Iran Tantang Sanksi Baru AS, Teheran Sebut Washington Putus Asa
Iran menegaskan tidak gentar menghadapi ancaman paket sanksi baru yang disiapkan Amerika Serikat (AS). Teheran bahkan menilai kebijakan tersebut menunjukkan Washington mulai kehabisan cara setelah hampir enam bulan konflik berlangsung.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan rencana sanksi baru pemerintahan Presiden Donald Trump hanya mengulang strategi tekanan yang sebelumnya dinilai tidak berhasil memaksa Iran menyerah.
Pernyataan tersebut disampaikan Araqchi melalui video yang diunggah di Telegram pada Minggu. Ia menilai perubahan pendekatan AS dari operasi militer menuju tekanan ekonomi menunjukkan Washington tidak memiliki strategi baru dalam menghadapi Teheran.
“Fakta bahwa mereka (para pemimpin AS) telah beralih dari operasi militer … untuk mengangkat kembali rencana-rencana lama yang sama menunjukkan bahwa mereka putus asa,” kata Araqchi, sebagaimana dikutip Reuters.
Baca Juga : Negara Tetangga Diancam Iran Jika Ikut Perang Ekonomi AS
Araqchi juga meminta Washington menggunakan pendekatan yang lebih menghormati Iran jika ingin menemukan solusi atas konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan tersebut.
“Kami tidak pernah takut. Semua tindakan mereka baik blokade maupun langkah-langkah militer lain yang telah mereka lakukan telah gagal, dan masalah baru mereka ini juga akan gagal,” tegas Araqchi.
AS Siapkan Sanksi Terberat untuk Iran
Di tengah pernyataan keras Teheran, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan menggelar konferensi pers pada Senin (24/8/2026) siang waktu setempat.
Bessent sebelumnya memperingatkan bahwa Washington sedang menyiapkan apa yang disebut sebagai “sanksi terberat dalam sejarah” terhadap Iran.
Ancaman tersebut datang ketika kondisi perekonomian Iran sudah berada di bawah tekanan akibat berbagai sanksi internasional. Infrastruktur negara itu juga berulang kali menjadi sasaran serangan.
Ribuan orang dilaporkan tewas dalam serangkaian serangan udara terhadap Iran sejak AS dan Israel memulai operasi militer pada 28 Februari.
Meski berada dalam tekanan ekonomi dan militer, pemerintah Iran tetap mempertahankan sikap konfrontatif terhadap Washington.
Iran Pertahankan Tekanan di Selat Hormuz
Salah satu sumber tekanan Iran terhadap lawan-lawannya berada di Selat Hormuz. Selama hampir enam bulan konflik, lalu lintas pelayaran di jalur strategis tersebut disebut nyaris terhenti.
Iran menolak memberikan izin kepada kapal tanker minyak tertentu untuk melintasi Selat Hormuz. Situasi tersebut berpotensi memberikan dampak besar terhadap pasar energi global karena jalur tersebut merupakan salah satu rute penting perdagangan minyak dunia.
Presiden Donald Trump sebelumnya juga memperingatkan negara-negara lain mengenai konsekuensi ekonomi apabila memberikan “segala jenis bantuan” kepada Iran.
Washington bahkan berupaya mendapatkan dukungan China untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran.
China menjadi salah satu faktor penting karena negara tersebut membeli lebih dari 80 persen minyak Iran yang dikirim melalui jalur laut, berdasarkan data perusahaan analitik Kpler pada 2025.
Namun, Beijing sejauh ini menyerukan agar konflik diselesaikan melalui jalur diplomasi dan negosiasi.
Iran Klaim Dapat Dukungan Negara Tetangga
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengungkapkan bahwa Teheran telah menerima sejumlah pesan dari negara-negara tetangga.
Baca Juga : Suriah Kembali Diserang Israel, AS-Turkiye Murka
Pesan tersebut, menurut Qalibaf, berkaitan dengan kemungkinan membangun pengaturan keamanan regional sekaligus memperkuat kerja sama ekonomi. Ia tidak menyebutkan negara mana saja yang telah mengirimkan pesan tersebut.
Qalibaf juga menuduh AS justru membahayakan keamanan sekutunya sendiri di kawasan demi melindungi kepentingan Israel.
Menurutnya, kawasan Timur Tengah membutuhkan tatanan keamanan yang lebih mandiri. Ia meyakini sistem regional yang “dibangun sendiri” dapat menjadi dasar untuk menciptakan perdamaian dan keamanan tanpa terlalu bergantung pada kekuatan eksternal.
Sikap Iran tersebut menunjukkan bahwa ancaman sanksi baru Washington belum membuat Teheran mengubah posisinya. Sebaliknya, kedua negara masih berada dalam situasi saling menekan, baik melalui kekuatan militer, sanksi ekonomi, maupun perebutan pengaruh di kawasan.
