Pezeshkian Minta Perang Iran-AS Diakhiri, Trump Ancam Sanksi
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyerukan agar perang yang telah berlangsung selama berbulan-bulan dengan Amerika Serikat (AS) segera diakhiri. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan para dokter pada Jumat (21/8/2026).
Pezeshkian menilai Iran berada dalam posisi yang kuat dan bermartabat sehingga perang sebaiknya dihentikan melalui jalur diplomasi. Ia juga mengeklaim bahwa dunia internasional mengakui posisi Iran dalam konflik tersebut.
“Lebih baik kita mengakhiri perang ini sekarang karena kita berada dalam posisi yang kuat dan bermartabat,” ujar Pezeshkian, dikutip dari Al Jazeera.
“Seluruh dunia mengakui kemenangan kita dan menekankan bahwa AS telah menyerang sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur kita dengan melanggar semua peraturan dan dibenci di seluruh dunia,” lanjutnya.
Baca Juga : Korsel Uji Rute Arktik ke Eropa, Rusia Jadi Sorotan
Pernyataan tersebut muncul ketika upaya diplomatik antara Teheran dan Washington masih menghadapi kebuntuan. Meski demikian, Pezeshkian menilai Iran memiliki posisi tawar yang cukup kuat untuk mendorong berakhirnya konflik.
Pezeshkian Bela Nota Kesepahaman dengan AS
Pezeshkian juga memberikan pembelaan terhadap nota kesepahaman yang sebelumnya disepakati Iran dan AS.
Kesepakatan tersebut menuai kritik dari kelompok garis keras di parlemen Iran. Mereka menilai pemerintah telah memberikan sejumlah konsesi kepada Washington melalui kesepakatan tersebut.
Pezeshkian membantah tudingan itu dan mengatakan tidak ada klausul dalam kesepakatan yang menunjukkan Iran menyerah kepada AS.
“Mereka bahkan tidak dapat menemukan satu pun klausul dalam perjanjian ini yang menunjukkan penyerahan diri. Semua komitmen menyangkut pihak lain,” katanya.
Namun, berakhirnya masa berlaku nota kesepahaman tidak membuat Iran mengendurkan kesiapan militernya. Pimpinan militer Iran justru kembali memperingatkan bahwa negaranya siap menghadapi ancaman baru.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Ali Abdollahi mengatakan seluruh matra militer Iran berada dalam kondisi siap menghadapi potensi serangan.
“Dengan kesiapan di darat, laut, udara, pertahanan udara, dan dunia maya, angkatan bersenjata Iran akan menanggapi ancaman baru musuh dengan respons yang menghancurkan, menghukum, dan dahsyat,” jelas Abdollahi.
Iran dan Oman Bahas Selat Hormuz
Di tengah kebuntuan diplomasi Iran-AS, Teheran juga masih melakukan pembicaraan dengan Oman terkait kondisi di Selat Hormuz.
Kantor berita pemerintah Oman melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Oman dan Iran melakukan pembicaraan melalui telepon pada Jumat (21/8/2026). Keduanya membahas upaya menciptakan kondisi yang memungkinkan dialog dan negosiasi kembali dilanjutkan.
Mereka juga membicarakan perkembangan yang berdampak terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Teheran disebut masih menutup sebagian jalur strategis tersebut, sementara Washington melakukan langkah balasan melalui operasi angkatan laut. Sejumlah laporan media AS menyebut angkatan laut AS telah mengatur sekaligus melindungi konvoi tanker melalui bagian selatan Selat Hormuz.
Langkah tersebut memungkinkan aktivitas ekspor minyak tetap berlangsung dengan volume sekitar 5 juta hingga 10 juta barel per hari.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump meragukan kesediaan Iran untuk benar-benar mencapai kesepakatan.
“Kami memiliki kendali penuh atas seluruh wilayah yang berhubungan dengan Selat Hormuz, dan itu berarti jauh ke dalamnya, termasuk wilayah daratan,” kata Trump.
“Jadi, mereka ingin sekali membuat kesepakatan, tetapi menurut pendapat saya, mereka belum siap untuk membuat kesepakatan yang tepat,” tambahnya.
Trump juga memperingatkan negara-negara lain mengenai konsekuensi ekonomi jika memberikan bantuan kepada Iran.
AS Siapkan Sanksi Ekonomi terhadap Iran
Pernyataan Trump muncul ketika Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan bahwa Washington akan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran melalui kampanye sanksi.
Baca Juga : Trump Dijadwalkan Bertemu Kim Jong Un, Ada Apa?
Bessent dijadwalkan menggelar konferensi pers di Departemen Keuangan AS pada Senin (24/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia diperkirakan akan menjelaskan lebih lanjut mengenai sanksi yang akan diberlakukan terhadap Iran.
Kebijakan ini menandai pergeseran pendekatan pemerintahan Trump dari tekanan militer menuju tekanan ekonomi ketika perang telah mendekati enam bulan.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam rencana tersebut dan menuduh Washington menjalankan apa yang mereka sebut sebagai “terorisme ekonomi”.
China juga menyampaikan kritik terhadap kebijakan AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menilai sanksi dan tekanan ekonomi tidak akan membantu menyelesaikan konflik.
Beijing pun mendesak seluruh pihak mengambil langkah bertanggung jawab serta mengutamakan penyelesaian masalah melalui jalur politik dan diplomatik.

[…] Pezeshkian Minta Perang Iran-AS Diakhiri, Trump Ancam Sanksi […]