Iran Kehilangan Kendali Selat Hormuz, Kapal Pilih Oman
Iran disebut mulai kehilangan sebagian kendalinya atas Selat Hormuz di tengah perang dengan Amerika Serikat (AS). Data terbarunya menunjukkan semakin banyak kapal tanker yang memilih jalur pelayaran di sisi Oman, meski sebelumnya mendapat tekanan dari Teheran.
Perusahaan analisis pelayaran Kpler mencatat lebih dari 80% kapal yang melintasi Selat Hormuz dalam dua pekan terakhir memilih rute Oman. Jalur tersebut merupakan rute pelayaran resmi yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tetapi selama ini ditentang Iran.
“Semakin tampaknya Iran setidaknya telah kehilangan sebagian kendali atas selat tersebut,” kata Kepala Analisis Minyak Mentah Kpler, Homayoun Falakshahi, seperti dikutip CNN International, Rabu (19/8/2026).
Baca Juga : Rusia Beri Peringatan ke Inggris soal Dukungan Senjata ke Ukraina
Perubahan pola pelayaran itu cukup signifikan. Sebulan sebelumnya, hampir tidak ada kapal yang menggunakan rute Oman. Kini, para operator kapal mulai memilih jalur tersebut dengan mengandalkan perlindungan dari Angkatan Laut AS.
Kapal Tanker Mulai Pilih Rute Oman
Perubahan jalur pelayaran membuat Iran semakin kesulitan mempertahankan pengaruhnya terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Teheran sebelumnya berupaya memberlakukan biaya tol bagi kapal yang melintas di kawasan tersebut.
Pendiri sekaligus Kepala Investasi Pickering Energy Partners, Dan Pickering, menilai operator kapal memiliki alasan kuat untuk memilih rute Oman dibandingkan memenuhi tuntutan Iran.
“Permintaan Iran untuk mengumpulkan tol adalah sesuatu yang kebanyakan orang Timur Tengah tidak mau lakukan dan belum lakukan,” ujarnya.
Kondisi tersebut juga mendorong sejumlah negara Teluk mencari cara untuk tetap mengirimkan minyak. Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) disebut menyewa kapal tanker Very Large Crude Carrier (VLCC) untuk mengangkut minyak keluar dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz.
Presiden Lipow Oil Associates Andy Lipow mengatakan minyak tersebut kemudian dipindahkan ke kapal tanker milik pelanggan di luar area berbahaya di Teluk Oman. Strategi tersebut dilakukan untuk menekan risiko serangan Iran.
Selain itu, sejumlah kapal memilih mematikan sistem transponder selama berminggu-minggu untuk menghindari deteksi. Kondisi ini menciptakan apa yang dikenal sebagai “lalu lintas gelap” di kawasan Selat Hormuz.
Trump Klaim AS Punya Kendali Penuh
Di tengah perubahan pola pelayaran tersebut, AS menyatakan masih mampu memantau aktivitas kapal dan arus pengiriman minyak di kawasan.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan total volume minyak yang melewati Selat Hormuz dan sejumlah jalur alternatif mencapai sekitar 15 juta barel per hari dalam sepekan terakhir.
Angka itu memang mendekati rata-rata sekitar 20 juta barel per hari sebelum perang. Berdasarkan kondisi tersebut, Presiden AS Donald Trump pada Senin mengklaim Washington memiliki kontrol penuh atas Selat Hormuz.
Baca Juga : Israel Serang Pangkalan Suriah,Turkiye Ngamuk
Namun, klaim itu dinilai terlalu jauh. Iran masih memiliki kemampuan untuk menyerang kapal dan mengganggu aktivitas pelayaran di kawasan strategis tersebut.
“Jika tujuan mereka adalah ‘bertanggung jawab’, maka saya akan mengatakan bahwa mereka tidak pernah sepenuhnya memegang kendali untuk memulai,” kata Pickering.
Artinya, meskipun kapal tanker kini semakin banyak menggunakan rute Oman dan AS mampu memberikan perlindungan terhadap sebagian lalu lintas, Iran belum sepenuhnya kehilangan kemampuan untuk mengganggu jalur pelayaran.
Sementara itu, Oman dan Iran tengah melakukan pembicaraan untuk memulihkan kebebasan navigasi tanpa melibatkan AS. Jika kesepakatan tercapai, kondisi tersebut berpotensi kembali mengubah pola pelayaran sekaligus keseimbangan pengaruh di Selat Hormuz.
