Sambil Siap Berperang, Iran Pilih Jalur Diplomasi! Apa Alasannya?
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, tegaskan bahwa negaranya selalu mengutamakan jalur diplomasi, namun tetap berada dalam posisi siap menghadapi segala bentuk perang.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi dalam Kongres Nasional tentang Kebijakan Luar Negeri Republik Islam di Teheran pada hari Minggu. Pernyataan itu muncul dua hari setelah Iran dan Amerika Serikat melakukan pembicaraan nuklir secara tidak langsung di Oman. Pertemuan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan akibat retorika perang dari pihak AS terhadap Iran dalam beberapa pekan terakhir.
Iran Tempuh Diplomasi Sambil Siap Berperang, Ini 4 Alasannya
1. Tidak Ada yang Berani Melawan Iran
Araghchi menegaskan bahwa Iran merupakan negara yang menjunjung tinggi diplomasi, tetapi juga mempersiapkan diri untuk kemungkinan konflik.
Baca Juga : Danantara Berikan Dana Rp 20T untuk Proyek Hilirisasi Peternakan Ayam
Dalam pernyataannya, Iran berusaha menyeimbangkan antara diplomasi dan kekuatan militer. Diplomasi tetap menjadi pilihan utama, tetapi kesiapan perang dipertahankan agar tidak ada negara yang berani mengancam atau menyerang Iran.
Ia menambahkan bahwa prinsip utama kebijakan luar negeri Iran saat ini adalah martabat. Prinsip tersebut diwujudkan melalui upaya menjaga kemerdekaan, menolak dominasi asing, serta mempertahankan kedaulatan negara.
Menurutnya, respons Iran terhadap pihak lain akan sangat bergantung pada sikap yang mereka tunjukkan. Jika pendekatan diplomatis yang digunakan, Iran akan merespons dengan cara yang sama, begitu pula jika yang digunakan adalah bahasa kekuatan atau penghormatan.
2. Pengetahuan Tidak Bisa Dihancurkan dengan Bom
Araghchi menegaskan bahwa Iran siap memberikan penjelasan untuk menjawab berbagai keraguan mengenai program nuklirnya yang disebut bersifat damai. Menurutnya, jalur diplomasi merupakan satu-satunya cara yang efektif untuk menyelesaikan persoalan nuklir secara konstruktif.
Ia juga menyinggung bahwa upaya pihak lawan untuk melemahkan Iran melalui serangan terhadap fasilitas nuklir tidak pernah berhasil mencapai tujuan yang diinginkan. Araghchi menekankan bahwa pengetahuan dan teknologi tidak dapat dimusnahkan hanya dengan pengeboman.
Menurutnya, upaya militer tidak akan mampu menghapus kemampuan teknologi yang telah dimiliki Iran, sehingga dialog tetap menjadi opsi paling rasional.
3. Iran Melawan Intimidasi
Menteri Luar Negeri Iran menilai bahwa putaran baru pembicaraan nuklir tidak langsung dengan AS merupakan awal yang positif dan memiliki peluang untuk dilanjutkan. Ia kembali menegaskan bahwa Iran memiliki hak sah untuk mengembangkan program energi nuklir secara damai.
Araghchi meyakini bahwa kekuatan utama Republik Islam Iran bukan terletak pada senjata, melainkan pada keteguhan sikapnya dalam menghadapi intimidasi, dominasi, dan tekanan dari pihak luar.
Menurutnya, kemampuan Iran untuk tetap berdiri tegak dan menolak tunduk pada kehendak kekuatan besar dunia merupakan sumber kekuatan yang sesungguhnya. Ia menegaskan bahwa meskipun banyak pihak khawatir Iran mengembangkan bom atom, pada kenyataannya Teheran tidak mengejar senjata nuklir.
Bagi Iran, “senjata” yang paling kuat justru terletak pada keberanian untuk mengatakan tidak terhadap intervensi dan tekanan negara-negara besar. Sikap mandiri dan perlawanan terhadap dominasi itulah yang dianggap sebagai inti dari ketahanan serta kedaulatan Republik Islam Iran.
4. Ketangguhan Rakyat Iran Sudah Terbukti
Araghchi juga menyinggung serangan ilegal yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada pertengahan Juni 2025, yang menewaskan sedikitnya 1.064 orang. Ia menilai bahwa peristiwa tersebut menjadi bukti nyata ketangguhan bangsa Iran.
Araghchi menegaskan bahwa ketangguhan rakyat Iran telah teruji dalam konflik yang berlangsung selama 12 hari. Menurutnya, pada awal perang banyak pihak meremehkan Iran dan bahkan menyerukan agar negara itu menyerah tanpa syarat.
Namun, hanya dalam waktu kurang dari dua pekan, sikap tersebut berbalik arah ketika pihak lawan justru meminta gencatan senjata tanpa syarat. Hal itu, katanya, terjadi karena Iran menunjukkan keberanian dan kesiapan untuk melawan. Bagi Araghchi, perubahan sikap lawan tersebut membuktikan bahwa Iran tidak gentar menghadapi ancaman maupun tekanan militer.
Menurutnya, jika Iran tidak memberikan perlawanan, agresi tersebut akan menjadi noda dalam sejarah. Namun keteguhan rakyat Iran justru membuktikan bahwa negara tersebut tidak mudah tunduk pada tekanan.
Baca Juga : Dirut BPJS Buka Suara, Kesehatan Mahal dan BPJS Tidak Cari Untung
Pembicaraan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat yang berlangsung di tengah situasi kawasan yang kembali memanas. Di mana, AS diketahui telah mengerahkan kekuatan udara dan angkatan lautnya ke wilayah tersebut serta melontarkan ancaman serangan terhadap Iran.
Meski demikian, Araghchi menggambarkan pertemuan di Muscat sebagai “awal yang baik” dan menegaskan bahwa kedua pihak berniat melanjutkan dialog pada kesempatan berikutnya.

[…] Sambil Siap Berperang, Iran Pilih Jalur Diplomasi! Apa Alasannya? […]
[…] Sambil Siap Berperang, Iran Pilih Jalur Diplomasi! Apa Alasannya? […]