Purbaya Akui Sempat Cemas Ekonomi RI Melambat di Kuartal II
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku sempat khawatir pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami perlambatan tajam pada kuartal II-2026 setelah mencatat kinerja kuat pada tiga bulan pertama tahun ini.
Kekhawatiran tersebut muncul karena berkembangnya berbagai pandangan di media sosial yang menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy) tidak mencerminkan kondisi riil perekonomian.
“Tadinya saya khawatir kuartal II akan jatuh tajam,” kata Purbaya saat rapat kerja dengan Komite IV DPR di Jakarta, Senin (22/6/2026).
Baca Juga: Kekuatan Ekonomi RI Dijelaskan Purbaya di Hadapan China
Meski demikian, Purbaya mengatakan dirinya tidak hanya berpatokan pada persepsi yang berkembang, melainkan menelaah berbagai indikator ekonomi untuk melihat kondisi sebenarnya di lapangan.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah pertumbuhan kredit perbankan yang hingga Mei 2026 masih tumbuh hampir 12 persen.
Menurut dia, data tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi riil masih berlangsung cukup kuat.
“Dari sini saya agak lega, ternyata cukup kuat dan Mei tadi saya bilang pertumbuhan kredit tumbuh doubel digit, artinya ada aktivitas riil di perekonomian,” tegasnya.
Selain pertumbuhan kredit, Purbaya juga mencermati sejumlah indikator lain yang menunjukkan daya tahan ekonomi nasional masih terjaga.
Konsumsi masyarakat, misalnya, masih menunjukkan peningkatan yang tercermin dari Mandiri Spending Index (MSI) yang mencapai level 123,2 pada Mei 2026.
Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen masih berada di zona optimistis pada level 120,9 meski mengalami sedikit penurunan dibandingkan periode sebelumnya.
Purbaya juga menyoroti lonjakan penjualan kendaraan bermotor yang dinilai menjadi sinyal positif bagi aktivitas ekonomi domestik.
Penjualan mobil tercatat meningkat 55 persen, sedangkan penjualan sepeda motor tumbuh 28,1 persen setelah sebelumnya mengalami kontraksi pada Maret 2026.
Di sektor energi, konsumsi listrik nasional juga masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat.
Baca Juga: Pemadaman Berkurang, Sistem Kelistrikan Jawa Disebut PLN Membaik
Total penjualan listrik meningkat sekitar 19 persen, didorong oleh kenaikan konsumsi rumah tangga sebesar 23 persen, sektor bisnis 11,9 persen, dan industri 17,1 persen.
Indikator lainnya datang dari konsumsi semen domestik yang naik 35,6 persen, mencerminkan masih berlangsungnya aktivitas pembangunan dan berbagai program pemerintah.
Kinerja sektor manufaktur juga menunjukkan perbaikan dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) S&P Global yang kembali berada di level 50, menandakan aktivitas industri berada di zona ekspansif.
Berdasarkan berbagai indikator tersebut, Purbaya menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 masih sejalan dengan kondisi ekonomi riil yang terjadi di lapangan.
“Jadi memang ada perbaikan riil di daya beli masyarakat, jadi angka ini menunjang angka pertumbuhan Kuartal I-2026 yang 5,61%. Jadi kita kalau lihat data PDB kita bandingkan dengan data-data lain, inline apa enggak? sepertinya sekarang masih inline,” tegas Purbaya.
