4 Sektor Saham yang Tersorot dalam Pidato Prabowo 14 Agustus 2026
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sejumlah agenda ekonomi dalam pidato kenegaraan pada 14 Agustus 2026.
Beberapa agenda tersebut berkaitan dengan sektor energi, transportasi, pertambangan, hingga penerbangan.
Kebijakan tersebut turut menarik perhatian pelaku pasar modal. Sejumlah emiten memiliki bisnis yang berkaitan dengan sektor yang disinggung pemerintah.
Namun, dampaknya terhadap kinerja perusahaan masih bergantung pada realisasi kebijakan.
1. Saham Sektor Pembangkit Listrik Tenaga Surya
Pemerintah berencana memperbesar kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Prabowo menargetkan pembangunan PLTS hingga mencapai kapasitas 100 gigawatt (GW).
Program tersebut diperkirakan dapat menghemat anggaran sekitar Rp73,9 triliun per tahun. Tahap awal pembangunan ditargetkan mencapai 30 GW pada 2027.
Kapasitas tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbahan bakar diesel.
Pemerintah menargetkan sekitar 13 GW pembangkit diesel dapat digantikan secara bertahap.
Sejumlah emiten memiliki eksposur terhadap bisnis energi terbarukan. Di antaranya KEEN, ADRO, MEDC, TOBA, FUTR, PTBA, dan DSSA.
Adapun eksposur setiap perusahaan terhadap PLTS berbeda-beda. Sebagian memiliki atau mengembangkan pembangkit energi terbarukan.
Sementara itu, DSSA juga masuk melalui rantai pasok industri tenaga surya. Perusahaan memiliki kapasitas produksi panel surya sekitar 1 GW per tahun.
Realisasi proyek pemerintah akan menjadi faktor penting bagi sektor tersebut. Selain itu, skema pembiayaan dan kontrak listrik juga perlu diperhatikan.
Baca Juga: Bursa Komoditas Didorong Bahlil agar Harga SDA RI Tak Diatur Negara Lain
2. Saham Sektor Motor Listrik
Motor listrik juga menjadi salah satu sektor yang mendapat perhatian pemerintah.
Pemerintah menyiapkan insentif untuk sekitar satu juta motor listrik produksi dalam negeri. Program tersebut bertujuan menekan biaya transportasi masyarakat.
Penggunaan kendaraan listrik juga diharapkan mengurangi konsumsi bahan bakar minyak. Pada akhirnya, pemerintah ingin menekan ketergantungan terhadap impor BBM.
Industri kendaraan listrik dalam negeri juga diharapkan semakin berkembang. Dalam peluncuran motor listrik ALVA, Prabowo turut menyinggung dukungan pembiayaan.
Skemanya dapat berupa uang muka rendah hingga pembiayaan dengan bunga lebih ringan. Sejumlah emiten memiliki keterkaitan dengan ekosistem motor listrik.
Beberapa di antaranya INDY, UNTD, SLIS, NFCX, TOBA, dan KRYA. Namun, manfaat insentif belum tentu dirasakan setiap perusahaan secara merata.
Dampaknya akan bergantung pada ketentuan program pemerintah. Tingkat komponen dalam negeri juga dapat menjadi faktor penting.
Selain itu, pertumbuhan permintaan masyarakat tetap perlu diperhatikan.
3. Saham Pertambangan dan Pengolahan Mineral
Prabowo juga kembali menekankan program hilirisasi sumber daya alam. Pemerintah ingin keuntungan BUMN digunakan untuk mempercepat proyek hilirisasi.
Program tersebut mencakup berbagai komoditas mineral dan energi. Salah satunya adalah pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether atau DME.
DME diproyeksikan menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi impor LPG. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menjadi salah satu perusahaan yang mengembangkan proyek tersebut.
Proyek DME direncanakan dibangun di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Target operasional proyek tersebut berada sekitar 2030.
Groundbreaking proyek dilakukan pada 29 April 2026. PTBA masih mencari mitra teknologi untuk menjalankan proyek tersebut.
Struktur investasi proyek juga masih menjadi salah satu aspek yang perlu diselesaikan. Selain batu bara, pemerintah turut mendorong hilirisasi bauksit.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memiliki eksposur terhadap pengembangan industri tersebut.
Fase pertama Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah telah diselesaikan pada 2025. Pembangunan fase kedua dimulai pada Februari 2026.
Proyek tersebut ditargetkan berkembang secara bertahap hingga 2028. Setelah fase kedua selesai, kapasitas alumina ditargetkan mencapai 2 juta ton per tahun.
Alumina tersebut akan mendukung pengembangan industri aluminium di dalam negeri.
Pemerintah juga menyiapkan pembangunan smelter aluminium di kawasan yang sama. Kapasitasnya direncanakan mencapai 600.000 ton per tahun.
Smelter tersebut ditargetkan beroperasi sekitar 2029. PTBA juga direncanakan memasok kebutuhan energi untuk kawasan tersebut.
Perusahaan menyiapkan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap. Konstruksi proyek diperkirakan mulai dilakukan pada 2027.
Realisasinya tetap bergantung pada penetapan mitra dan skema investasi.
Baca Juga: Pangkalan Suriah Digempur Iran, Turkiye Langsung Murka
4. Reaktivasi 104 Pesawat Garuda Indonesia
Sektor penerbangan juga disinggung dalam pidato tersebut. Prabowo menyebut pemerintah melakukan reaktivasi terhadap 104 pesawat Garuda Indonesia.
Pesawat tersebut sebelumnya tidak beroperasi. Reaktivasi armada dapat meningkatkan kapasitas penerbangan Garuda Indonesia.
Namun, penambahan pesawat juga membutuhkan biaya operasional yang besar. Karena itu, dampaknya terhadap kinerja keuangan perlu dilihat lebih lanjut.
Garuda Indonesia sebelumnya mencatat keuntungan pada 2021 dan 2022. Namun, kinerja tersebut turut dipengaruhi proses restrukturisasi utang.
Pada kuartal I-2026, laba operasional perusahaan meningkat sekitar 880 persen. Nilainya mencapai sekitar 49 juta dollar AS.
Meski demikian, Garuda masih mencatat rugi bersih sebesar 46,48 juta dollar AS. Beban keuangan perusahaan mencapai sekitar 104 juta dollar AS.
Garuda juga membukukan rugi selisih kurs sebesar 1,39 juta dollar AS. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, perusahaan mencatat keuntungan selisih kurs 12,83 juta dollar AS.
Kondisi tersebut menunjukkan tantangan Garuda belum sepenuhnya selesai. Efisiensi biaya dan pengelolaan utang masih menjadi faktor utama.
Kesimpulan
Pidato Prabowo memberi gambaran mengenai sejumlah sektor prioritas pemerintah. PLTS, motor listrik, hilirisasi mineral, dan penerbangan menjadi beberapa di antaranya.
Sejumlah emiten memiliki keterkaitan dengan proyek-proyek tersebut. Namun, penyebutan suatu sektor tidak otomatis meningkatkan kinerja saham perusahaan terkait.
Investor tetap perlu memperhatikan realisasi kebijakan pemerintah. Pendanaan dan jadwal pembangunan proyek juga menjadi faktor penting.
Selain itu, kondisi keuangan masing-masing perusahaan tetap harus menjadi perhatian.
Dengan demikian, dampak kebijakan perlu dilihat bersama fundamental dan perkembangan bisnis setiap emiten.
