Iran Ancam Negara Tetangga yang Ikut Perang Ekonomi AS
Iran memperingatkan negara-negara tetangganya agar tidak bergabung dalam tekanan ekonomi yang dijalankan Amerika Serikat (AS). Teheran bahkan mengancam akan menganggap negara yang ikut dalam kebijakan tersebut sebagai musuh.
Peringatan itu disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei. Ia menyampaikannya dalam wawancara dengan televisi pemerintah IRIB, Sabtu (22/8/2026).
“Kami memberi tahu semua negara tetangga untuk tidak bergabung dalam perang ekonomi AS. Jika tidak, kami akan menganggap mereka sebagai musuh,” ungkap Rezaei kepada IRIB, dilansir dari Al Jazeera.
Pernyataan tersebut muncul setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran.
Washington juga mengancam akan memberikan konsekuensi kepada negara yang tetap membantu Teheran.
Baca Juga: Dua Menteri Dikirim China ke RI, Ada Apa dengan LCS?
Iran Siapkan Tiga Tahap Hadapi Tekanan AS
Rezaei menjelaskan bahwa Iran akan menjalankan strategi regional dalam tiga tahap. Langkah pertama dilakukan melalui negosiasi untuk meredakan ketegangan dengan negara-negara tetangga.
“Pertama-tama kita bernegosiasi. Kemudian, kita mencoba memisahkan mereka dari AS dengan bahasa yang ramah, karena kita sebenarnya tidak ingin memperluas perang,” jelas Rezaei.
Jika negara tersebut tetap berpihak kepada Washington, Iran akan memberikan kesempatan untuk mempertimbangkan kembali posisinya.
Namun, Teheran mengisyaratkan akan mengambil tindakan apabila pendekatan diplomatik gagal.
“Tetapi pada tahap ketiga, kami pasti akan bertindak,” ujar dia.
Rezaei juga menegaskan bahwa tekanan ekonomi AS tidak akan mudah memecah masyarakat Iran.
Menurut dia, Washington berharap tekanan ekonomi dapat memicu gejolak di dalam negeri.
“Mereka berharap, jika memungkinkan,dapat memecah persatuan kita dengan tekanan ekonomi dan sekelompok demonstran akan turun ke jalan. Dengan cara tertentu, mereka akan membantu pesawat tempur F-35 Amerika,” terang dia.
Selain itu, Iran memperingatkan kemungkinan menargetkan jalur pengiriman minyak alternatif di kawasan Teluk.
Langkah tersebut dapat ditempuh apabila negara-negara regional ikut mendukung tekanan ekonomi AS.
Baca Juga: Erdogan Kena Ultimatum Israel, Turkiye Dilarang Masuk Suriah?
Trump Ancam Negara yang Membantu Iran
Trump sebelumnya mengumumkan rencana melakukan “operasi ekonomi paling menghancurkan” terhadap Iran pada Rabu (19/8/2026).
Tekanan tersebut berlangsung di tengah konflik antara AS dan Israel dengan Iran yang telah berjalan sejak 28 Februari 2026.
Setelah pengumuman itu, Trump juga mengancam negara yang masih memberikan bantuan kepada Teheran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent kemudian mengulangi sikap Washington pada hari berikutnya.
“Anda bersama kami atau melawan kami,” tegas Bessent.
Sementara itu, negosiasi untuk menghentikan konflik masih mengalami kebuntuan.
Nota kesepahaman pada 17 Juni yang menyerukan penghentian operasi militer secara permanen juga gagal menghasilkan kesepakatan.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama perselisihan antara kedua negara.
Iran sebelumnya menutup lalu lintas melalui jalur tersebut pada awal perang, sehingga memicu lonjakan harga sejumlah komoditas seperti minyak dan pupuk.
Kondisi itu mendorong negara-negara Timur Tengah mencari jalur ekspor alternatif.
Sebelumnya, banyak negara di kawasan bergantung pada Selat Hormuz untuk mengirimkan komoditas energi ke pasar global.
Kementerian Luar Negeri Iran juga mengecam rencana tekanan baru dari AS.
Teheran menilai kebijakan itu sebagai bentuk penerapan kekuasaan AS di luar wilayah hukumnya terhadap negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran juga dilaporkan mempertimbangkan perluasan target di luar Timur Tengah.
Sejumlah laporan menyebut sekutu AS di Eropa yang mendukung operasi Washington berpotensi ikut masuk dalam perhitungan Teheran.
