Pezeshkian Tampilkan Foto Korban Serangan AS di PBB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menampilkan foto anak-anak sekolah yang disebut tewas dalam serangan Amerika Serikat (AS) saat berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pezeshkian menyampaikan pernyataan tersebut dalam pidatonya di New York, Amerika Serikat, Rabu (23/9/2026).
Ia menuduh AS melakukan terorisme setelah mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam perang yang melibatkan AS dan Israel.
Pezeshkian juga menunjukkan foto Khamenei yang telah meninggal sebelum kembali menegaskan bahwa Iran bukan pihak yang memulai perang.
“Presiden AS menyebut kami sebagai teroris. Padahal, kamilah yang menjadi korban terorisme,” ujar Pezeshkian di Sidang Umum PBB di New York, AS.
Delegasi AS meninggalkan ruang sidang ketika Pezeshkian mulai menyampaikan pidatonya.
Tidak ada tanggapan langsung dari delegasi AS terkait pernyataan Pezeshkian tersebut.
Baca Juga: Indonesia Tetap Impor Minyak Rusia di Tengah Ancaman Tarif AS
Pezeshkian Tampilkan Foto Anak-anak Korban Serangan
Di tengah pidatonya, Pezeshkian juga memperlihatkan sejumlah foto anak-anak yang menurut otoritas Iran tewas akibat serangan rudal di sebuah sekolah dasar di Minab dan kompleks olahraga di Lamerd pada Februari 2026.
Amerika Serikat telah membantah melakukan serangan terhadap Lamerd dan menyatakan masih menyelidiki peristiwa yang terjadi di Minab.
“Rakyat kami yang tak berdosa telah menjadi sasaran serangan pengecut dan agresi yang ditimpakan kepada negara kami. Dan kami telah membela diri dengan segenap kekuatan,” kata Pezeshkian dilansir BBC.
Sebelumnya, penyelidik PBB menyebut serangan terhadap sekolah di Minab menyebabkan banyak korban sipil, termasuk anak-anak.
Pezeshkian kemudian menegaskan bahwa Iran tidak akan bertekuk lutut setelah hampir tujuh bulan perang dengan AS dan Israel.
Meski demikian, ia mengatakan Iran tetap terbuka terhadap penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
Baca Juga: Amerika Ancam Tutup Maskapai Iran, Mahan Air Tetap Terbang
Iran Tak Akan Bertekuk Lutut terhadap AS
Pezeshkian juga menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan dirinya menghadapi pilihan besar, yakni bernegosiasi atau “memusnahkan” Iran.
Dalam pidatonya di PBB sehari sebelumnya, Trump memang mengatakan dirinya harus menentukan apakah akan mencapai kesepakatan dengan Iran atau memusnahkan Republik Islam tersebut.
Pezeshkian menyebut ancaman tersebut sebagai bentuk mentalitas perundungan.
Ia memperingatkan bahwa tekanan terhadap Iran justru akan memperkuat perlawanan rakyatnya.
“(Trump) harus tahu bahwa perlawanan rakyat Iran justru akan semakin kuat dalam menghadapi sanksi, peningkatan tekanan, dan peningkatan tindakan perundungan. Kami tidak akan pernah menundukkan kepala atau bertekuk lutut,” ujarnya.
