Perang Memanas, Iran Ajak Negara Teluk Keluar dari Bayang-bayang AS
Ketegangan di Timur Tengah memicu seruan dari Iran agar negara-negara di kawasan meninjau kembali hubungan regional mereka. Seruan ini muncul di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel yang dinilai berdampak luas terhadap stabilitas kawasan.
Duta Besar Iran untuk Arab Saudi Alireza Enayati mengatakan negara-negara di Teluk perlu mengevaluasi kembali hubungan mereka dengan Teheran di tengah dinamika keamanan yang semakin kompleks.
“Itu pertanyaan yang valid, dan jawabannya mungkin sederhana. Kita adalah tetangga dan kita tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Kita akan membutuhkan peninjauan serius,” kata Enayati dalam wawancara dengan Reuters, Selasa (17/3/2026).
Baca juga: Bahlil Sebut Dapat Angin Segar, soal Selat Hormuz Buka-Tutup
Iran Serukan Peninjauan Hubungan dengan Negara Teluk
Menurut Enayati, pola keamanan di kawasan selama puluhan tahun terakhir banyak dipengaruhi oleh pendekatan eksklusif serta ketergantungan terhadap kekuatan eksternal.
Karena itu, ia mendorong negara-negara Teluk untuk memperkuat kerja sama regional, termasuk dengan Iran dan Irak, guna menciptakan stabilitas kawasan yang lebih berkelanjutan.
Seruan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah konflik pecah pada 28 Februari lalu.
Sejak saat itu, negara-negara Teluk dilaporkan menghadapi lebih dari 2.000 serangan rudal dan drone yang menargetkan berbagai fasilitas strategis.
Serangan tersebut menyasar misi diplomatik, pangkalan militer Amerika Serikat, hingga infrastruktur vital seperti fasilitas minyak, pelabuhan, bandara, dan kawasan permukiman.
Uni Emirat Arab disebut menjadi salah satu negara yang paling terdampak dari rangkaian serangan tersebut, meskipun seluruh negara Teluk juga merasakan dampaknya.
Sejumlah negara di kawasan bahkan mengecam Iran terkait eskalasi konflik yang terjadi.
Namun, di sisi lain, beberapa analis menilai negara-negara Teluk mulai menunjukkan ketidakpuasan terhadap Amerika Serikat yang selama ini menjadi penjamin keamanan kawasan.
Baca Juga: Sekutu Diajak Trump Amankan Selat Hormuz, Ini Responsnya
Iran Bantah Serangan ke Fasilitas Minyak Saudi
Di Arab Saudi sendiri, beberapa serangan dilaporkan menargetkan wilayah timur yang merupakan pusat produksi minyak kerajaan.
Serangan tersebut disebut terjadi di sekitar Pangkalan Udara Pangeran Sultan dekat Riyadh serta kawasan diplomatik di pinggiran ibu kota.
Meski demikian, Enayati menegaskan bahwa Iran tidak bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi, termasuk kilang Ras Tanura dan dugaan serangan drone terhadap ladang minyak Shaybah.
“Iran bukanlah pihak yang bertanggung jawab atas serangan-serangan ini, dan jika Iran yang melakukannya, mereka pasti akan mengumumkannya,” ujarnya.
Ia juga menyebut Iran hanya menargetkan kepentingan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik yang sedang berlangsung.
Enayati menambahkan komunikasi antara Iran dan Arab Saudi tetap berjalan meskipun situasi kawasan memanas.
Hubungan kedua negara, menurut dia, juga terus berkembang secara alami dalam beberapa bidang, termasuk koordinasi kepulangan warga Iran yang berada di Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji serta bantuan medis bagi mereka yang membutuhkan.
Selain itu, Teheran juga tengah berdiskusi dengan Riyadh mengenai pernyataan Arab Saudi yang menegaskan wilayah darat, laut, dan udaranya tidak akan digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Enayati menilai konflik yang terjadi saat ini merupakan perang yang dipaksakan kepada Iran dan kawasan.
“Hanya dengan begitu kita dapat fokus membangun kawasan yang makmur,” pungkas dia.
Baca Juga: Pemimpin Iran Jadi Sorotan, Laporan Intelijen AS Bikin Geger!
