AS Kirim 1.700 Tentara ke Venezuela, Ada Apa?
Amerika Serikat (AS) mengerahkan lebih dari 1.700 personel militer ke Venezuela dan kawasan Karibia untuk mendukung operasi kemanusiaan setelah gempa bumi dahsyat yang mengguncang negara tersebut pekan lalu.
Langkah ini menjadi perubahan besar dalam hubungan Washington dan Caracas, hanya beberapa bulan setelah militer AS melancarkan operasi untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Komandan Komando Selatan Amerika Serikat (U.S. Southern Command/SOUTHCOM), Jenderal Francis Donovan, mengatakan militer AS menempatkan lebih dari 900 personel di Venezuela. Sementara itu, sekitar 800 personel lainnya disiagakan di pusat logistik di Puerto Rico dan Curacao guna mendukung distribusi bantuan.
Baca Juga : Trump Disebut Raup Keuntungan dari Kripto Selama Setahun
Menurut Donovan, pasukan AS turut membantu operasi pencarian dan penyelamatan korban, memulihkan operasional bandara, serta mengerahkan aset udara dan laut agar bantuan internasional dapat segera menjangkau wilayah terdampak.
Selain itu, militer AS mengoperasikan sedikitnya empat hingga lima drone MQ-9 Reaper di atas wilayah Venezuela. Drone tersebut, bersama pusat penggabungan intelijen di Miami, dimanfaatkan untuk membantu otoritas Venezuela memetakan kondisi di lapangan.
“Kami menggunakan sebagian aset yang sama yang biasanya dipakai untuk melacak ancaman di kawasan. Kini aset tersebut digunakan untuk memastikan jalan-jalan tetap terbuka dan mengetahui lokasi bangunan-bangunan yang rusak,” kata Donovan, dilansir Reuters, Rabu (1/7/2026).
Ia menambahkan bahwa teknologi tersebut membantu memperoleh informasi yang sulit didapat hanya melalui pengamatan langsung di lokasi bencana.
Hubungan AS-Venezuela Berubah Drastis
Keterlibatan militer AS dalam operasi kemanusiaan ini menjadi kontras dengan hubungan kedua negara beberapa bulan terakhir.
Donovan mengingatkan bahwa pada 3 Januari lalu, militer AS justru melancarkan operasi untuk menangkap Presiden Nicolas Maduro dan membawanya ke New York guna menghadapi tuduhan perdagangan narkoba. Maduro membantah seluruh tuduhan tersebut.
Dalam sebulan terakhir, militer AS juga melaksanakan operasi yang menewaskan pemimpin geng kriminal Venezuela, Tren de Aragua, yang menurut Donovan dilakukan melalui koordinasi dengan otoritas Venezuela.
“Tanggal 3 Januari itu belum lama berlalu. Coba lihat saja bagaimana hubungan ini telah berubah,” kata Donovan.
Sebelumnya, Venezuela diguncang dua gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang terjadi hanya dalam selang waktu kurang dari satu menit pada Rabu pekan lalu.
Bencana tersebut merobohkan banyak bangunan dan menyebabkan ribuan warga terjebak di bawah reruntuhan.
Ketua Parlemen Venezuela Jorge Rodriguez mengatakan hingga hari keenam operasi penyelamatan, baru satu korban selamat, yakni seorang anak berusia tiga tahun, yang berhasil dievakuasi dari reruntuhan.
Meski demikian, operasi pencarian masih terus dilakukan.
Donovan menjelaskan personel Korps Marinir menjadi pasukan AS pertama yang tiba di lokasi untuk membantu tim penyelamat mengevakuasi korban dari puing-puing bangunan.
Baca Juga : AS-Iran Dikejar Tenggat Damai, Negosiasi Masih Menggantung
Militer AS juga menerbangkan warga sipil, termasuk tim penyelamat dari Fairfax, Virginia, yang pada akhir pekan lalu berhasil menyelamatkan seorang ibu bersama bayi berusia sembilan bulan.
Menurut Donovan, sebagian besar operasi militer AS saat ini difokuskan pada dukungan logistik agar bantuan internasional tidak menumpuk di titik masuk dan dapat segera didistribusikan ke daerah yang paling membutuhkan.
“Karena di situlah operasi seperti ini kadang bisa bermasalah. Terlalu banyak bantuan masuk, tetapi tidak ada dukungan logistik yang memadai untuk menyalurkannya ke wilayah yang terdampak,” katanya.
Ia menegaskan keberhasilan operasi kemanusiaan sangat bergantung pada kemampuan mendistribusikan bantuan secara cepat dan efektif kepada masyarakat yang terdampak gempa.
