Selat Hormuz Tak Akan Dibuka Iran Sampai Blokade AS Dicabut
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir. Iran menegaskan tidak akan membuka Selat Hormuz selama blokade laut oleh Amerika Serikat (AS) masih berlangsung.
Baca Juga: Taktik atau Tekanan Balik? Iran “Jual Mahal” ke AS tentang Negosiasi
Iran Tolak Buka Selat Hormuz di Tengah Blokade
Pernyataan itu disampaikan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf di tengah situasi yang semakin memanas, termasuk insiden penyitaan kapal di jalur pelayaran strategis tersebut.
“Gencatan senjata hanya bermakna jika tidak dilanggar melalui blokade laut. Membuka kembali Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan di tengah pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata,” ujar Ghalibaf.
Sikap Iran ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata guna memberi waktu bagi perundingan damai yang dimediasi Pakistan.
Iran menyatakan menyambut baik upaya mediasi tersebut, tetapi belum memberikan tanggapan lebih lanjut terkait keputusan perpanjangan gencatan senjata.
Ketidakpastian konflik turut berdampak pada pasar energi global. Harga minyak dunia tetap tinggi sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, meskipun pasar saham AS dilaporkan menguat.
Trump menyebut pihaknya memberi waktu bagi kepemimpinan Iran yang dinilai “terpecah” untuk menyusun proposal damai. Ia juga membuka kemungkinan perundingan kembali digelar di Pakistan dalam dua hingga tiga hari ke depan.
Namun, hingga kini Iran belum mengonfirmasi keikutsertaannya, sementara Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan menunda kunjungannya ke Islamabad.
Baca Juga: Di Perairan Asia, 3 Tanker Minyak Iran Dicegat AS
Penyitaan Kapal dan Blokade Laut Perparah Situasi
Di tengah meningkatnya ketegangan, Garda Revolusi Iran mengumumkan telah menyita dua kapal yang melintasi Selat Hormuz karena dianggap melanggar aturan maritim.
Dua kapal tersebut adalah kapal kontainer MSC Francesca berbendera Panama dan Epaminondas berbendera Liberia. Kementerian Luar Negeri Panama mengonfirmasi penyitaan MSC Francesca dan menyebutnya sebagai “serangan serius terhadap keamanan maritim” serta eskalasi yang tidak perlu.
Selain itu, pemantau keamanan maritim melaporkan adanya insiden terhadap tiga kapal dagang di kawasan tersebut. Salah satu kapal bahkan dilaporkan ditembaki sekitar 15 mil laut dari Oman, yang menyebabkan kerusakan pada anjungan, meski tidak menimbulkan korban jiwa.
Di sisi lain, Angkatan Laut AS tetap menjalankan blokade terhadap kapal yang menuju maupun keluar dari pelabuhan Iran sebagai bagian dari upaya menekan ekonomi Teheran tanpa memperluas konflik terbuka.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa sejak blokade diberlakukan, puluhan kapal telah diperintahkan untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan.
“Operasi blokade pelabuhan Iran melibatkan lebih dari 10.000 tentara AS, 17 kapal perang, dan lebih dari 100 pesawat,” kata CENTCOM.
Sebagai respons atas langkah tersebut, Iran kini mewajibkan kapal yang melintas di Selat Hormuz untuk meminta izin terlebih dahulu, berbeda dari sikap sebelumnya yang sempat menjanjikan jalur aman selama masa gencatan senjata.
Kedua pihak pun saling menuduh telah melanggar kesepakatan gencatan senjata, memperlihatkan bahwa situasi di kawasan masih sangat rapuh.
Di luar Selat Hormuz, ketegangan juga meningkat di Lebanon. Meski telah ada gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hizbullah, serangan masih terjadi.
Media Lebanon melaporkan lima orang tewas akibat serangan Israel pada Rabu, termasuk dua jurnalis. Salah satu korban adalah Amal Khalil yang dilaporkan tewas di dekat wilayah perbatasan.
Sementara itu, Presiden Perancis Emmanuel Macron mengumumkan satu tentara Perancis yang sebelumnya terluka dalam serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon telah meninggal dunia.
Israel dan Lebanon dijadwalkan melanjutkan perundingan di Washington, dengan Lebanon berencana meminta perpanjangan gencatan senjata selama satu bulan serta penghentian serangan Israel.
