China Bisa Jadi Contoh, Driver Ojol Punya Jam Kerja & Digaji UMR
Pemerintah China resmi menerapkan aturan baru yang memberikan perlindungan lebih bagi pekerja platform digital atau gig worker, seperti pengemudi ojek online, kurir, hingga host live streaming.
Regulasi yang dirilis oleh Komite Sentral Partai Komunis China dan Dewan Negara itu mengatur berbagai aspek ketenagakerjaan, mulai dari standar penghasilan hingga batasan jam kerja, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi kerja di sektor ekonomi digital.
Baca Juga: Proposal Terbaru Iran untuk Akhiri Perang Dikritik Trump, Apa Isinya?
Aturan Gaji dan Batas Jam Kerja
Dalam kebijakan tersebut, pemerintah mewajibkan para gig worker mendapatkan penghasilan minimal setara upah minimum lokal. Selain itu, perusahaan platform juga diwajibkan memberikan tambahan upah bagi pekerja yang tetap beroperasi pada hari libur.
Perusahaan juga harus bernegosiasi dengan serikat pekerja atau perwakilan gig worker untuk menentukan batas maksimal waktu pengambilan pesanan secara berturut-turut serta jam kerja harian.
Jika batas tersebut telah tercapai, aplikasi diwajibkan menghentikan pengiriman pesanan baru kepada pekerja. Sistem juga akan mengirimkan notifikasi sebagai pengingat agar pekerja beristirahat.
Tak hanya itu, aturan baru juga mengatur kewajiban pembuatan kontrak kerja apabila hubungan kerja memenuhi syarat. Jika tidak, perusahaan tetap harus membuat perjanjian tertulis dengan pekerja untuk memastikan kejelasan hak dan kewajiban.
Baca Juga: Kapal Tanker Iran Menumpuk di Hormuz, Tanda Blokade AS Sukses?
Risiko Sistem Kerja Platform Disorot
Kebijakan ini dinilai sebagai langkah terobosan, mengingat sistem kerja berbasis algoritma di platform digital selama ini kerap mendorong pekerja untuk meningkatkan produktivitas tanpa mempertimbangkan keselamatan.
Laporan dari majalah Renwu pada 2020 mengungkap bagaimana algoritma pada platform seperti Meituan dan Ele.me memperpendek waktu pengiriman, yang berdampak pada perilaku berisiko di jalan.
Para pengantar disebut kerap menerobos lampu lalu lintas, melawan arus, hingga berlari menaiki tangga demi memenuhi target pengiriman.
Sistem penilaian berbasis jumlah pesanan, ketepatan waktu, hingga ulasan pelanggan juga dinilai memperbesar tekanan kerja. Hal ini meningkatkan risiko kecelakaan hingga kematian di kalangan pekerja.
Data yang dikutip menunjukkan, di Shanghai, rata-rata satu pengantar mengalami luka atau meninggal setiap 2,5 hari pada paruh pertama 2017. Sementara di Chengdu, tercatat 10.000 pelanggaran lalu lintas oleh kurir dalam tujuh bulan pertama 2018, dengan 196 kecelakaan dan 155 kasus cedera atau kematian.
Kasus kelelahan kerja juga menjadi sorotan, termasuk insiden seorang pengantar makanan di Hangzhou yang ditemukan meninggal dunia setelah bekerja selama 18 jam pada September 2024.
Melalui regulasi ini, pemerintah China berupaya menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi digital dengan perlindungan terhadap keselamatan dan kesejahteraan para pekerjanya.

[…] China Bisa Jadi Contoh, Driver Ojol Punya Jam Kerja & Digaji UMR […]