Trump Frustrasi, Pejabat AS Belum Sepakat Strategi Hadapi Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan semakin frustrasi karena para pejabat senior dan sekutunya belum mencapai kesepakatan mengenai strategi menghadapi Iran.
Laporan NBC News, yang mengutip sejumlah sumber pemerintah AS, menyebut emosi Trump memuncak dalam beberapa pertemuan dengan jajaran keamanan nasional.
Dua sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan Trump meluapkan kemarahannya kepada para pejabat.
“Dan berteriak dengan kata-kata kasar,” kata salah satu sumber, seperti dikutip NBC News, Jumat (31/7/2026).
Baca Juga: Tarif Kapal di Laut Merah Dipertimbangkan Houthi, Minyak Terancam
Menurut sumber tersebut, frustrasi Trump dipicu oleh belum adanya kesepakatan mengenai tujuan utama operasi militer terhadap Iran. Perdebatan mencakup isu ancaman nuklir, keamanan Selat Hormuz, hingga program rudal dan drone Iran.
“Presiden sangat kesal,” kata seorang sekutu Trump.
“Saya rasa dia tidak percaya akan sesulit ini untuk membuat Iran menyetujui kesepakatan,” lanjut dia.
Sumber yang sama menambahkan, “Tidak ada strategi nyata tentang berapa lama atau apa yang harus mereka lakukan untuk mencapai titik akhir.”
Konflik antara AS dan Iran meningkat sejak pecahnya perang pada 28 Februari. Saat itu, AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan menyerang Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Baca Juga: Dibongkar Amran, Beras Premium Abal-abal Rugikan Konsumen Rp98 T
Pada Rabu (29/7/2026), Trump juga memberi sinyal akan meningkatkan tekanan militer setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke pangkalan AS di Yordania.
“Kita akan menyerang mereka dengan keras. Mereka akan dihajar habis-habisan,” kata koresponden Fox News, menirukan ucapan Trump.
Peningkatan tensi ini terjadi setelah sebelumnya Trump beberapa kali menyatakan masih membuka peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Sementara itu, militer AS menyatakan telah menyelesaikan gelombang serangan terbaru ke Iran pada Kamis (30/7/2026).
Operasi yang berlangsung sekitar dua jam tersebut disebut menghantam puluhan target.
Washington menyatakan serangan itu merupakan respons atas serangan rudal Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah sehari sebelumnya.
