Raksasa Minyak AS Enggan Masuk ke Venezuela, Sebut Strategi Trump Utamakan Retorika
Rencana Presiden Donald Trump untuk mengambil alih minyak Venezuela demi perusahaan Amerika Serikat (AS) tampaknya akan menemui jalan buntu. Berdasarkan laporan CNN International, sejumlah perusahaan minyak raksasa asal Paman Sam justru enggan berinvestasi di negara tersebut.
Laporan ini membantah pernyataan pejabat pemerintah AS yang mengklaim bahwa semua perusahaan minyak mereka siap melakukan investasi besar dan akan melakukan “pekerjaan luar biasa untuk rakyat Venezuela”.
Sejumlah alasan mendasari keengganan pelaku industri ini, mulai dari ketidakpastian situasi lapangan, rusaknya industri minyak Venezuela, hingga sejarah penyitaan aset milik AS oleh Caracas.
Seorang sumber industri menegaskan bahwa minat untuk masuk ke Venezuela saat ini masih sangat rendah. “Kita tidak tahu seperti apa pemerintahan di sana nantinya,” ujar sumber tersebut pada Selasa (6/1/2026).
Sumber tersebut juga menyoroti adanya jurang pemisah antara ambisi politik dan realitas bisnis.
Baca Juga: Coca Cola PHK Karyawan, Ada Apa? – Economix
“Keinginan presiden berbeda dengan keinginan industri. Dan Gedung Putih akan mengetahui hal itu jika mereka berkomunikasi dengan industri sebelum operasi pada hari Sabtu,” tambahnya, merujuk pada serangan ke Venezuela yang berlangsung 3 Januari.
Meskipun Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia mencapai 330 miliar barel, para investor tetap menuntut stabilitas politik jangka panjang. Sumber industri lainnya memperingatkan bahwa besarnya cadangan tidak menjamin adanya aktivitas produksi.
“Hanya karena ada cadangan minyak bahkan yang terbesar di dunia bukan berarti Anda pasti akan memproduksinya di sana. Ini bukan seperti mendirikan usaha truk makanan,” tegasnya. Ia juga menilai bahwa pemerintahan Trump saat ini lebih mengutamakan “retorika daripada kenyataan”.
Kondisi infrastruktur yang hancur dan krisis ekonomi yang mendalam membuat Venezuela dalam keadaan lumpuh. Mantan ketua Citgo, Luisa Palacios, menyatakan secara lugas bahwa negara tersebut sedang dalam kondisi jatuh miskin.
“Venezuela bangkrut. Tidak punya uang. Perusahaan minyak nasional berantakan. Hampir tidak mampu memberi makan rakyatnya,” kata Palacios.
Berdasarkan studi Rystad Energy, dibutuhkan dana fantastis untuk memulihkan industri ini. Untuk menjaga produksi di angka 1,1 juta barel per hari saja, diperlukan investasi sekitar US$53 miliar (Rp888 triliun). Sementara untuk mengembalikan produksi ke angka 3 juta barel per hari, total modal yang dibutuhkan mencapai US$183 miliar hingga tahun 2040.
Biaya ini membengkak karena minyak Venezuela yang bertipe “berat” jauh lebih mahal untuk dimurnikan dibandingkan minyak asal Texas. Dengan harga minyak saat ini yang bahkan berada di bawah US$60, para raksasa energi AS diprediksi akan tetap menahan diri.
Baca Juga: Trump Minta Venezuela Putus Hubungan Ekonomi dengan China dan Rusia – Economix

[…] Raksasa Minyak AS Enggan Masuk ke Venezuela, Sebut Strategi Trump Utamakan Retorika […]