Laba PLN Anjlok 66% pada 2025, Ini Penyebab Utamanya
PT PLN (Persero) mencatat laba tahun berjalan sebesar Rp7,26 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut mengalami penurunan signifikan sebesar 65,8% dibandingkan laba pada 2024 yang mencapai Rp21,23 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian PLN per 31 Desember 2025 yang telah diaudit, penurunan laba terjadi meskipun perusahaan berhasil meningkatkan pendapatan sepanjang tahun lalu.
Sepanjang 2025, pendapatan PLN tercatat mencapai Rp582,68 triliun, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp545,38 triliun.
Peningkatan pendapatan tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan penjualan tenaga listrik yang mencapai Rp367,09 triliun. Pada 2024, pendapatan dari penjualan listrik tercatat sebesar Rp353,18 triliun.
Baca Juga : Kepala BGN Dicopot usai Adanya Dugaan Jual Beli Titik SPPG
Selain itu, kompensasi yang diterima dari pemerintah juga mengalami kenaikan menjadi Rp112,73 triliun, dibandingkan Rp100,18 triliun pada tahun sebelumnya.
Kenaikan kedua pos tersebut menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan pendapatan perusahaan sepanjang 2025.
Beban Usaha Meningkat Signifikan
Meski pendapatan tumbuh, beban usaha PLN mengalami kenaikan cukup besar sehingga menekan profitabilitas perusahaan.
Total beban usaha PLN pada 2025 mencapai Rp533,46 triliun, meningkat dari Rp484,76 triliun pada 2024.
Salah satu penyumbang kenaikan terbesar berasal dari biaya bahan bakar dan pelumas yang mencapai Rp198,61 triliun. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat Rp179,29 triliun.
Peningkatan biaya energi menjadi tantangan tersendiri bagi PLN mengingat kebutuhan bahan bakar masih menjadi komponen utama dalam operasional pembangkit listrik.
Biaya Pembelian Listrik dari Swasta Ikut Naik
Selain biaya bahan bakar, PLN juga mencatat kenaikan pengeluaran untuk pembelian tenaga listrik dari perusahaan swasta atau Independent Power Producer (IPP).
Sepanjang 2025, biaya pembelian listrik dari IPP mencapai Rp195,21 triliun. Angka tersebut meningkat dibandingkan 2024 yang sebesar Rp178,63 triliun.
Kenaikan biaya pembelian listrik ini turut memberikan tekanan terhadap margin keuntungan perusahaan meskipun permintaan listrik nasional terus meningkat.
Rugi Kurs Jadi Faktor Penekan Utama
Salah satu faktor terbesar yang menekan kinerja keuangan PLN pada 2025 adalah lonjakan kerugian akibat selisih kurs mata uang asing.
Perusahaan mencatat rugi kurs bersih sebesar Rp12,46 triliun sepanjang tahun lalu. Nilai tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan rugi kurs pada 2024 yang tercatat Rp6,78 triliun.
Kenaikan kerugian kurs ini menunjukkan masih tingginya eksposur PLN terhadap kewajiban dan transaksi dalam mata uang asing, terutama dolar Amerika Serikat.
Selain rugi kurs, PLN juga menghadapi peningkatan beban keuangan. Pada 2025, beban keuangan perusahaan mencapai Rp24,86 triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan Rp24,42 triliun pada tahun sebelumnya.
Kombinasi kenaikan biaya bahan bakar, pembelian listrik dari IPP, rugi kurs, dan beban keuangan membuat pertumbuhan pendapatan yang dicapai PLN belum mampu diterjemahkan menjadi peningkatan laba.
Pendapatan Tumbuh, Profitabilitas Tertekan
Secara keseluruhan, kinerja PLN pada 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan belum sepenuhnya mampu mengimbangi lonjakan berbagai biaya operasional dan finansial.
Meskipun pendapatan naik lebih dari Rp37 triliun dibandingkan tahun sebelumnya, tekanan dari beban usaha dan kerugian kurs menyebabkan laba bersih perusahaan turun tajam hingga lebih dari 65%.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi PLN untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mengelola risiko keuangan di tengah dinamika nilai tukar serta kebutuhan energi nasional yang terus meningkat.
Baca Juga : AS Desak Oman untuk Jauhi Iran, Hubungan dengan Trump Memanas

[…] Laba PLN Anjlok 66% pada 2025, Ini Penyebab Utamanya […]