AS Kerahkan Kapal Induk ke Timur Tengah, Iran Siaga
Amerika Serikat (AS) bersiap memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan kapal induk USS Theodore Roosevelt. Kapal perang tersebut diproyeksikan bertugas di kawasan konflik selama sedikitnya tujuh bulan.
Dilansir The Independent, Kamis (27/8/2026), USS Theodore Roosevelt akan menggantikan posisi USS George Washington yang sebelumnya telah ditempatkan di kawasan tersebut. Pengerahan ini dilakukan ketika ketegangan AS-Iran masih tinggi dan belum terlihat tanda-tanda konflik segera berakhir.
Baca Juga : Laba Industri China Anjlok, Ekonomi Mulai Kehilangan Momentum
Langkah Washington tersebut juga berlangsung setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa perang melawan Iran akan terus dilanjutkan selama dianggap perlu. Trump bahkan menyatakan tidak menetapkan batas waktu untuk kembali membuka pembicaraan damai dengan Teheran.
Trump Klaim AS Menang, Iran Disebut Alami Krisis Ekonomi
Menjelang enam bulan sejak konflik pecah, Trump kembali menyampaikan klaim bahwa AS berada dalam posisi unggul. Ia juga menyebut perekonomian Iran sedang mengalami tekanan berat akibat perang dan berbagai kebijakan yang diterapkan Washington.
Trump menegaskan bahwa dirinya tidak terburu-buru untuk kembali ke meja perundingan dengan Iran. Pemerintah AS, menurutnya, siap mengambil langkah apa pun yang dianggap diperlukan untuk menghadapi situasi di Timur Tengah.
Pengerahan USS Theodore Roosevelt menjadi salah satu indikasi bahwa Washington masih mempersiapkan kemampuan militernya di kawasan. Kehadiran kapal induk tersebut dapat memberikan tambahan kapasitas operasi udara dan dukungan bagi pasukan AS di tengah meningkatnya ketegangan dengan Teheran.
Iran Klaim Sistem Senjatanya Kembali Pulih
Di tengah penguatan militer AS, Iran menyatakan telah memulihkan sistem persenjataannya yang mengalami kerusakan akibat serangan AS dan Israel.
Juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia mengatakan proses rekonstruksi telah dilakukan di berbagai cabang militer. Teheran juga mengklaim memperoleh sejumlah sistem persenjataan baru dari industri pertahanan dalam negeri maupun melalui impor.
“Sistem di semua cabang militer, termasuk yang rusak, telah dibangun kembali, dan sistem baru juga telah diimpor,” kata Akraminia, menurut televisi pemerintah, dikutip dari Ahram.
Ia menambahkan bahwa sejumlah peralatan baru tersebut telah meningkatkan kemampuan tempur militer Iran.
“Kami mengambil langkah-langkah serius di bidang rekonstruksi dan penempatan kembali sistem yang telah rusak akibat serangan musuh,” ujarnya.
Pernyataan Iran tersebut sejalan dengan penilaian intelijen AS pada Mei yang menyebut Teheran telah memulihkan akses operasional ke sebagian besar fasilitas misilnya di sepanjang Selat Hormuz.
Baca Juga : NATO Cemas, AS Mulai Tinjau Ulang Pasukan di Eropa
Temuan tersebut menjadi perhatian Washington karena menunjukkan bahwa kemampuan militer Iran belum sepenuhnya hilang. Infrastruktur pertahanan Teheran juga dinilai masih mampu memberikan ancaman terhadap kapal perang AS maupun lalu lintas komersial di salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia itu.
Akraminia turut membela tindakan militer Iran dengan menyebut serangan pendahuluan dapat dianggap sah berdasarkan hukum internasional dan Piagam PBB apabila memenuhi prinsip kebutuhan serta proporsionalitas.
“Serangan pendahuluan, berdasarkan hukum internasional dan Piagam, adalah tindakan yang sah, tentu saja, bila disertai dengan prinsip proporsionalitas dan kebutuhan,” lanjutnya.
Dengan AS menambah kekuatan militernya dan Iran mengklaim telah memulihkan kemampuan tempurnya, ketegangan di Timur Tengah masih berpotensi meningkat. Kondisi tersebut juga membuat Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling rawan dalam konflik AS-Iran.
