Trump Usulkan Nama Selat Hormuz Jadi “Selat Trump”, Klaim AS Kuasai Jalur Strategis
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengusulkan perubahan nama Selat Hormuz menjadi “Selat Trump” setelah menyatakan Washington kini menguasai jalur perairan strategis tersebut.
Usulan itu disampaikan Trump melalui unggahan di platform Truth Social pada Rabu (2/9/2026). Ia mempertanyakan apakah nama Selat Hormuz perlu diganti setelah AS mengambil kendali atas kawasan tersebut.
“Sekarang setelah kita menguasainya di bawah kendali AS, haruskah kita mengubah nama Selat Hormuz menjadi SELAT TRUMP???” tulis Trump seperti dikutip AFP.
Trump kemudian mengatakan nama tersebut akan membuat kawasan itu terdengar lebih “keren”.
Baca Juga: Penerima Jadi 200.000 Orang, PBB Pangkas Bantuan Pangan Palestina
Gedung Putih juga ikut mengunggah peta kawasan Teluk dengan menggunakan nama “Trump Strait” untuk menggantikan Selat Hormuz. Unggahan tersebut disertai komentar bahwa nama tersebut terdengar bagus.
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump memang beberapa kali menyatakan keinginannya untuk mengambil kendali atas jalur perairan yang menjadi salah satu rute perdagangan energi terbesar dunia tersebut.
Namun, ketika ditanya wartawan AFP di Ruang Oval mengenai keseriusan usulan tersebut, Trump mengatakan ide itu hanya disampaikan secara spontan.
“Itu hanya dilontarkan begitu saja,” kata Trump.
Meski demikian, sejumlah usulan perubahan nama geografis yang sebelumnya dianggap sebagai candaan Trump pernah benar-benar diwujudkan.
Pekan lalu, Trump menandatangani perintah untuk mengganti nama Danau Ontario menjadi Danau Amerika di tengah ketegangan perdagangan dengan Kanada.
Sebelumnya, Trump juga mengganti nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika pada Januari 2025 saat kembali menjabat sebagai presiden AS. Namun, perubahan tersebut tidak diakui oleh Meksiko maupun Kanada.
Selain wilayah geografis, Trump juga melakukan sejumlah perubahan nama yang berkaitan dengan dirinya. Salah satunya adalah pusat seni Kennedy Center di Washington.
Pada Rabu, Departemen Keuangan AS juga menerbitkan koin 1 dollar bergambar wajah Trump untuk memperingati 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat.
Konflik AS-Iran Kembali Memanas di Sekitar Selat Hormuz
Di balik wacana perubahan nama Selat Hormuz, ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat setelah beberapa pekan relatif mereda.
Pasukan AS melancarkan serangan baru di sekitar Selat Hormuz pada Selasa. Trump mengatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas dugaan upaya Iran memasang ranjau di jalur perairan strategis tersebut.
Sementara itu, Iran menuduh serangan AS menyebabkan empat orang tewas dalam sebuah acara pernikahan di wilayahnya. Teheran mengecam serangan tersebut sebagai tindakan yang melanggar hukum perang.
Sebagai balasan, Iran kemudian melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer AS di Yordania, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Bahrain, dan Irak.
Konflik tersebut juga berdampak terhadap kondisi ekonomi Amerika Serikat. Harga bahan bakar di AS meningkat akibat ketegangan di Timur Tengah, sementara Partai Republik menghadapi risiko kehilangan sebagian kendali atas Kongres dalam pemilu sela November mendatang.
Baca Juga: Setoran Laba Danantara Rp120 T ke APBN Belum Pasti, Ini Penjelasannya
Iran sendiri secara efektif menutup Selat Hormuz sebagai bentuk respons terhadap perang yang dilancarkan AS bersama Israel terhadap Teheran sejak akhir Februari.
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia karena menjadi rute utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk.
Menanggapi eskalasi tersebut, Trump mengatakan AS masih siap melakukan serangan lanjutan terhadap Iran.
“Itu adalah serangan yang sangat berat tadi malam, dan kami siap melakukan serangan lainnya kapan pun kami mau,” kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval.
Namun, Trump menyebut operasi militer terbaru tersebut tidak akan berlangsung dalam waktu yang panjang.
