Purbaya Tegaskan Defisit APBN Tetap Dijaga di Bawah 3%
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah akan tetap menjaga disiplin fiskal dengan mempertahankan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di bawah 3% sesuai ketentuan undang-undang.
Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya dalam Rapat Kerja Komite IV DPD RI pada Senin (22/6/2026), sekaligus menanggapi banyaknya permintaan penambahan anggaran dari kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah.
Menurutnya, pemerintah memiliki ruang untuk menjalankan anggaran secara fleksibel guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah. Namun, tidak seluruh usulan tambahan anggaran dapat dipenuhi karena pemerintah tetap harus menjaga kesehatan fiskal negara.
Baca Juga : PLN Sebut Pemadaman Listrik di Jawa Berkurang, Sistem Kelistrikan Membaik
“Kita mengambil tindakan itu bukan untuk menyusahkan ekonomi. Kita mengambil tindakan yang optimal. Menteri Keuangan itu mengambil tindakan yang optimal, bukan yang tidak optimal, sambil menjaga batasan-batasan ini karena kita dilihat oleh lembaga pemeringkat dunia bisa gak Indonesia menjaga defisitnya di bawah 3%,” kata Purbaya.
Ia menegaskan bahwa menjaga kredibilitas fiskal menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan kepercayaan investor dan lembaga pemeringkat internasional terhadap perekonomian Indonesia.
Indonesia Tetap Jaga Defisit di Tengah Tren Global
Purbaya mengatakan Indonesia tetap berkomitmen mempertahankan defisit APBN di bawah 3%, meskipun sejumlah negara lain mencatatkan tingkat defisit yang lebih tinggi.
Menurutnya, negara-negara seperti Malaysia, Vietnam, India hingga Amerika Serikat memiliki defisit fiskal yang melampaui angka tersebut.
Meski demikian, Indonesia memilih tetap konsisten menjalankan kebijakan fiskal yang prudent dan disiplin.
“Hanya kita yang disorot defisit APBN-nya. Saya juga heran. Tapi gak apa-apa kita stick pada defisit yang kita tetapkan. Kita berikan contoh,” ujarnya.
Purbaya menilai konsistensi dalam menjaga defisit menjadi bukti bahwa Indonesia mampu mengelola keuangan negara secara bertanggung jawab di tengah tantangan ekonomi global yang masih berlangsung.
Soroti Rasio Utang Negara Maju
Selain menyinggung persoalan defisit, Purbaya juga membandingkan rasio utang Indonesia dengan sejumlah negara maju.
Menurutnya, terdapat negara yang memiliki rasio utang jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia, seperti Jepang dan Amerika Serikat.
Baca Juga : Bolivia Tetapkan Keadaan Darurat, Militer Dikerahkan
Purbaya menyebut rasio utang Jepang bahkan mencapai sekitar 200% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Sementara itu, Indonesia memiliki batas rasio utang sebesar 60%, yang masih jauh lebih rendah dibandingkan sejumlah negara lain.
Kondisi tersebut membuatnya mempertanyakan mengapa Indonesia kerap menjadi sorotan terkait tingkat utang maupun defisit APBN.
Meski demikian, pemerintah tetap berkomitmen menjaga rasio utang dan defisit fiskal pada level yang aman agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga dalam jangka panjang.
