Negara Mana yang Paling Bergantung pada Selat Hormuz? Ini Daftarnya
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah muncul wacana potensi penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Jalur laut strategis ini menjadi penghubung utama distribusi minyak dari kawasan Teluk ke berbagai negara di dunia.
Kekhawatiran pun meningkat, terutama bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada pasokan energi dari jalur tersebut.
Peran Selat Hormuz bagi Perdagangan Energi Dunia
Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Dalam sistem energi global, jalur ini menjadi salah satu chokepoint paling krusial karena dilalui sekitar 17 hingga 20 juta barel minyak per hari atau hampir seperlima konsumsi minyak dunia.
Berdasarkan data, ekspor minyak melalui Selat Hormuz didominasi oleh negara-negara Teluk.
Arab Saudi menjadi penyumbang terbesar dengan porsi sekitar 37,2 persen, disusul Irak 22,8 persen, Uni Emirat Arab 12,9 persen, Iran 10,6 persen, dan Kuwait 10,1 persen.
Sementara itu, Qatar menyumbang sekitar 4,4 persen dan negara lainnya sekitar 1,9 persen.
Selain minyak mentah, jalur ini juga menjadi rute penting untuk distribusi gas alam cair (LNG), terutama dari Qatar.
Baca Juga: Selat Hormuz Punya Siapa? Jalur Penting Energi Dunia
Asia Paling Rentan terhadap Penutupan Selat Hormuz
Sebagian besar energi yang melewati Selat Hormuz justru dikirim ke kawasan Asia.
Data menunjukkan China menjadi pengimpor terbesar dengan porsi sekitar 37,7 persen dari total aliran minyak melalui jalur tersebut.
India menyusul dengan 14,7 persen, kemudian negara Asia lainnya 13,9 persen, Korea Selatan 12 persen, dan Jepang 10,9 persen.
Sebaliknya, Eropa hanya menyerap sekitar 3,8 persen, sementara Amerika Serikat sekitar 2,5 persen, menunjukkan ketergantungan yang jauh lebih kecil.
Tingginya ketergantungan ini membuat Asia menjadi kawasan paling rentan jika terjadi gangguan distribusi energi.
Dalam konteks ini, pernyataan Iran turut menjadi perhatian global.
“Kami sebelumnya telah mengatakan, berdasarkan hukum dan resolusi internasional, pada masa perang, Republik Islam Iran akan memiliki hak untuk mengontrol jalur melalui Selat Hormuz,” kata pihak Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Namun Iran menegaskan bahwa jalur tersebut belum sepenuhnya ditutup.
“Kami belum menutup Selat Hormuz. Jika kami akan menutupnya, kami akan mengumumkannya. Selat itu belum ditutup oleh kami. Kami tidak berniat melakukannya sampai pemberitahuan lebih lanjut,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh.
“Pada masa perang, jalur melalui Selat Hormuz akan berada di bawah kendali Republik Islam Iran,” imbuhnya.
Dampak Global jika Selat Hormuz Ditutup
Potensi penutupan Selat Hormuz dipandang sebagai ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global.
Gangguan pada jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia, bahkan dalam skenario ekstrem bisa menembus lebih dari US$ 100 per barel.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara pengimpor energi, tetapi juga dapat memicu inflasi global serta memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.
Dengan dominasi negara Asia sebagai tujuan utama ekspor energi, kawasan ini menjadi pihak yang paling terdampak jika distribusi minyak melalui Selat Hormuz terganggu.
Baca Juga: Sekutu Diajak Trump Amankan Selat Hormuz, Ini Tanggapan Negara-negaranya

[…] Negara Mana yang Paling Bergantung pada Selat Hormuz? Ini Daftarnya […]
[…] Baca Juga : Ini Daftar Negara yang Paling Bergantung pada Selat Hormuz! […]