Trump Tolak Proposal Iran, Harapan Damai Timur Tengah Kembali Memudar
Harapan tercapainya perdamaian di Timur Tengah kembali meredup setelah Presiden Donald Trump menolak proposal terbaru dari Iran terkait penghentian perang di kawasan tersebut.
Sebelumnya, Iran telah merespons proposal damai terbaru dari Amerika Serikat sambil memperingatkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam apabila kembali diserang atau jika kapal perang asing memasuki Selat Hormuz.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Minggu (10/5/2026), Trump secara terbuka menolak respons dari Teheran.
“Saya baru saja membaca respons dari apa yang disebut ‘Perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya—SAMA SEKALI TIDAK BISA DITERIMA!” tulis Trump, dikutip AFP.
Netanyahu Tegaskan Perang Belum Selesai
Di tengah negosiasi yang masih berlangsung di balik layar, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan perang belum akan berakhir sebelum uranium yang diperkaya milik Iran dipindahkan dan fasilitas nuklirnya dibongkar.
“Ini belum berakhir karena masih ada material nuklir—uranium yang diperkaya—yang harus dikeluarkan dari Iran. Masih ada lokasi pengayaan yang harus dibongkar,” kata Netanyahu dalam wawancara dengan program 60 Minutes milik CBS News.
Netanyahu juga menyebut Trump memiliki pandangan yang sama mengenai isu uranium Iran.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan menyerah meski jalur diplomasi masih dibuka.
“Kami tidak akan pernah tunduk kepada musuh, dan jika ada pembicaraan mengenai dialog atau negosiasi, itu tidak berarti menyerah atau mundur,” tulis Pezeshkian di platform X.
Media pemerintah Iran, IRIB, melaporkan bahwa respons Teheran terhadap proposal AS melalui mediator Pakistan turut menyoroti pentingnya penghentian perang di semua lini, terutama di Lebanon yang masih menjadi arena pertempuran antara Israel dan kelompok Hizbullah.
Baca Juga: Mojtaba Instruksikan Militer Lawan AS-Israel, Iran Bergerak!
Proposal AS sebelumnya disebut berfokus pada perpanjangan gencatan senjata di kawasan Teluk untuk membuka ruang negosiasi terkait konflik dan program nuklir Iran.
Kebuntuan negosiasi tersebut langsung memicu gejolak di pasar energi global dengan harga minyak Brent melonjak 2,69 persen.
Selat Hormuz Kembali Memanas
Laporan The Wall Street Journal menyebut Iran mengajukan tuntutan tambahan kepada Washington, termasuk usulan pengenceran sebagian uranium yang diperkaya dan pemindahan sisanya ke negara ketiga.
Namun Iran meminta jaminan uranium itu akan dikembalikan jika negosiasi gagal atau AS kembali keluar dari kesepakatan di masa depan.
Sejak awal perang, Iran memberlakukan blokade di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan energi dunia.
Langkah itu memicu lonjakan harga minyak dan mengguncang pasar keuangan global.
Iran juga menerapkan mekanisme pembayaran bagi kapal yang melintasi selat tersebut, meski kebijakan itu ditolak pejabat AS.
Di sisi lain, Angkatan Laut AS melakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran serta menghentikan kapal yang keluar masuk wilayah tersebut.
Inggris dan Prancis kini memimpin pembentukan koalisi internasional untuk mengamankan Selat Hormuz setelah tercapai kesepakatan damai.
Kedua negara bahkan telah mengirim kapal ke kawasan itu. Pemerintah Inggris menyebut lebih dari 40 negara akan mengikuti pertemuan menteri pertahanan pada Selasa (12/5/2026) guna membahas pemulihan jalur perdagangan melalui Selat Hormuz.
Namun Iran memperingatkan Inggris dan Prancis akan menghadapi respons cepat apabila mengerahkan armadanya ke kawasan tersebut.
“Hanya Republik Islam Iran yang dapat menciptakan keamanan di selat ini dan tidak akan membiarkan negara mana pun ikut campur dalam masalah tersebut,” tulis Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi di X.
Presiden Prancis Emmanuel Macron kemudian menegaskan negaranya tidak berniat mengirim armada perang, melainkan menjalankan misi keamanan yang dikoordinasikan dengan Iran.
Ketegangan juga eningkat setelah serangkaian serangan drone mengguncang kawasan Teluk pada Minggu.
Baca Juga: Kondisi Mojtaba Khamenei Mulai Dibuka Iran usai Serangan AS-Israel
Uni Emirat Arab mengklaim berhasil mencegat dua drone yang diluncurkan dari Iran.
Kuwait juga melaporkan adanya upaya serangan drone di wilayah udaranya.
Sementara itu, Qatar menyatakan sebuah kapal kargo yang datang dari Abu Dhabi terkena serangan drone di perairannya.
Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Namun kantor berita Fars melaporkan kapal yang diserang dekat pantai Qatar berlayar menggunakan bendera AS.
Juru bicara komisi keamanan nasional parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, memperingatkan Washington bahwa kesabaran Iran telah habis.
“Setiap serangan terhadap kapal kami akan memicu respons Iran yang kuat dan tegas terhadap kapal serta pangkalan Amerika,” katanya.
