Rusia untuk pengiriman pada periode Juli hingga September.
Sementara itu, minyak Rusia yang dikirim melalui pelabuhan Eropa kini menyumbang sekitar 31% dari total impor minyak Rusia melalui laut oleh China pada Agustus. Porsinya meningkat dari 22% pada Juni.
Perubahan tersebut membuat China semakin berhadapan langsung dengan kilang-kilang India dalam memperebutkan pasokan minyak Rusia.
Persaingan pasokan energi juga semakin berat setelah Amerika Serikat mengumumkan sanksi baru pada 24 Agustus. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut kebijakan tersebut sebagai bagian dari tekanan ekonomi untuk memutus sisa hubungan finansial Iran dengan dunia internasional.
Para analis menilai kebijakan tersebut berpotensi membuat China semakin bergantung pada minyak Rusia maupun sumber alternatif lainnya.
Baca Juga : Iran Krisis BBM Imbas Blokade AS Hambat Impor Bahan Bakar
Dampaknya tidak hanya terasa pada perdagangan minyak, tetapi juga terhadap kondisi keuangan negara-negara pengimpor. Analis Grant Thornton Bharat, Praveen Rai, memperkirakan kenaikan harga minyak mentah sebesar 10 dollar AS per barel dapat memperlebar defisit transaksi berjalan India sekitar 0,3 hingga 0,4% terhadap PDB.
Tekanan juga datang dari biaya logistik. Tarif pengiriman di sejumlah jalur pasokan utama tercatat melonjak antara 137% hingga 411% sejak akhir Februari.
Di saat yang sama, premi asuransi risiko perang untuk satu kali pelayaran melewati Selat Hormuz telah meningkat hingga sekitar 7,5 juta-10 juta dollar AS.
Dengan harga minyak mentah Brent yang masih berada di sekitar 92 dollar AS per barel dan ketergantungan India terhadap impor minyak mencapai hampir 90% dari total kebutuhannya, perubahan arus perdagangan minyak dunia membuat posisi New Delhi semakin tertekan.
India kini harus menghadapi kombinasi antara pasokan minyak Rusia yang menyusut, persaingan dengan China yang semakin agresif, serta biaya pengiriman dan risiko geopolitik yang terus meningkat.
