Trump Pastikan AS Tak Serang Iran hingga Pemilu 3 November 2026
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berjanji tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilu paruh waktu yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika perang antara AS dan Iran telah berlangsung hampir delapan bulan tanpa penyelesaian yang jelas.
Dilansir dari The Guardian, Kamis (8/10/2026), Trump mengumumkan keputusan itu melalui unggahan di platform media sosial Truth Social.
“Kami tidak akan menyerang Iran kapan pun sebelum pemilu paruh waktu yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat pada 3 November,” tulis Trump.
Dalam unggahan yang sama, Trump menegaskan bahwa pemerintahannya tetap berkomitmen mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
“IRAN TIDAK AKAN MEMILIKI SENJATA NUKLIR!” tegasnya.
Trump juga mengungkapkan bahwa Washington tengah melakukan pembicaraan dengan Teheran dan menyebut komunikasi tersebut menunjukkan perkembangan positif.
Namun, ia belum menjelaskan langkah militer yang mungkin diambil AS setelah pemilu paruh waktu berakhir.
Baca Juga: Rosan Sebut Investasi RI Tembus Rp1.010,6 Triliun
Trump Sebut Pembicaraan dengan Iran Berjalan Produktif
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menyatakan pemerintah AS sedang membahas situasi kedua negara dengan Iran.
“Kami sedang melakukan pembicaraan yang produktif dengan Republik Islam Iran,” tulis Trump.
Meski demikian, Trump menilai Iran tengah menghadapi tekanan besar akibat perang, baik dari sisi ekonomi maupun militer.
Ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai hasil pembicaraan tersebut ataupun kemungkinan tercapainya kesepakatan baru.
Pernyataan itu muncul ketika konflik yang dimulai pada akhir Februari 2026 masih berlangsung setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Sejak saat itu, kedua pihak terlibat dalam serangkaian serangan dan tindakan militer yang turut memengaruhi keamanan pelayaran di kawasan Teluk.
Selat Hormuz Jadi Pusat Konflik AS dan Iran
Selat Hormuz menjadi salah satu kawasan utama yang terdampak perang antara AS dan Iran.
Sebelum konflik dimulai pada akhir Februari 2026, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur perairan strategis tersebut.
Namun, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami gangguan besar setelah AS dan Israel menyerang Iran.
Menurut The Guardian, AS pertama kali memberlakukan blokade di Selat Hormuz pada April 2026 setelah pembicaraan di Islamabad gagal mencapai kesepakatan.
Blokade tersebut kembali diberlakukan pada Juli setelah kesepakatan penghentian pertempuran pada Juni hanya bertahan dalam waktu singkat.
Pertempuran kembali meningkat pada awal September ketika pasukan AS menyerang peluncur roket di Pulau Larak, Iran.
Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal ke arah pangkalan militer AS di Yordania dan Uni Emirat Arab.
Di tengah situasi tersebut, Trump pada Kamis mengklaim pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah mencapai jumlah besar.
“Sebanyak 22 juta barel hanya tadi malam, tanpa satu barel pun berasal dari atau menuju Iran,” kata Trump.
Namun, angka yang disampaikan Trump tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Sikap Trump soal Perang Iran Berubah Menjelang Pemilu
Pernyataan Trump mengenai penundaan serangan terhadap Iran muncul setelah ia beberapa kali mengubah pernyataan mengenai hubungan perang dengan pemilu paruh waktu.
Pada 2 September 2026, ketika AS dan Iran kembali terlibat serangan setelah jeda beberapa pekan, Trump mengatakan keputusan militernya tidak dipengaruhi pemilu.
“Saya tidak terpengaruh oleh pemilu,” kata Trump saat itu.
Ia menambahkan bahwa dirinya tidak ikut mencalonkan diri dalam pemilu tersebut, meskipun tetap ingin membantu Partai Republik.
Namun, sekitar sepekan kemudian, menjelang konvensi pemilu paruh waktu Partai Republik di Dallas, Trump memperkirakan perang kemungkinan berakhir tidak lama setelah pemungutan suara selesai.
Trump juga menuduh Iran sengaja menunda penyelesaian konflik dengan harapan perubahan komposisi kekuasaan di Kongres AS dapat memberikan ruang bagi Teheran untuk mengembangkan senjata nuklir.
Selain itu, Trump mengakui bahwa harga minyak di AS kemungkinan tidak akan turun sebelum hari pemungutan suara.
Kini, ia secara terbuka memastikan bahwa AS tidak akan menyerang Iran sebelum 3 November, tetapi belum menjelaskan apakah penundaan tersebut akan berlanjut setelah pemilu.
Baca Juga: AS Tuduh Pejabat China Suap Warga Fiji demi Perluas Pengaruh
Dukungan Publik AS terhadap Perang Iran Menurun
Perang dengan Iran juga menjadi perhatian dalam politik domestik AS menjelang pemilu paruh waktu.
Jajak pendapat Reuters/Ipsos pada akhir September menunjukkan hanya sekitar sepertiga warga AS menyetujui serangan terhadap Iran.
Sementara itu, lebih dari empat dari setiap lima responden memperkirakan konflik tersebut akan berlangsung dalam waktu panjang.
Survei yang sama juga menunjukkan penurunan dukungan terhadap Trump di kalangan pemilih Partai Republik.
Tingkat persetujuan terhadap Trump di kelompok tersebut turun dari 82 persen menjadi 73 persen dalam waktu satu pekan.
Menurut rata-rata jajak pendapat yang dihimpun analis politik Nate Silver, Partai Demokrat unggul sekitar sembilan poin persentase atas Partai Republik dalam pertanyaan mengenai pilihan partai untuk Kongres.
Selisih tersebut merupakan yang terbesar sepanjang siklus pemilu kali ini menurut data yang dikutip The Guardian.
Di tengah perkembangan tersebut, The Wall Street Journal pada September melaporkan bahwa Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah memperingatkan Trump secara tertutup mengenai potensi dampak perang.
Keduanya disebut memperingatkan bahwa konflik dengan Iran berpotensi berlangsung hingga akhir masa jabatan kepresidenan Trump.
Meski demikian, Trump kembali menegaskan bahwa Washington sedang melakukan pembicaraan produktif dengan Teheran dan tidak akan melancarkan serangan sebelum pemilu paruh waktu pada 3 November 2026.
Kebijakan militer Washington setelah tanggal tersebut masih belum dijelaskan dalam pernyataan terbarunya.
