Perang AS-Iran Memanas Lagi, Ini 6 Pertanyaan Besarnya
Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memasuki fase penuh ketidakpastian setelah gencatan senjata yang berlangsung selama tiga bulan berakhir. Meski pertempuran kembali pecah, kedua pihak hingga kini belum menunjukkan keunggulan strategis yang jelas.
Di tengah kebuntuan tersebut, tekanan politik terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump mulai meningkat, termasuk dari sejumlah pendukungnya sendiri di Partai Republik.
“Operasi militer AS saat ini berada dalam posisi ditahan setelah dua pekan berturut-turut melakukan serangan malam hari,” ungkap sumber Departemen Pertahanan AS kepada CNN, Minggu (26/7/2026) waktu setempat.
Situasi ini memunculkan sejumlah pertanyaan besar mengenai masa depan konflik AS-Iran. Berikut enam pertanyaan krusial yang menjadi sorotan, berdasarkan analisis CNN.
1. Apakah Partai Republik Mulai Mendesak Trump Mengakhiri Perang?
Sejumlah tokoh Partai Republik yang sebelumnya mendukung operasi militer terhadap Iran mulai mempertanyakan lamanya konflik berlangsung.
Pembawa acara Fox News Laura Ingraham hingga Ketua DPR AS Mike Johnson menilai perang perlu segera diselesaikan sebelum Pemilu Sela November mendatang.
Baca Juga : Mertua Mojtaba Ungkap Kondisi Menantu yang Tidak Berkomunikasi
“Waktu terus berjalan bagi Presiden Trump untuk keluar dari perang ini sebelum pemilih pergi ke TPS. Partai Republik tidak boleh membiarkan ini menjadi gangguan tanpa akhir,” ujar Laura Ingraham.
Senator Bill Cassidy dari Louisiana juga menilai Trump sebenarnya telah memiliki peluang untuk mencapai tujuan awal perang. Namun, hingga kini konflik belum menemukan penyelesaian.
Hambatan utama bagi Trump adalah tidak adanya jalan keluar yang mudah. Iran masih menolak proposal perdamaian, sementara ancaman serangan lanjutan AS belum mampu mengubah sikap Teheran.
Meski mendapat tekanan politik, Trump menyatakan keputusan strategisnya tidak akan dipengaruhi oleh agenda Pemilu Sela.
2. Apakah Korban Jiwa Prajurit AS Akan Mengubah Dukungan Publik?
Meningkatnya jumlah korban militer AS menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi opini publik terhadap perang.
Trump disebut mulai khawatir dengan kematian prajurit AS pertama sejak Maret lalu. Sejak rangkaian serangan terbaru berlangsung, sedikitnya empat tentara AS tewas, sehingga total korban meninggal mencapai 18 orang.
“Keluarga korban dan para prajurit yang gugur pada dasarnya mendukung penuh upaya perang ini,” klaim Trump tanpa menyertakan bukti pendukung.
Sementara itu, survei Reuters/Ipsos menunjukkan 42% pemilih Republik dan 53% pemilih independen menyatakan korban jiwa prajurit AS dapat membuat mereka semakin menolak perang.
Pentagon juga dilaporkan mencatat tambahan sekitar 140 prajurit terluka, sehingga jumlah korban luka mencapai lebih dari 600 orang.
Selain korban militer, kenaikan harga bahan bakar juga menjadi alasan masyarakat AS mulai mempertanyakan tujuan perang.
3. Apakah Trump Akan Memilih Eskalasi Militer Lebih Besar?
Kebuntuan perang dapat mendorong Trump mengambil langkah yang lebih agresif demi menghindari kesan kalah dalam konflik.
Salah satu opsi yang muncul adalah menyerang infrastruktur penting Iran. Namun, langkah tersebut memiliki risiko besar, termasuk tuduhan pelanggaran hukum internasional.
Pilihan lain adalah menguasai wilayah strategis seperti Pulau Kharg atau kawasan sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak Iran.
Namun, operasi darat tersebut mendapat penolakan luas dari masyarakat AS. Berdasarkan survei CNN, sekitar 68% warga Amerika menolak pengerahan pasukan darat.
“Saya saat ini sedang mempertimbangkan serangan masif yang lebih besar dari yang pernah ada sebelumnya,” ungkap Trump dalam wawancara dengan Axios.
Penghentian sementara serangan akhir pekan lalu disebut bertujuan membuka ruang diplomasi. Namun, sejumlah pejabat AS dilaporkan khawatir eskalasi lanjutan dapat menguras persediaan amunisi.
4. Seberapa Besar Dampak Perang terhadap Harga BBM?
Konflik AS-Iran juga berdampak terhadap pasar energi global. Situasi semakin rumit setelah kelompok Houthi di Yaman mengumumkan blokade Selat Bab al-Mandeb dan menyerang sejumlah kapal Arab Saudi di Laut Merah.
Gangguan terhadap jalur perdagangan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar karena Selat Bab al-Mandeb menjadi rute penting yang berkaitan dengan distribusi energi dunia.
Harga minyak mentah global bahkan menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei lalu. Di Amerika Serikat, harga rata-rata bensin juga naik melewati US$4 per galon.
“Melonjaknya harga bensin melebihi US$4 per galon akan menyulitkan Trump untuk membela argumen perang di hadapan publik dan sekutunya,” tulis analisis CNN.
5. Apakah Trump Akan Menurunkan Target Perang?
Sejak awal konflik, Trump menetapkan target besar, termasuk meminta Iran melakukan “penyerahan diri tanpa syarat” serta menghentikan ambisi nuklir secara permanen.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan kemungkinan perubahan target yang lebih realistis.
Pertanyaan besarnya kini adalah apakah Trump bersedia menerima kompromi agar AS dapat keluar dari konflik tanpa kehilangan muka secara politik.
Salah satu kemungkinan adalah menerima pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa adanya kesepakatan nuklir secara menyeluruh.
“Iran pada dasarnya telah denuklirisasi dan aktivitasnya cukup dipantau dari luar angkasa,” dalih Trump sebelumnya.
Pendekatan tersebut berpotensi memengaruhi hubungan AS dengan negara-negara sekutunya.
6. Apakah Kongres AS Akan Mengambil Langkah Tegas?
Kongres AS mulai menunjukkan kekhawatiran terhadap dampak perang, terutama menjelang Pemilu Sela.
Salah satu bentuk tekanan yang dapat dilakukan adalah menahan atau membatasi anggaran perang. Selain itu, Kongres juga memiliki kewenangan menggunakan War Powers Act untuk membatasi wewenang presiden dalam menjalankan operasi militer.
Baca Juga : Iran Siap Hentikan Serangan Asal AS Tidak Membombardir Lagi
DPR AS sebelumnya telah dua kali melakukan pemungutan suara terkait pembatasan kewenangan perang, sementara Senat baru melakukannya satu kali.
Sejumlah anggota Kongres juga menolak klaim pemerintah bahwa jeda serangan membuat konflik terbagi menjadi dua perang berbeda sehingga batas waktu aturan perang tidak berlaku.
“Hanya karena Anda menghentikan perang dan memulainya lagi beberapa hari kemudian, itu tidak berarti apa-apa bagi Konstitusi,” tegas Anggota DPR AS Nancy Mace.
Senator Lisa Murkowski dan Bill Cassidy juga menunjukkan sikap serupa. Cassidy bahkan menyebut Kongres mungkin perlu segera mengambil tindakan terhadap konflik tersebut.
Dengan tekanan politik yang meningkat, korban perang yang bertambah, serta ancaman terhadap ekonomi global, masa depan perang AS-Iran masih menjadi salah satu isu geopolitik paling menentukan saat ini.

[…] Perang AS-Iran Memanas Lagi, Ini 6 Pertanyaan Besarnya […]
[…] Perang AS-Iran Memanas Lagi, Ini 6 Pertanyaan Besarnya […]