428 Gerai Mixue Ditutup Massal, Indonesia dan Vietnam Ikut Terdampak
Jaringan minuman teh susu dan es krim asal China, Mixue Bingcheng, menutup ratusan gerainya di berbagai negara sepanjang 2025. Dua pasar utama di Asia Tenggara, yakni Indonesia dan Vietnam, menjadi wilayah yang paling terdampak dalam kebijakan efisiensi tersebut.
Berdasarkan laporan keuangan terbaru perusahaan, jumlah gerai internasional Mixue berkurang sebanyak 428 unit selama 2025. Pengurangan ini dilakukan seiring upaya perusahaan untuk merapikan sistem operasional waralaba di luar China serta mengevaluasi outlet yang dinilai kurang optimal.
Baca Juga : Green SM Disebut akan Dievaluasi Kemenhub!
“Perusahaan saat ini fokus mengoptimalkan operasional gerai-gerai yang sudah ada agar bisa berjalan stabil, berkelanjutan, dan bertahan untuk jangka panjang,” demikian disampaikan manajemen Mixue dalam laporan keuangan terbaru perusahaan, melansir VN Express.
Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan mulai mengalihkan strategi dari ekspansi agresif menuju penguatan kualitas operasional gerai yang telah beroperasi agar mampu menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan.
Indonesia dan Vietnam Jadi Pasar yang Terdampak
Perusahaan tidak membeberkan secara rinci jumlah gerai yang ditutup di Indonesia maupun Vietnam. Namun, kedua negara tersebut selama ini dikenal sebagai pasar terbesar Mixue di luar China.
Di Vietnam, jumlah gerai Mixue tercatat mencapai 1.304 unit hingga September 2024. Sementara itu, Indonesia juga termasuk salah satu negara dengan pertumbuhan gerai tercepat dalam beberapa tahun terakhir.
Di Vietnam, perusahaan tengah mempercepat transformasi model bisnis dengan mengganti konsep gerai kecil tradisional, menjadi outlet berukuran lebih besar yang berlokasi di titik strategis.
Gerai model baru dirancang memiliki area persiapan yang lebih luas, tampilan toko yang langsung menghadap jalan, serta kapasitas pelayanan yang lebih tinggi dibandingkan format sebelumnya.
Langkah penataan ulang tersebut diduga turut berdampak pada evaluasi gerai-gerai lama di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang selama ini dipenuhi outlet kecil hasil ekspansi cepat.
Ekspansi Tetap Berjalan di Pasar Baru
Meski melakukan penutupan gerai di sejumlah negara, Mixue tetap melanjutkan ekspansi bisnis di wilayah lain. Perusahaan membuka pasar baru di Amerika Serikat dan Kazakhstan, serta memasuki Malaysia dan Thailand melalui merek berbeda bernama Lucky Cup.
Secara global, Mixue masih tercatat sebagai jaringan makanan dan minuman terbesar di dunia berdasarkan jumlah toko. Hingga akhir 2025, perusahaan memiliki 59.823 gerai di seluruh dunia, dengan 55.356 di antaranya berada di wilayah China daratan.
Keberhasilan tersebut didukung oleh strategi harga terjangkau yang menjadi ciri khas perusahaan. Produk seperti lemonade, es krim, milk tea, hingga fruit tea dijual dengan harga rendah karena perusahaan mengendalikan rantai pasok secara menyeluruh, mulai dari produksi bahan baku, distribusi logistik, riset pengembangan, hingga pengawasan kualitas.
Baca Juga : Putin Siap Dukung Iran, Inginkan Perdamaian Segera!
Setelah mengalami pertumbuhan pesat di Asia Tenggara, khususnya pada segmen minuman ekonomis, perusahaan kini memasuki fase konsolidasi dengan menata ulang jaringan gerai agar tetap sehat secara bisnis.
Kinerja Keuangan Tetap Tumbuh Positif
Meskipun jumlah gerai internasional mengalami penurunan, kinerja keuangan perusahaan tetap menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Sepanjang 2025, pendapatan Mixue meningkat 35 persen menjadi 33,56 miliar yuan atau sekitar Rp84,92 triliun (dengan asumsi kurs Rp2.527 per yuan China).
Sementara itu, laba bersih perusahaan juga mengalami kenaikan sebesar 33 persen hingga mencapai 5,93 miliar yuan atau setara Rp14,98 triliun.

[…] 428 Gerai Mixue Ditutup Massal, Indonesia dan Vietnam Ikut Terdampak […]