Perusahaan Baru Telkom Disebut akan Sebesar Telkomsel
Telkom Indonesia tengah menyiapkan langkah strategis melalui pembentukan perusahaan infrastruktur baru bernama Infranexia atau PT Telkom Infrastruktur (TIF). Anak usaha ini diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan baru yang nilainya kelak disebut-sebut dapat mendekati bahkan menyamai peran Telkomsel, yang selama ini menjadi kontributor pendapatan terbesar bagi Telkom Group.
Sepanjang Januari hingga September 2025, Telkom membukukan pendapatan sebesar Rp 109,6 triliun. Dari jumlah tersebut, Telkomsel menyumbang Rp 81,3 triliun, menegaskan posisinya sebagai tulang punggung bisnis perseroan. Namun ke depan, Telkom ingin mengurangi ketergantungan pada satu sumber pendapatan dengan mendorong pertumbuhan unit bisnis lain.
Baca Juga: Transaksi Mata Uang Lokal Diperkuat di Indonesia-Jepang
Strategi Telkom Membangun Mesin Pendapatan Baru
Direktur Strategic Business Development & Portofolio Telkom, Seno Soemadji, menjelaskan bahwa hingga 2030, komposisi kontribusi pendapatan anak usaha Telkom ditargetkan mengalami perubahan signifikan. Pendapatan dari unit bisnis di luar Telkomsel akan digenjot agar tumbuh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan Telkomsel itu sendiri.
Menurut Seno, penurunan proporsi kontribusi Telkomsel bukan berarti nilai pendapatannya ditekan.
“Bukan artinya, number absolutenya Telkomsel diturunkan ya, tapi number absolutenya tetap tinggi. Namun, kita akan membangun beberapa engine yang baru,” terang Seno, dalam press conference, di Jakarta, Kamis (18/12/2025).
Sumber pertumbuhan baru tersebut antara lain berasal dari Infranexia, bisnis data center, serta layanan B2B ICT. Telkom menargetkan pada 2030 kontribusi Telkomsel dan unit bisnis lainnya dapat mendekati komposisi seimbang, meski tidak harus persis 50:50.
Baca Juga: Insentif untuk Korban Bencana Aceh-Sumatera Disiapkan Menkeu
Peran Infranexia dalam Ekosistem Telkom Group
Sementara itu, Direktur Network Telkom, Nanang Hendarno, menyebut Infranexia akan berperan sebagai penyedia infrastruktur yang tidak hanya melayani Telkomsel, tetapi juga pelanggan lain. Kebutuhan jaringan Telkomsel, termasuk pembangunan BTS 5G dan pengembangan teknologi ke depan seperti 6G, akan menjadi bagian dari layanan yang disiapkan oleh TIF.
“Pasti akan memenuhi kebutuhan Telkomsel sebagai salah satu pelanggan TIF ini,” tutur Nanang.
Infranexia dijadwalkan mulai beroperasi penuh pada awal 2026. Saat ini, Telkom telah melakukan pemisahan aset dengan target fase pertama mencapai sekitar 50%. Langkah ini menjadi fondasi penting agar TIF dapat berdiri sebagai entitas yang fokus dan efisien dalam pengelolaan infrastruktur telekomunikasi.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menambahkan bahwa kehadiran TIF diharapkan mampu memperluas cakupan konektivitas bagi berbagai pemangku kepentingan. Dengan model bisnis wholesale yang lebih transparan dan efisien, Telkom menargetkan percepatan implementasi strategi Telkom30 serta penguatan peran Telkom Group sebagai ekosistem digital nasional yang inklusif dan berdaya saing.
“Akan memungkinkan telkom mempercepat implementasi Telkom30-nya melalui peningkatan efisiensi operasional, transparansi model bisnis wholesale serta kekuatan peran telkom grup sebagai ecosystem digital nasional yang inklusif dan berdaya saing,” pungkas Dian.
